Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, masa kehamilan membawa banyak perubahan pada tubuh perempuan, termasuk kondisi kulit. Perubahan hormon seringkali memicu masalah kulit baru, seperti kulit kering, munculnya flek hitam, atau jerawat yang membandel.
Meskipun produk perawatan kulit dapat membantu mengatasi masalah ini, penting bagi ibu hamil untuk lebih selektif dalam memilih. Sebab, beberapa kandungan skincare berpotensi terserap ke dalam aliran darah dan membahayakan tumbuh kembang janin.
Memilih produk yang tepat adalah kunci untuk menjaga kesehatan kulit sekaligus melindungi si kecil dalam kandungan. Artikel ini akan mengulas secara komprehensif kandungan skincare yang sebaiknya dihindari ibu hamil, serta alternatif aman yang bisa Sahabat Fimela pertimbangkan.
Retinoid dan Hidrokuinon: Dua Musuh Utama Kulit Ibu Hamil
Retinoid, yang merupakan turunan Vitamin A, adalah salah satu kandungan paling berbahaya bagi ibu hamil. Nama lain dari retinoid antara lain Retinol, Retin-A, Tretinoin, Isotretinoin, Adapalene, dan Tazarotene. Kandungan ini memiliki sifat teratogenik, yang berarti dapat menyebabkan cacat lahir serius pada janin, seperti kelainan pada kepala, wajah, hidrosefalus, hingga kematian janin. Bahkan, retinoid topikal pun sebaiknya dihindari karena dapat terserap ke peredaran darah. Sebagai alternatif aman, Sahabat Fimela bisa menggunakan asam glikolat atau bakuchiol untuk menghaluskan kulit dan mengurangi kerutan.
Hidrokuinon adalah agen pencerah kulit yang juga harus dihindari selama kehamilan. Kandungan ini dapat terserap ke dalam aliran darah hingga 35-45% setelah aplikasi topikal, meningkatkan potensi risiko pada janin meskipun studi belum secara definitif menunjukkan peningkatan cacat lahir. Alternatif yang lebih aman dan efektif untuk mencerahkan kulit adalah Vitamin C atau niacinamide dengan konsentrasi 5% atau lebih.
Waspada Bahan Pengawet dan Kimia Berbahaya Lainnya
Paraben berfungsi sebagai pengawet dalam banyak produk kosmetik dan skincare, namun sangat tidak dianjurkan untuk ibu hamil. Zat ini dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh dan melewati plasenta, berpotensi memengaruhi perkembangan janin. Paparan paraben dikaitkan dengan risiko komplikasi seperti keguguran, berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin, diabetes gestasional, masalah reproduksi, serta peningkatan risiko obesitas dan alergi pada anak di kemudian hari.
Phthalates adalah zat kimia yang sering ditemukan dalam produk beraroma sintetis seperti parfum, losion, dan cat kuku. Zat ini dapat mengganggu sistem hormon dan memengaruhi perkembangan janin. Paparan phthalates selama kehamilan dikaitkan dengan risiko kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, keguguran, gangguan perkembangan motorik dan bahasa pada anak, serta masalah pada perkembangan otak bayi.
Formaldehida, yang sering ditemukan dalam cat kuku, lem bulu mata, dan pelurus rambut, adalah karsinogen yang diketahui dan dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kesuburan serta keguguran jika digunakan dalam kadar tinggi. Diethanolamine (DEA), yang ada di sampo dan kondisioner, dikhawatirkan dapat menghambat perkembangan otak janin dan meningkatkan risiko keguguran. Selain itu, Aluminium (pada deodoran), Toluene (pada cat kuku), dan Triclosan (pada sabun antibakteri) juga sebaiknya dihindari karena potensi bahayanya bagi sistem saraf, hormon, dan perkembangan janin.
Perhatikan Eksfolian, Tabir Surya, dan Minyak Esensial
Asam Salisilat (BHA) dalam dosis tinggi, terutama oral atau peeling, dapat berbahaya bagi janin. Meskipun penggunaan topikal dalam dosis rendah (di bawah 2%) mungkin dianggap aman, beberapa ahli tetap menyarankan untuk menghindarinya. Asam glikolat atau asam laktat dianggap lebih aman sebagai alternatif eksfoliasi.
Tabir surya kimia seperti Oxybenzone, Avobenzone, Homosalate, Octisalate, Octocrylene, dan Octinoxate dapat diserap ke dalam aliran darah, melewati plasenta, dan berpotensi mengganggu perkembangan sistem saraf, otak, serta sistem kekebalan bayi. Disarankan untuk menggunakan tabir surya mineral (physical sunscreen) yang mengandung titanium dioxide atau zinc oxide karena bekerja dengan memantulkan sinar UV dan tidak banyak terserap ke dalam kulit.
Beberapa Essential Oil (minyak esensial) juga tidak dianjurkan karena dapat memicu kontraksi (seperti rosemary, basil, jasmine, clary sage) atau memiliki efek halusinogen (nutmeg). Penggunaan essential oil sebaiknya dihindari pada trimester pertama kehamilan karena berpotensi mengganggu pertumbuhan dan pembentukan organ janin. Minyak citrus, lavender, jahe, peppermint, dan ylang ylang sering dianggap lebih aman, namun tetap dengan konsultasi dokter.
Kandungan lain yang perlu diwaspadai meliputi Dihydroxyacetone (DHA) pada produk self-tanning jika terhirup, Thioglycolic Acid pada produk penghilang rambut karena kurangnya penelitian keamanan, Kedelai (Soy) yang dapat memperburuk melasma, Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang dikaitkan dengan kelainan bawaan, serta Merkuri yang sangat toksik dan dapat menyebabkan kelainan janin. Untuk Benzoyl Peroxide, beberapa sumber menyatakan aman dalam dosis rendah topikal, namun ada juga yang menyarankan konsultasi dokter karena status Kategori C pada kehamilan. Selalu konsultasikan dengan dokter kandungan atau dokter kulit sebelum menggunakan produk perawatan kulit apa pun selama kehamilan.