Fimela.com, Jakarta - PHK bukan sekadar kehilangan pekerjaan. Fase ini datang membawa rasa kaget, kecewa, takut, bahkan mempertanyakan nilai diri. Wajar jika dunia terasa runtuh seketika. Namun di tengah beratnya kenyataan, hidup tetap menuntut untuk berjalan. Bukan karena kamu lemah jika merasa sedih, tapi karena kamu cukup kuat untuk tetap melangkah meski hati sedang lelah.
Seperti yang dikutip dari liputan6.com (10/2) korban pemutusan hubungan kerja (PHK) mencapai 88.519 orang sepanjang 2025. Berdasarkan data PHK yang dirilis Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), korban PHK naik lebih dari 10 ribu orang dibandingkan 2024 sebesar 77.965 orang.
Memang ini tidak mudah, apalagi dengan makin ketatnya persaingan di dunia kerja. Jika kamu sedang atau baru saja terdampak PHK, berikut lima hal penting yang perlu kamu persiapkan agar bisa bertahan, bangkit, dan perlahan menata ulang hidupmu.
1. Terima Emosi jangan Pura-Pura Kuat
Hal pertama yang perlu kamu siapkan bukan CV atau rencana karier, tapi ruang untuk perasaanmu sendiri. Marah, sedih, takut, atau merasa gagal adalah emosi yang valid. Jangan memaksa diri terlihat baik-baik saja hanya demi terlihat kuat di mata orang lain.
Izinkan dirimu berduka atas kehilangan ini. Menangis bukan tanda kelemahan, melainkan proses pelepasan. Dengan menerima emosi, kamu memberi dirimu kesempatan untuk pulih secara utuh. Ingat, kamu bukan pekerjaanmu. PHK tidak menghapus nilai, kemampuan, dan perjalanan hidup yang sudah kamu tempuh sejauh ini.
2. Susun Ulang Kondisi Keuangan dengan Realistis
Setelah emosi sedikit lebih stabil, langkah penting berikutnya adalah menghadapi realita finansial. Ini memang tidak mudah, tapi sangat krusial. Mulailah dengan menghitung tabungan, pesangon, atau sumber dana yang kamu miliki. Dari sana, buat daftar kebutuhan prioritas dan pangkas pengeluaran yang bisa ditunda.
Ini bukan saatnya menyalahkan diri karena tidak punya tabungan “cukup”. Fokuslah pada apa yang bisa kamu kendalikan sekarang. Jika perlu, jangan ragu berdiskusi dengan keluarga atau orang terdekat. Bertahan bukan tentang gengsi, tapi tentang strategi agar kamu bisa melewati fase ini dengan lebih aman.
3. Rawat Kesehatan Mental dan Fisikmu
PHK sering kali berdampak besar pada kesehatan mental. Rasa cemas tentang masa depan bisa membuat tidur terganggu, nafsu makan menurun, atau pikiran terasa penuh. Karena itu, menjaga rutinitas sederhana sangat penting.
Bangun di jam yang sama, mandi, berjemur, berjalan kaki, atau sekadar membereskan kamar bisa membantu pikiran tetap waras. Jika kamu merasa terlalu berat, mencari bantuan profesional bukan tanda gagal. Justru itu bentuk tanggung jawab pada diri sendiri. Kamu layak sehat, baik secara mental maupun fisik, bahkan saat hidup sedang tidak ramah.
4. Evaluasi Diri dan Perbarui Arah Karier
Setelah fase awal berlalu, ini saatnya kamu menyiapkan langkah ke depan. Gunakan waktu ini untuk mengevaluasi perjalanan kariermu. Apa yang sudah kamu pelajari? Skill apa yang paling kamu kuasai? Dan arah apa yang sebenarnya ingin kamu tuju?
Perbarui CV dan portofolio, tapi jangan hanya fokus pada mencari pekerjaan baru. Mungkin ini juga momen untuk belajar skill baru, mempertimbangkan jalur karier berbeda, atau bahkan mencoba hal yang selama ini kamu tunda. PHK memang bukan pilihan, tapi responmu terhadapnya adalah ruang di mana kamu punya kendali.
5. Bangun Harapan Kecil di Satu Hari Sekaligus
Hal terpenting yang perlu kamu persiapkan adalah harapan. Bukan harapan besar yang menekan, tapi harapan kecil yang realistis. Hari ini cukup bangun, hari ini cukup kirim satu lamaran, hari ini cukup makan dengan baik. Tidak apa-apa jika langkahmu terasa lambat.
Hidup memang terasa berat sekarang, tapi itu tidak berarti akan selamanya seperti ini. Kamu sedang berada di fase transisi, dan transisi selalu terasa tidak nyaman. Percayalah, berjalan pelan tetap lebih baik daripada berhenti karena merasa kalah. Tetap semangat, ya.