Fimela.com, Jakarta - Banyak orangtua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan sukses. Namun, niat baik ini terkadang berubah menjadi kontrol berlebihan seperti aturan terlalu ketat, tuntutan sempurna, dan kecemasan yang ditularkan tanpa disadari. Dalam jangka panjang, pola asuh seperti ini tidak hanya membebani mental anak, tetapi juga membentuk karakter yang penuh tekanan batin, selalu takut salah, dan sulit merasa aman dengan dunia sekitarnya.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh tuntutan dan kewaspadaan tinggi sering berkembang menjadi sosok super perfeksionis. Mereka merasa harus selalu benar, takut gagal, dan sulit menerima ketidaksempurnaan — baik pada diri sendiri maupun orang lain. Di sisi lain, paparan kecemasan orangtua yang terus-menerus juga dapat membentuk pola pikir paranoid: mudah curiga, membayangkan kemungkinan terburuk, dan merasa dunia tidak aman. Kondisi ini bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi relasi, karier, serta kesehatan mental jika pola asuh tidak dilakukan dengan benar.
Dilansir dari egg shell theraphy, yang menjelaskan bagaimana orangtua dengan kecemasan dan trauma tertentu tanpa sadar menyalurkan ketakutannya kepada anak melalui kontrol, proteksi berlebihan, serta reaksi emosional yang tidak stabil.
1. Orangtua yang Terlalu Cemas dan Penuh Kecurigaan
Orangtua yang hidup dalam kecemasan tinggi biasanya memandang dunia sebagai tempat yang berbahaya. Mereka cenderung selalu waspada, membayangkan skenario terburuk, dan mencurigai motif orang lain. Pola pikir ini tidak berhenti pada diri mereka sendiri, tetapi juga ditransmisikan kepada anak melalui pesan verbal maupun sikap sehari-hari.
Anak yang terus-menerus mendengar peringatan, larangan ekstrem, atau cerita ancaman akan tumbuh dengan sistem saraf yang selalu siaga. Akibatnya, anak menjadi sulit rileks, mudah panik, dan cenderung overthinking. Ketika dewasa, pola ini bisa berubah menjadi paranoid ringan hingga kecemasan kronis.
2. Sikap Terlalu Protektif dan Menuntut Loyalitas Anak
Kesalahan pola asuh berikutnya adalah sikap posesif dan protektif berlebihan. Orangtua merasa dirinya adalah pelindung mutlak anak, sehingga membatasi pergaulan, pilihan hidup, bahkan cara berpikir anak. Anak sering dipaksa patuh demi menjaga “keamanan” versi orangtua.
Dalam situasi ini, anak belajar bahwa kebebasan adalah sesuatu yang berbahaya. Mereka tumbuh dengan rasa bersalah saat ingin mandiri dan takut mengecewakan orangtua. Pola ini dapat membentuk anak menjadi perfeksionis yang selalu berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, sekaligus takut mengambil risiko.
3. Cangkang Keras: Sulit Menunjukkan Kasih Sayang yang Hangat
Sebagian orangtua tampak kuat, tegas, bahkan sukses di mata luar. Namun di balik itu, mereka memiliki “cangkang keras” sebagai mekanisme pertahanan diri. Mereka sulit mengekspresikan emosi lembut, jarang menunjukkan kehangatan, dan mudah bersikap dingin atau mengkritik saat merasa terancam secara emosional.
Bagi anak, pola ini membingungkan. Saat anak mendekat secara emosional, respons yang diterima justru penolakan atau kritik. Anak pun belajar menekan perasaannya sendiri dan menggantinya dengan kontrol diri berlebihan. Inilah salah satu akar munculnya perfeksionisme emosional: selalu menahan diri, takut salah mengekspresikan emosi, dan sulit percaya pada kedekatan.
4. Orangtua yang Mudah Defensif dan Sulit Mengakui Kesalahan
Orangtua yang terlalu defensif jarang meminta maaf dan cenderung menganggap kritik sebagai serangan pribadi. Ketika anak berbeda pendapat, respons yang muncul bisa berupa kemarahan, sindiran, atau penarikan diri secara emosional.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini belajar bahwa kesalahan adalah ancaman besar. Mereka berusaha tampil sempurna agar terhindar dari konflik atau penolakan. Dalam jangka panjang, ini memupuk rasa takut gagal, kecemasan sosial, dan kebutuhan untuk selalu mengontrol keadaan.
5. Ketidakmampuan Mengelola Emosi dengan Sehat
Ledakan emosi orangtua — seperti marah berlebihan, panik, atau histeris dapat meninggalkan trauma psikologis pada anak. Anak merasa lingkungan rumah tidak stabil dan sulit diprediksi. Kondisi ini membuat anak selalu bersiaga, takut memicu konflik, dan belajar mengendalikan diri secara ekstrem.
Anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang kaku, terlalu mengatur diri, dan tidak nyaman dengan ketidakpastian. Inilah bibit paranoia dan over-control yang kerap muncul di usia dewasa.
6. Dampak Jangka Panjang pada Psikologis Anak
Kesalahan pola asuh ini dapat menimbulkan beberapa dampak, seperti:
- Rasa cemas berlebihan dan sulit merasa aman.
- Perfeksionisme ekstrem dan takut melakukan kesalahan.
- Sulit mempercayai orang lain atau membangun kedekatan emosional.
- Kecenderungan mengontrol diri dan lingkungan secara berlebihan.
- Rasa bersalah saat ingin mandiri atau berbeda pendapat.
Tanpa disadari, anak membawa beban psikologis ini hingga dewasa dan memengaruhi kualitas hidupnya.
7. Cara Memutus Pola dan Membantu Anak Lebih Sehat Secara Emosional
Orangtua dapat mulai memperbaiki pola asuh dengan:
- Memberikan ruang aman bagi anak untuk mencoba, gagal, dan belajar.
- Mengurangi kontrol berlebihan dan membangun kepercayaan.
- Menunjukkan emosi secara sehat dan terbuka.
- Menghargai pendapat anak tanpa reaksi defensif.
- Mengajarkan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian alami dari proses tumbuh.
Anak yang merasa aman secara emosional akan lebih berani mengeksplorasi dunia tanpa rasa takut berlebihan, serta mampu membangun kepercayaan diri yang sehat.
Penulis: Siti Nur Arisha