7 Ciri Orang yang Paling Beruntung dalam Menemukan Ketenangan Diri

Endah WijayantiDiterbitkan 10 Februari 2026, 14:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Terkadang, ada orang yang tampak “baik-baik saja” di luar, tapi sebenarnya menyimpan kegelisahan yang tak kunjung reda. Ada pula yang hidupnya penuh tantangan, namun hatinya relatif tenang dan tidak mudah goyah. Jika diamati lebih dalam, ketenangan diri jarang datang dari keberuntungan semata. Ia lebih sering lahir dari sikap hidup yang dipilih dan dilatih, terutama kemampuan untuk berprasangka baik dan bertindak baik dalam berbagai situasi.

Sahabat Fimela, orang-orang yang paling beruntung dalam menemukan ketenangan diri bukanlah mereka yang hidupnya paling sempurna, melainkan mereka yang mampu menjaga kualitas sikap batinnya. Berikut tujuh ciri yang sering dimiliki oleh mereka.

What's On Fimela
2 dari 8 halaman

1. Mereka Memilih Berprasangka Baik, Bahkan saat Segalanya Terasa Tidak Nyaman

1. Mereka Memilih Berprasangka Baik, Bahkan saat Segalanya Terasa Tidak Nyaman./Copyright Fimela/Adrian Putra

Salah satu sumber kegelisahan terbesar adalah kebiasaan mengisi kekosongan informasi dengan prasangka buruk. Orang yang tenang menyadari bahwa tidak semua hal harus segera dipahami atau disimpulkan. Mereka tidak buru-buru menilai sikap orang lain sebagai serangan pribadi.

Berprasangka baik bukan berarti naif, tetapi memberi ruang pada kemungkinan bahwa tidak semua hal berkaitan dengan diri kita. Sikap ini membuat hati lebih ringan, karena tidak dipenuhi asumsi yang melelahkan. Mereka paham bahwa ketenangan sering kali hilang bukan karena kenyataan, melainkan karena cerita-cerita yang kita ciptakan sendiri di kepala.

3 dari 8 halaman

2. Mereka Menjaga Reaksi, Bukan Mengendalikan Semua Situasi

2. Mereka Menjaga Reaksi, Bukan Mengendalikan Semua Situasi./Copyright depositphotos.com/mc.stockphoto

Orang yang menemukan ketenangan diri tahu bahwa hidup tidak selalu bisa diatur sesuai keinginan. Namun, mereka juga tahu bahwa reaksi pribadi selalu bisa dikelola. Alih-alih terseret emosi, mereka memberi jeda sebelum merespons.

Sikap ini membuat mereka tidak mudah menyesal setelah berbicara atau bertindak. Bertindak baik bagi mereka dimulai dari kesadaran untuk tidak melukai orang lain hanya demi meluapkan emosi sesaat. Ketenangan pun tumbuh karena hati tidak dibebani rasa bersalah yang berulang.

4 dari 8 halaman

3. Mereka Tidak Merasa Perlu Selalu Membuktikan Diri

3. Mereka Tidak Merasa Perlu Selalu Membuktikan Diri./Copyright freepik.com/author/benzoix

Banyak kegelisahan lahir dari keinginan untuk terus diakui, dimengerti, atau dibenarkan. Orang yang tenang tidak sepenuhnya bergantung pada validasi eksternal. Mereka cukup mengenal nilai dirinya sendiri.

Dengan sikap ini, mereka tidak mudah tersinggung ketika disalahpahami. Mereka juga tidak tergesa-gesa membalas perlakuan yang tidak menyenangkan. Berprasangka baik membuat mereka memahami bahwa setiap orang membawa latar belakang dan pergulatan masing-masing.

5 dari 8 halaman

4. Mereka Bertindak Baik tanpa Menunggu Perlakuan Baik

4. Mereka Bertindak Baik tanpa Menunggu Perlakuan Baik./Copyright freepik.com/author/freepik

Salah satu ciri orang yang paling beruntung secara batin adalah konsistensi dalam berbuat baik. Mereka tidak menjadikan kebaikan sebagai alat tawar-menawar. Bertindak baik dilakukan karena itu adalah nilai hidup, bukan strategi agar diperlakukan sama.

Sikap ini memberi ketenangan karena hati tidak sibuk mencatat siapa yang berutang budi. Mereka tidak mudah kecewa ketika kebaikannya tidak dibalas. Justru dari konsistensi inilah muncul rasa damai, karena hidup dijalani selaras dengan nilai yang diyakini.

6 dari 8 halaman

5. Mereka Memaafkan Lebih Cepat, Bukan karena Lupa, tapi Karena Berhati Lapang

5. Mereka Memaafkan Lebih Cepat, Bukan karena Lupa, tapi Karena Berhati Lapang./Copyright freepik.com/author/freepik

Orang yang tenang bukan berarti tidak pernah terluka. Namun, mereka tidak membiarkan luka itu menetap terlalu lama. Memaafkan bagi mereka adalah bentuk kepedulian pada kesehatan batin sendiri.

Dengan berprasangka baik, mereka memahami bahwa kesalahan sering kali lahir dari keterbatasan, bukan niat jahat semata. Bertindak baik dalam bentuk memaafkan membuat mereka tidak terikat pada masa lalu. Energi hidup pun tidak habis untuk mengulang kekecewaan yang sama.

7 dari 8 halaman

6. Mereka Bersikap Baik pada Diri Sendiri

6. Mereka Bersikap Baik pada Diri Sendiri./Copyright freepik.com/author/freepik

Ketenangan diri sulit ditemukan jika seseorang terlalu keras pada dirinya sendiri. Orang yang beruntung secara batin tahu kapan harus berusaha, dan kapan harus memberi ruang untuk bernapas.

Berprasangka baik juga diarahkan ke dalam diri. Mereka tidak terus-menerus menyalahkan diri atas hal-hal yang berada di luar kendali. Dengan sikap ini, mereka mampu bangkit tanpa dibayangi rasa tidak pernah cukup.

8 dari 8 halaman

7. Mereka Memilih Menjaga Hati, Bukan Memenangkan Segalanya

7. Mereka Memilih Menjaga Hati, Bukan Memenangkan Segalanya./Copyright freepik.com/author/lookstudio

Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan, dan tidak semua pendapat harus diluruskan. Orang yang tenang memahami bahwa kedamaian batin lebih berharga daripada kepuasan sesaat karena merasa benar.

Dalam bertindak, mereka mempertimbangkan dampak jangka panjang, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Berprasangka baik membuat mereka tidak merasa terancam oleh perbedaan. Bertindak baik membuat hubungan tetap terjaga tanpa mengorbankan harga diri.

Sahabat Fimela, ketenangan diri bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang diulang setiap hari: memilih berprasangka baik ketika ragu, memilih bertindak baik ketika terluka, dan memilih menjaga hati ketika ego ingin berkuasa.

Orang-orang yang paling beruntung dalam menemukan ketenangan diri bukanlah mereka yang hidupnya bebas masalah, melainkan mereka yang bersedia melatih sikap batin yang sehat.

Ketenangan umumnya didapatkan sebagai hasil dari cara kita menyikapi hidup dengan lebih bijak dan penuh empati.