Sukses

Lifestyle

Ketika Journaling jadi Ruang Bercerita, Perasaanmu Bisa Lebih Mudah Dipahami

Fimela.com, Jakarta - Ada deadline yang menumpuk, group chat yang ramai karena ada aba-aba untuk revisi total, notifikasi pengingat daftar kegiatan di hari esok yang harus kamu kerjakan. Di sisi lain, kamu masih harus jadi manusia yang berfungsi dengan normal: makan, mandi, jawab chat satu-satu, seperti semuanya harus dilakukan dengan baik-baik saja.

Banyak mahasiswa merasa stres bukan hanya karena tugas, tapi karena perasaan internally overload: soal ekspektasi diri, rasa tertinggal dengan teman, takut mengecewakan orang tua, sampai krisis arah hidup.

Sahabat Fimela, kalau rasanya kepala terlalu penuh, mungkin kamu tidak butuh mencari jalan keluar dulu. Barangkali kamu butuh mencari ruang untuk bisa bernapas sejenak. Salah satu ruang yang paling sederhana adalah dengan journaling.

Saat Tulisan menjadi Ruang Aman untuk Mengolah Emosi

Sahabat Fimela, journaling bukan cuma soal “menulis diary”. Ia adalah cara memindahkan isi kepala ke permukaan kertas (atau layar), supaya pikiran tidak harus menanggung semuanya sendirian.

Secara psikologis, menulis membantu otak memproses emosi yang kusut menjadi sesuatu yang lebih terstruktur. Saat ditulis, perasaan yang tadinya terasa seperti badai sering berubah jadi serupa peta, mungkin terlihat rumit, tapi memudahkan untuk dibaca.

Journaling tidak perlu terdiri dari bakat menulis. Tidak perlu kalimat indah yang sarat akan makna. Bahkan tidak perlu rapi. Masalahnya, semua itu sering berputar di kepala tanpa pintu keluar yang nyata. Journaling mampu bekerja seperti katup yang melepaskan tekanan.

Yuk Mulai Journaling Tanpa Takut Salah

Journaling yang terapeutik justru sering berantakan. Untuk menuliskannya, Sahabat Fimela bisa mulai dengan format paling sederhana, yaitu menulis tanpa sensor selama 10 menit. Apa pun yang muncul, tuliskan saja. Biarkan rasa cemas, kesal, takut, iri, capek, dan bingung keluar secara apa adanya. Pikirkan bahwa kertasmu adalah benda tak hidup dan ia tidak bisa menghakimi perasaan kamu.

Kalau kamu kebingungan dari mana harus memulai, kamu bisa coba beberapa pemantik ini:

  • “Hal yang paling bikin aku lelah hari ini adalah…”
  • “Yang sebenarnya aku takutkan dari situasi ini…”
  • “Kalau aku tidak perlu terlihat kuat, aku akan mengakui bahwa…”
  • “Tiga hal kecil yang masih bisa aku syukuri hari ini…

Untuk mahasiswa dengan jadwal yang padat, journaling tidak perlu dilakukan lama-lama. Lima sampai sepuluh menit sudah cukup, asalkan rutin. Bisa dilakukan setelah bangun, sebelum tidur, atau setelah kegiatan yang terasa berat. Konsistensi menulis dan sikap jujur pada perasaan yang dimiliki akan lebih penting daripada panjang-pendek sebuah tulisan. 

Coretan Kecil Bisa menjadi Langkah Besar dari Proses Pulih

Jika kamu tipe yang menyukai komponen visual dalam dunia literasi, journaling juga bisa dikombinasikan dengan coretan, simbol, warna, atau skala emosi harian. Tidak harus selalu paragraf, boleh berupa poin, peta pikiran, bahkan satu kalimat jujur per hari. 

Perlu diingat, journaling bukan pengganti bantuan profesional saat kondisi kamu dirasa sudah mengganggu fungsi hidup. Akan tetapi, ia bisa menjadi pertolongan pertama emosional, tempat kamu didengar oleh dirimu sendiri. Dan sering kali, mendengarkan jadi langkah kecil untuk awal yang besar dari kata pulih.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading