Sering Disalahpahami, Ini Hal yang Perlu Orangtua Ketahui tentang Anak Introvert

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 15 Januari 2026, 12:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, tidak semua anak tumbuh dengan kepribadian yang senang menjadi pusat perhatian atau mudah bergaul dalam kelompok besar. Sebagian anak justru merasa paling nyaman saat berada di ruangnya sendiri, menikmati waktu tenang, atau memiliki hanya satu dua teman dekat. Anak-anak inilah yang sering disebut sebagai introvert.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang belum sepenuhnya memahami apa arti menjadi anak introvert. Dilansir dari introvertdear.com,  pemahaman yang tepat sangat penting agar anak tumbuh dengan rasa percaya diri dan penerimaan diri yang sehat. Berikut beberapa hal yang perlu orangtua ketahui tentang anak introvert, sekaligus kesalahan yang sebaiknya dihindari dalam proses pengasuhan.

1. Anak Introvert Tidak Sama dengan Pemalu

Salah satu kesalahpahaman paling umum adalah melabeli anak introvert sebagai “pendiam” atau “pemalu”. Meski terdengar sepele, label ini dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa ada sesuatu yang “kurang” dalam dirinya.

Alih-alih memberi label, orangtua bisa menunjukkan penerimaan. Jika ada yang berkomentar soal anak yang jarang bicara, cukup katakan, “Dia berbicara saat merasa nyaman.” Sikap sederhana ini memberi pesan kuat bahwa menjadi diri sendiri adalah hal yang wajar.

2. Jangan Membandingkan dengan Anak yang Lebih Ekstrovert

Membandingkan anak introvert dengan saudara atau teman yang lebih aktif bersosialisasi dapat melukai harga diri mereka. Setiap anak memiliki cara unik untuk berinteraksi dengan dunia. Anak introvert tidak perlu menjadi seperti siapa pun agar dianggap “cukup”.

Yang mereka butuhkan adalah orangtua yang mampu melihat kelebihan mereka, bukan fokus pada perbedaan.

 

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

3. Hindari Mempermalukan Anak karena Terlihat “Berbeda”

Anak introvert mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda. [Dok/freepik.com]

Komentar seperti “kok antisosial?” atau “kenapa tidak main seperti anak lain?” mungkin terdengar bercanda, tetapi bisa meninggalkan luka emosional jangka panjang. Ketika kritik datang dari orang yang paling mereka percaya, dampaknya bisa jauh lebih dalam.

Empati adalah kunci. Anak introvert mungkin tidak populer atau sangat aktif di sekolah, dan itu tidak masalah. Mereka hanya mengekspresikan diri dengan cara yang berbeda.

 4. Orangtua Perlu Memahami Apa Itu Introvert 

Introvert bukan fase, apalagi kekurangan. Cara kerja pikiran anak introvert memang berbeda. Mereka bisa merasa lelah setelah terlalu banyak stimulasi sosial dan membutuhkan waktu sendiri untuk mengisi ulang energi.

Dengan memahami hal ini, orangtua bisa berhenti melihat kebutuhan menyendiri sebagai penolakan, melainkan sebagai bagian alami dari kepribadian anak.

5. Ajarkan Anak untuk Mengenal Dirinya Sendiri

Salah satu hal terpenting yang bisa dilakukan orangtua adalah membantu anak memahami bahwa menjadi introvert itu normal. Ajarkan bahwa merasa lelah setelah acara sosial adalah hal yang wajar, dan beristirahat sendiri bukanlah bentuk kelemahan.

Bantu anak mengenali kekuatannya seperti kemampuan fokus, kreativitas, empati, dan keterampilan mendengarkan yang baik.

 

 

3 dari 3 halaman

6. Dukung Kreativitas Anak

Memaksa anak untuk bersosialisasi justru malah membuat anak merasa tertekan dan tidak dipahami. [Dok/freepik.com]

Banyak anak introvert memiliki dunia batin yang kaya dan imajinasi yang kuat. Jika anak lebih senang menggambar, menulis, membaca, atau bermain musik sendirian, dukunglah. Memaksa mereka terlalu sering bersosialisasi justru bisa membuat anak merasa tertekan dan tidak dipahami.

7. Jangan Memaksa Anak untuk Lebih Sosial

Memiliki sedikit teman bukan berarti anak kesepian. Bagi anak introvert, kualitas hubungan jauh lebih penting daripada jumlahnya. Memaksa anak untuk ikut kegiatan kelompok besar atau terus mempertanyakan mengapa mereka tidak punya banyak teman bisa membuat anak merasa gagal.

Dorong, bukan paksa. Tawarkan pilihan aktivitas yang lebih sesuai dengan kenyamanan mereka, seperti olahraga individu atau kegiatan dengan kelompok kecil.

8. Luangkan Waktu One-on-One

Meski anak introvert menyukai waktu sendiri, mereka tetap membutuhkan koneksi emosional dengan orangtua. Luangkan waktu berkualitas tanpa distraksi, dan hadir sepenuhnya saat bersama mereka.

Ajukan pertanyaan yang lebih dalam dan bermakna. Anak introvert sering kali lebih nyaman berbicara tentang hal-hal yang mereka sukai daripada obrolan ringan.