Sukses

FimelaMom

Mengapa Biaya Egg Freezing Begitu Mahal? Mengulik Proses dan Tantangan di Baliknya

Fimela.com, Jakarta Dalam beberapa tahun terakhir, egg freezing atau pembekuan sel telur semakin diminati oleh perempuan yang ingin memiliki kendali lebih atas rencana reproduksinya. Prosedur ini dipandang sebagai bentuk investasi biologis, terutama bagi mereka yang ingin menunda kehamilan karena faktor karier, kesehatan, atau belum bertemu pasangan yang tepat. Meski menawarkan kebebasan dalam merencanakan masa depan, banyak yang terkejut ketika mengetahui bahwa biaya untuk menjalani egg freezing bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Hal ini memunculkan pertanyaan: mengapa biayanya begitu tinggi dan apa saja yang membuat proses ini begitu rumit?

Tingginya biaya egg freezing tidak lepas dari kompleksitas proses dan teknologi canggih yang digunakan. Berdasarkan sumber dari hertilityhealth.com, setiap tahap memerlukan keahlian medis tingkat tinggi, mulai dari pemeriksaan kesuburan, stimulasi hormon, pengambilan sel telur, hingga proses pembekuan dengan metode khusus yang menjaga kualitas sel telur tetap baik dalam jangka panjang. Seluruh tahapan ini membutuhkan pengawasan ketat dari dokter spesialis fertilitas dan tidak bisa dilakukan secara cepat atau sederhana. Di luar itu, biaya penyimpanan sel telur di fasilitas khusus selama bertahun-tahun turut menjadi faktor yang membuat total pengeluaran semakin besar.

Meski demikian, banyak perempuan menganggap egg freezing sebagai langkah penting untuk menjaga kesempatan memiliki anak di masa depan. Prosedur ini memberikan ruang bagi mereka untuk menunda kehamilan tanpa kehilangan peluang kesuburan. Namun, di balik manfaatnya, terdapat tantangan fisik dan emosional yang tidak ringan, mulai dari efek samping obat hormon hingga tekanan mental selama proses berlangsung. Artikel ini akan membahas lebih dalam alasan di balik tingginya biaya egg freezing, tahapan yang harus dilalui, serta tantangan yang kerap dihadapi, agar kita dapat memahami nilai dan makna sebenarnya dari teknologi reproduksi modern ini.

Proses egg freezing

Proses egg freezing diawali dengan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kondisi kesehatan dan tingkat kesuburan seseorang. Tahapan ini mencakup tes darah guna memeriksa kadar hormon serta pemeriksaan USG untuk menilai jumlah dan kualitas sel telur dalam ovarium. Selanjutnya, pasien akan menjalani stimulasi ovarium melalui suntikan hormon tertentu yang berfungsi merangsang indung telur agar menghasilkan lebih banyak sel telur matang dalam satu siklus. Sepanjang proses tersebut, dokter akan melakukan pemantauan berkala guna memastikan perkembangan sel telur berjalan optimal dan mencegah munculnya efek samping. Setelah sel telur dinyatakan siap, proses pengambilannya dilakukan dengan jarum khusus yang dibantu oleh teknologi ultrasonografi dan biasanya dilakukan di bawah anestesi ringan agar pasien tetap merasa nyaman.

Tahap berikutnya adalah proses pembekuan menggunakan metode vitrifikasi, yaitu teknik pembekuan super cepat untuk mencegah terbentuknya kristal es yang dapat merusak struktur sel telur. Sel telur yang telah dibekukan kemudian ditempatkan di dalam wadah berisi nitrogen cair bersuhu sangat rendah, sekitar -196°C. Pada kondisi ini, sel telur dapat bertahan dalam waktu lama tanpa mengalami penurunan kualitas yang berarti. Seluruh rangkaian tahapan ini membutuhkan fasilitas laboratorium dengan standar tinggi serta tenaga ahli embriologi berpengalaman untuk memastikan keamanan dan keberhasilan prosesnya. Dari pemeriksaan awal hingga tahap penyimpanan, setiap langkah dalam prosedur egg freezing melibatkan teknologi mutakhir, ketelitian tinggi, dan biaya operasional besar yang semuanya berkontribusi pada tingginya total biaya prosedur ini.

Tantangan sebelum maupun setelah proses

Menjalani prosedur egg freezing tidak hanya menuntut kesiapan dari segi biaya, tetapi juga kesiapan fisik dan mental yang matang. Sebelum proses dimulai, pasien akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis dan stimulasi hormon yang berpotensi menimbulkan efek samping seperti perubahan mood, perut terasa kembung, nyeri, hingga kelelahan. Bagi sebagian perempuan, fase ini bisa cukup menguras emosi karena adanya perubahan hormon yang drastis dan jadwal pemeriksaan yang ketat. Selain itu, keputusan untuk melakukan egg freezing sering kali melibatkan pergulatan batin, mulai dari tekanan sosial mengenai usia dan kesuburan hingga kekhawatiran terhadap keberhasilan prosedur di masa mendatang. Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, dukungan dari tim medis, keluarga, maupun konselor menjadi hal penting agar pasien dapat menjalani proses dengan tenang dan percaya diri.

Namun, tantangan tidak berhenti setelah proses pembekuan selesai dilakukan. Pasien perlu mempertimbangkan komitmen jangka panjang, seperti biaya penyimpanan tahunan serta ketidakpastian hasil ketika sel telur digunakan di masa depan. Walaupun teknologi pembekuan saat ini terus berkembang, tingkat keberhasilan kehamilan tetap dipengaruhi oleh faktor usia saat pembekuan dan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Di samping itu, aspek emosional juga menjadi bagian penting, karena tidak sedikit yang merasa cemas atau menyesal apabila hasilnya tidak sesuai harapan. Oleh sebab itu, egg freezing sebaiknya tidak hanya dipandang sebagai cara praktis untuk menunda kehamilan, tetapi juga sebagai langkah besar yang memerlukan kesiapan mental, kesadaran penuh, dan perencanaan yang matang bagi setiap perempuan yang menjalaninya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading