6 Tanda Halus Demensia Dini, Waspada di Usia Paruh Baya!

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 17 Desember 2025, 16:55 WIB

ringkasan

  • Penelitian UCL mengidentifikasi enam gejala depresi spesifik di usia paruh baya, termasuk <strong>feeling insecure in midlife</strong>, sebagai indikator kuat risiko demensia di kemudian hari.
  • Gejala seperti kehilangan kepercayaan diri dan kesulitan berkonsentrasi dapat mengurangi stimulasi kognitif, yang penting untuk menjaga cadangan kognitif otak.
  • Meskipun pengobatan depresi di usia paruh baya mungkin mengurangi risiko demensia, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami pencegahan secara optimal.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, sebuah penelitian inovatif baru-baru ini menyoroti hubungan mengejutkan antara kondisi mental di usia paruh baya dengan risiko demensia di kemudian hari. Studi ini mengidentifikasi enam gejala depresi spesifik yang dialami pada rentang usia 45 hingga 69 tahun. Gejala-gejala ini berpotensi menjadi indikator awal yang penting bagi kesehatan otak kita di masa depan.

Penelitian yang dipimpin oleh para ahli dari University College London (UCL) ini, menunjukkan bahwa bukan depresi secara keseluruhan yang menjadi faktor risiko utama. Sebaliknya, jenis gejala depresi tertentu memiliki korelasi yang lebih kuat dengan perkembangan demensia. Temuan ini membuka perspektif baru dalam memahami dan mungkin mencegah penyakit neurodegeneratif tersebut.

Salah satu tanda halus yang paling mencolok adalah perasaan tidak aman atau kurang percaya diri, yang sering disebut sebagai perasaan tidak nyaman. Memahami tanda-tanda ini sangat krusial. Ini membantu kita untuk lebih waspada dan mengambil langkah preventif demi menjaga kesehatan kognitif secara optimal.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Menguak Enam Gejala Depresi Utama Pemicu Demensia

Studi komprehensif ini menganalisis data dari 5.811 peserta dalam studi Whitehall II di Inggris, dengan periode pengamatan rata-rata selama 23 tahun. Selama rentang waktu tersebut, 586 individu didiagnosis menderita demensia. Gejala depresi di usia paruh baya dinilai antara tahun 1997-1999, saat peserta berusia 45-69 tahun dan belum mengalami demensia.

Para peneliti mengidentifikasi enam gejala depresi yang secara signifikan terkait dengan peningkatan risiko demensia. Gejala-gejala ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang siapa yang mungkin lebih rentan. Ini bukan sekadar depresi umum, tetapi pola spesifik yang perlu diperhatikan.

Berikut adalah enam gejala depresi yang diidentifikasi sebagai indikator kuat risiko demensia di usia paruh baya:

  • Kehilangan kepercayaan diri: Individu yang melaporkan kehilangan kepercayaan diri di usia paruh baya menunjukkan peningkatan risiko demensia sebesar 51%.
  • Ketidakmampuan menghadapi masalah: Mereka yang tidak mampu menghadapi masalah memiliki peningkatan risiko demensia sebesar 49%.
  • Tidak merasakan kasih sayang terhadap orang lain.
  • Gugup dan tegang sepanjang waktu.
  • Tidak puas dengan tugas-tugas.
  • Kesulitan berkonsentrasi.

Penting untuk dicatat bahwa peningkatan risiko demensia ini sepenuhnya didorong oleh enam gejala spesifik tersebut pada orang dewasa di bawah usia 60 tahun.

3 dari 4 halaman

Perspektif Ahli tentang Hubungan Depresi dan Demensia

Philipp Frank, penulis utama dari divisi psikiatri UCL, menjelaskan bahwa temuan ini memberikan pemahaman yang lebih jelas. Ini tentang siapa yang mungkin lebih rentan terhadap demensia puluhan tahun sebelum penyakit itu muncul. Gejala sehari-hari yang banyak dialami orang di usia paruh baya tampaknya membawa informasi penting tentang kesehatan otak jangka panjang. Memperhatikan pola-pola ini dapat membuka peluang baru untuk pencegahan dini.

Profesor Mika Kivimäki, dari Fakultas Ilmu Otak UCL, menambahkan bahwa depresi tidak memiliki bentuk tunggal. Pola gejala yang berbeda dapat mengungkapkan siapa yang berisiko lebih tinggi terhadap gangguan neurologis. Pendekatan ini mendekatkan kita pada perawatan kesehatan mental yang lebih personal dan efektif.

Profesor Gill Livingston, ketua Komisi Lancet tentang pencegahan demensia, menyebut temuan ini sebagai cara baru dan penting. Ini untuk mempertimbangkan depresi dan demensia. Ini juga menjadi bukti bahwa depresi adalah payung yang luas dan belum tentu satu penyakit. Ada beberapa bukti bahwa pengobatan depresi di usia paruh baya dapat mengurangi risiko demensia. Namun, penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan.

4 dari 4 halaman

Memahami Mekanisme dan Implikasi Pentingnya Deteksi Dini

Dr. Richard Oakley, Associate Director of Research and Innovation di Alzheimer's Society, menekankan bahwa demensia adalah pembunuh terbesar di Inggris. Satu dari tiga orang yang lahir hari ini akan menderita kondisi tersebut. Meskipun studi ini membantu mengurai hubungan demensia dan depresi, penelitian lebih lanjut diperlukan. Ini untuk mengkonfirmasi apakah enam gejala ini juga berlaku untuk wanita dan kelompok etnis minoritas.

Sahabat Fimela perlu ingat, tidak semua orang yang mengalami depresi akan menderita demensia. Orang dengan demensia juga tidak selalu mengalami depresi. Namun, pemahaman tentang hubungan ini sangat penting. Ini untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong deteksi dini.

Para peneliti mencatat bahwa gejala seperti kehilangan kepercayaan diri, kesulitan menghadapi masalah, dan konsentrasi yang buruk dapat menyebabkan berkurangnya keterlibatan sosial. Ini juga bisa mengurangi pengalaman yang kurang merangsang kognitif. Hal ini penting untuk menjaga cadangan kognitif. Cadangan kognitif adalah kemampuan otak untuk mengatasi kerusakan atau penyakit. Ini memungkinkan seseorang mempertahankan pemikiran dan fungsi normal.

Sebaliknya, gejala depresi lainnya, seperti masalah tidur, ide bunuh diri, atau suasana hati yang rendah, tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan demensia dalam jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa fokus pada gejala spesifik ini dapat menjadi kunci untuk intervensi yang lebih tepat sasaran.