Tahap Mengerikan Modus Grooming Child yang Mengintai Anak yang Pernah Terjadi pada Aurélie Moeremans

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 11 Januari 2026, 09:27 WIB

ringkasan

  • Grooming child adalah proses manipulatif bertahap di mana pelaku membangun hubungan dengan anak untuk tujuan pelecehan seksual, baik secara daring maupun luring.
  • Pelaku menggunakan berbagai taktik seperti membangun kepercayaan, mengisolasi korban, mendesensitisasi, dan menciptakan rahasia, seringkali memanfaatkan kerentanan anak.
  • Mengenali tanda-tanda seperti perubahan perilaku, hadiah tak terjelaskan, atau kerahasiaan penggunaan gadget sangat penting untuk mencegah dampak traumatis jangka panjang pada korban.

Fimela.com, Jakarta - Aurélie Moeremans dalam buku terbarunya menceritakan jika dirinya pernah mengalami grooming child di usia remaja. Fenomena grooming child merupakan ancaman serius yang seringkali luput dari perhatian banyak orangtua. Ini adalah proses manipulasi yang dilakukan oleh pelaku untuk membangun hubungan dengan seorang anak, baik secara langsung maupun melalui teknologi informasi, dengan tujuan akhir pelecehan seksual. Kejahatan ini tidak hanya terjadi di dunia maya, tetapi juga bisa mengintai anak-anak kita di lingkungan sekitar.

Proses child grooming umumnya bersifat bertahap dan terencana, memanfaatkan kerentanan anak untuk mencapai tujuan pelaku. Pelaku akan dengan sengaja memanipulasi dan mengendalikan anak, bahkan keluarga serta jaringan dukungan lainnya, demi mendapatkan akses dan kepercayaan. Memahami modus operandi ini adalah langkah pertama untuk melindungi buah hati kita dari bahaya yang mengintai.

Meskipun sering dikaitkan dengan internet, asal-usul child grooming sebenarnya sudah ada jauh sebelum era digital. Pelaku bisa siapa saja, mulai dari orang asing hingga orang yang dikenal dekat, seperti anggota keluarga atau teman. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengenali tanda-tanda awal agar dapat bertindak cepat dan tepat.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Memahami Modus Grooming Child: Lebih dari Sekadar Pelecehan Online

Grooming child didefinisikan sebagai tindakan di mana seorang pelaku membangun hubungan dengan anak untuk memfasilitasi kontak seksual, baik secara daring maupun luring. Tujuan utamanya adalah mendapatkan akses, memperoleh materi seksual anak, serta mendapatkan kepercayaan dan kepatuhan anak. Pelaku juga berupaya menjaga kerahasiaan tindakan mereka dari orang lain.

Proses ini merupakan manipulasi yang disengaja, tidak hanya terhadap anak tetapi juga terhadap orang tua, kerabat, pengasuh, dan organisasi yang terkait dengan anak. Meskipun internet dan perilaku daring sering menjadi sorotan, penting untuk diingat bahwa taktik child grooming telah ada jauh sebelum munculnya era digital, menunjukkan bahwa ancaman ini bersifat universal.

Pelaku child grooming bisa berasal dari berbagai latar belakang; mereka bisa jadi orang asing yang tidak dikenal, namun tak jarang juga merupakan individu yang sudah akrab dengan korban, seperti anggota keluarga, teman, rekan kerja, atau bahkan profesional. Keberadaan mereka di berbagai lingkungan menuntut kewaspadaan ekstra dari kita semua, Sahabat Fimela.

3 dari 5 halaman

Taktik Licik Pelaku Grooming Child: Mengenali Pola Manipulasi

Grooming child umumnya terjadi melalui proses bertahap dan terencana yang memanfaatkan kerentanan anak. Model umum menjelaskan lima tahapan utama: pemilihan korban, mendapatkan akses dan mengisolasi anak, pengembangan kepercayaan, desensitisasi terhadap konten seksual, serta pemeliharaan setelah pelecehan. Tahap awal seringkali terlihat tidak bersalah, namun secara progresif mengarah pada eksploitasi.

