Alasan Mengapa Gen Milenial Terasa Lebih Berat Saat Mengasuh Anak

Ayu Puji LestariDiterbitkan 20 Januari 2026, 11:45 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menjadi orangtua adalah pekerjaan seumur hidup. Banyak orangtua dari generasi milenial yang diam-diam merasa lelah, kewalahan, bahkan mempertanyakan diri sendiri saat mengasuh anak. Bukan tanpa alasan, karena posisi gen milenial memang berada di persimpangan generasi yang penuh tantangan.

Agar lebih mudah dipahami, berikut alasan-alasan mengapa mengasuh anak terasa begitu berat bagi orangtua milenial.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

Gen Milenial Ada di Masa Transisi Zaman

Milenial ada di masa transisi./copyright Unsplash/Eldar Nazarov

Gen milenial adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1981–1996. Kamu termasuk generasi terakhir yang tumbuh tanpa dunia digital sepenuhnya. Masa kecil diisi dengan interaksi langsung, bermain di luar rumah, dan belajar dari pengalaman nyata.

Namun saat menjadi orangtua, kamu justru mengasuh anak di era digital. Anak tumbuh dengan gawai, internet, dan arus informasi yang sangat cepat. Perbedaan dunia ini membuat banyak orangtua milenial harus belajar dari nol, termasuk soal screen time, media sosial, dan keamanan digital yang dulu tidak pernah kamu alami.

3 dari 6 halaman

Menghadapi Dua Generasi Sekaligus

Posisi gen milenial terbilang unik dan tidak mudah. Di dunia kerja, kamu berhadapan dengan Gen Z yang lebih berani menyuarakan pendapat, kritis, dan tegas soal batasan. Di rumah, kamu mengasuh Gen Alpha yang lahir di tengah teknologi canggih dan memiliki cara berpikir yang sangat berbeda.

Kondisi ini menuntut kamu untuk terus beradaptasi, baik secara emosional maupun mental. Tak jarang, kelelahan muncul karena harus “berganti peran” dengan cepat antara tuntutan profesional dan peran sebagai orangtua.

Tekanan Mental, Sosial, dan Ekonomi yang Tinggi

Orangtua milenial sering disebut sebagai generasi dengan tekanan paling kompleks. Beberapa di antaranya adalah:

  • Biaya hidup dan pendidikan anak yang semakin mahal
  • Tuntutan karier dan kestabilan finansial
  • Ekspektasi sosial untuk menjadi orangtua ideal
  • Paparan media sosial yang sering memicu perbandingan
  • Tanpa disadari, semua tekanan ini menumpuk dan berdampak pada kesehatan mental orangtua.
4 dari 6 halaman

Benturan Pola Asuh Lama dan Pola Asuh Baru

Terdapat benturan pola asuh saat milenial jadi orantua./copyright unsplash/Amy Humphries

Sebagian besar gen milenial dibesarkan dengan pola asuh yang cenderung otoriter. Kalimat seperti “Jangan lemah”, “Jangan nangis”, “Harus nurut”, “Harus kuat” menjadi bagian dari keseharian. Emosi sering kali tidak diberi ruang, dan ketaatan dianggap lebih penting daripada perasaan.

Namun saat menjadi orangtua, kamu justru dituntut menerapkan pola asuh yang sangat berbeda. Anak-anak sekarang didorong untuk berani berekspresi, memahami emosi, dan merasa aman secara psikologis. Perbedaan inilah yang sering memicu konflik batin pada orangtua milenial.

5 dari 6 halaman

Belajar Hal Baru yang Tidak Pernah Diajarkan

Sebagai orangtua, gen milenial harus mempelajari banyak konsep baru, seperti: Validasi emosi, Mindful parenting, Gentle parenting, Komunikasi dua arah dengan anak. Masalahnya, semua ini tidak pernah kamu dapatkan saat kecil. Akibatnya, banyak orangtua milenial merasa sedang “mengasuh anak sekaligus menyembuhkan diri sendiri”, yang tentu saja melelahkan secara emosional.

Kelelahan orangtua milenial tidak selalu berasal dari anak, melainkan dari proses refleksi diri. Menyadari trauma masa kecil, mengenali pola toxic yang dulu dianggap normal, dan berusaha memutus rantai pengasuhan yang menyakitkan adalah proses yang berat, tetapi penting. Tak jarang kamu merasa bersalah saat marah, bingung saat lelah, dan ragu pada diri sendiri karena ingin menjadi orangtua yang lebih baik dari sebelumnya.

6 dari 6 halaman

Langkah yang Perlu Dilakukan Orangtua Milenial

Langkah yang perlu dilakukan menjadi orangtua milenial./copyright Unsplash/Errel

Meski terasa berat, ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan saat menjadi orangtua. 

  • Memahami apa itu trauma dan dampaknya pada pola asuh
  • Mengenali pola toxic yang perlu dihentikan
  • Menerapkan pola asuh yang relevan dengan kondisi anak saat ini
  • Memberi ruang pada diri sendiri untuk belajar dan berproses

Kamu tidak harus menjadi orangtua yang sempurna. Cukup menjadi orangtua yang sadar, mau belajar, dan penuh empati. Menjadi orangtua milenial memang penuh tantangan, tetapi juga membawa peluang besar. Kamu memiliki kesempatan untuk membesarkan anak dengan lebih sehat secara emosional, sekaligus menyembuhkan luka generasi sebelumnya. Pelan-pelan saja, karena proses ini layak untuk diperjuangkan.