Fimela.com, Jakarta - Self reward sering dipahami sebagai cara memanjakan diri setelah lelah beraktivitas. Beberapa bentuk self reward adalah belanja kecil, makan enak, atau menikmati acara TV favorit. Dalam batas tertentu, self reward adalah hal yang wajar dan bisa membantu memperbaiki mood Sahabat Fimela.
Namun, tidak semua self reward bisa dibilang benar-benar memulihkan. Sebagian hanya menjadi pelarian cepat dari emosi yang tidak nyaman, bukan bentuk perawatan diri yang sesungguhnya.
Sahabat Fimela, self reward yang sehat bukan sekadar soal memberi kesenangan, tetapi tentang mengatur ulang kondisi emosi. Ia berfungsi seperti jeda yang menenangkan sistem saraf, bukan tombol mute perasaan sementara. Yuk, kita pahami pentingnya memahami perbedaan antara reward yang regulatif dan reward yang impulsif!
Reward yang Sehat Tidak Hanya Menyenangkan tapi Memulihkan
Self reward yang sehat berfungsi sebagai regulasi emosi, membantu tubuh dan pikiran kembali stabil setelah stres. Efeknya tidak selalu berupa ledakan senang, tapi rasa tenang yang bertahan lebih lama. Aktivitas seperti tidur cukup, mandi air hangat, berjalan santai tanpa distraksi, atau menulis jurnal mungkin terasa sederhana, tetapi berdampak nyata bagi sistem saraf dan perasaan.
Sebaliknya, reward impulsif biasanya mengejar kesenangan cepat. Ia terasa mendesak dan sulit ditunda. Contohnya, checkout mendadak saat stres, doomscrolling berjam-jam, atau konsumsi makanan berlebihan. Kesenangan muncul secara cepat, lalu hilang dengan cepat, dan sering meninggalkan rasa bersalah atau rasa lelah tambahan.
Kenapa Saat Lelah Kita Cenderung Impulsif?
Saat stres dan kelelahan, kapasitas kontrol diri menurun. Otak secara alami mencari “jalan pintas” untuk merasa lebih baik melalui dopamin instan. Itu sebabnya keinginan belanja, makan berlebihan, atau hiburan tanpa batas sering muncul tepat saat kita paling lelah.
Respons ini manusiawi, bukan tanda lemah, tapi tetap perlu disadari. Tanpa jeda refleksi, self reward mudah berubah menjadi pola pelarian yang berulang. Kita merasa “diobati” sebentar, tapi tidak benar-benar pulih.
Cara Membedakan Reward Regulatif dan Reward Pelarian
Cara paling praktis membedakannya adalah memeriksa dorongan dan dampaknya.
Ciri reward regulatif:
- Dipilih dengan sadar, bukan mendesak
- Intensitasnya dilakukan wajar
- Mendukung energi tubuh
- Tidak menimbulkan penyesalan
- Setelah melakukannya,mood terasa lebih stabil
Ciri reward pelarian:
- Terasa “harus sekarang dilakukan”
- Sulit dihentikan
- Biasanya dilakukan dengan berlebihan
- Diikuti rasa bersalah
- Tak jarang akan menimbulkan masalah baru (uang, waktu, energi)
Self Reward adalah Bentuk Self Respect
Self reward yang sehat bukan berarti memanjakan diri tanpa batas. Justru sebaliknya, self reward adalah bentuk menghargai kapasitas diri secara realistis. Kita memberi validasi jika diri kita lelah, memberi jeda, lalu memulihkan energi dengan cara yang tidak merusak diri sendiri setelahnya.
Reward yang kita berikan pada diri sendiri pun tidak harus memiliki nominal yang mahal atau besar. Sering kali, yang paling efektif justru yang paling sederhana, misalnya istirahat dengan cukup, membeli makanan kesukaan, mandi air hangat, atau hangout dengan orang-orang terdekat. Sahabat Fimela, self reward terbaik bukan yang paling heboh, tapi yang paling membantu kita merasa kembali utuh dan sanggup bernapas lagi dengan lebih lapang.