Pelaku menggunakan berbagai taktik untuk mencapai tujuan mereka. Mereka akan membangun kepercayaan dengan berpura-pura menjadi orang lain, menawarkan nasihat, memberikan hadiah, atau menggunakan posisi profesional mereka. Kemudian, mereka berusaha mengisolasi anak dari lingkungan pendukungnya, bahkan mencoba mendapatkan kepercayaan orang tua atau keluarga anak. Ini dilakukan untuk menciptakan ruang di mana anak menjadi lebih bergantung pada pelaku.

Setelah kepercayaan terbangun, pelaku akan memulai desensitisasi dan seksualisasi, yaitu secara bertahap memperkenalkan konten atau diskusi seksual untuk menormalkan perilaku ini. Mereka juga menciptakan 'rahasia' sebagai alat kontrol dan manipulasi, seringkali memeras atau membuat anak merasa malu agar tidak menceritakan pelecehan tersebut. Lingkungan daring seperti media sosial dan game online menjadi platform favorit pelaku untuk menyembunyikan identitas dan mencari korban.

Pelaku sering mencari anak-anak dengan harga diri rendah, kurang percaya diri, atau yang naif. Remaja yang penasaran secara seksual juga berisiko lebih tinggi. Mereka akan mempelajari minat anak dari profil daring untuk membangun hubungan yang terasa personal dan aman, padahal sebenarnya adalah jebakan yang berbahaya.

4 dari 5 halaman

Tanda-Tanda Anak Sedang di-Grooming Child: Jangan Sampai Terlambat

Body positivity memengaruhi tumbuh kembang anak. Untuk itu, orangtua harus mengenalkannya sejak dini. Berikut caranya. (FOTO: Unsplash.com/Sai de Silva).

Mengenali tanda-tanda peringatan dini adalah kunci untuk melindungi anak dari grooming child. Sahabat Fimela perlu memperhatikan perubahan mendadak dalam perilaku anak, seperti menjadi lebih menarik diri atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa untuk usia mereka, misalnya mengompol pada remaja. Perubahan ini bisa menjadi indikator adanya masalah serius yang sedang mereka alami.

Perhatikan juga jika anak menghabiskan lebih banyak waktu jauh dari rumah atau sekolah, atau menjadi sangat tertutup tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu, terutama saat menggunakan perangkat daring. Menerima hadiah yang tidak dapat dijelaskan, baik besar maupun kecil, atau uang dari teman baru yang tidak jelas identitasnya, juga patut dicurigai. Hubungan yang tidak biasa dengan orang yang jauh lebih tua juga merupakan tanda bahaya yang jelas.

Selain itu, masalah kesehatan seksual yang tidak dapat dijelaskan, penyalahgunaan alkohol atau narkoba, serta perubahan emosional seperti tampak sedih, menarik diri, atau mengalami masalah kesehatan mental, bisa menjadi indikasi. Anak yang tiba-tiba menggunakan bahasa seksual yang tidak diharapkan atau sangat tertutup tentang penggunaan ponsel dan media sosial mereka juga perlu diwaspadai. Isolasi diri dari teman atau keluarga serta penurunan kinerja akademik juga merupakan tanda-tanda yang harus diperhatikan serius.

5 dari 5 halaman

Dampak Jangka Panjang Grooming Child: Luka yang Sulit Tersembuh

Dampak dari grooming child sangatlah serius dan dapat meninggalkan luka mendalam yang bertahan seumur hidup. Korban sering mengalami trauma emosional yang signifikan, meningkatkan risiko masalah kesehatan mental seperti depresi, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), gangguan kecemasan, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri. Beban psikologis ini dapat sangat menghancurkan bagi perkembangan anak.

Selain itu, korban mungkin mengalami kesulitan besar dalam mempercayai orang lain di masa depan, yang berdampak pada kemampuan mereka untuk menjaga hubungan yang sehat. Perkembangan emosional dan sosial mereka juga bisa terganggu, ditunjukkan dengan perilaku regresif, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, atau kesulitan belajar di sekolah. Risiko penyalahgunaan zat di masa dewasa juga meningkat sebagai mekanisme koping.

Rasa malu dan menyalahkan diri sendiri seringkali menghantui korban child grooming daring, karena mereka merasa dimanipulasi dan dipaksa. Dampak jangka panjang pelecehan seksual daring bersifat multifaset, tidak hanya memengaruhi rasa diri dan hubungan interpersonal, tetapi juga secara signifikan memengaruhi kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, dukungan dan intervensi dini sangat krusial untuk membantu korban dalam proses pemulihan.