Fimela.com, Jakarta - Multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas dan kemampuan mengatur banyak hal sekaligus. Terutama bagi perempuan yang terbiasa memegang banyak peran, sebagai pekerja, teman, pasangan, dan anggota keluarga. Bagi mereka, kemampuan mengerjakan beberapa tugas dalam waktu bersamaan kerap terasa seperti keharusan. Namun di balik kesan “sigap”, multitasking yang terus-menerus bisa menjadi pemicu kelelahan mental atau mental fatigue yang datang perlahan tanpa disadari.
Mental fatigue bukan sekadar rasa capek biasa. Ini adalah kondisi ketika otak terasa penuh, sulit fokus, mudah terdistraksi, dan emosi menjadi lebih sensitif. Menariknya, banyak orang mengira penyebabnya adalah kurang tidur atau terlalu banyak pekerjaan, padahal salah satu pemicunya justru kebiasaan berpindah-pindah tugas sepanjang hari.
Dilansir dari verywellmind.com, multitasking bisa menurunkan efisiensi kerja dan berdampak pada kesehatan mental karena otak kita tidak benar-benar bisa fokus pada dua tugas berat sekaligus. Artikel ini akan membahas lebih dalam mengenai bagaimana mental fatigue dapat muncul, terutama diakibatkan oleh kebiasaan multitasking. Yuk, kita simak.
Multitasking dan Ilusi Produktivitas
Saat dilakukan, multitasking memberi sensasi seolah kita akan mampu menyelesaikan banyak hal sekaligus. Membalas chat sambil mendengarkan meeting atau berselancar di sosial media sambil menyusun laporan. Memang terasa cepat dan terasa aktif. Namun, produktivitasnya belum tentu efektif.
Yang terjadi saat multitasking adalah task switching, kondisi dimana otak berganti fokus dengan sangat cepat. Ketika perhatian terpecah, maka kualitas fokus akan menurun. Pekerjaan jadi cenderung membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diselesaikan dan sering kali perlu diperiksa ulang karena ada detail yang terlewat. Akibatnya, beban mental justru bertambah. Otak bekerja dua kali, untuk mengerjakan dan untuk memperbaiki.
Dalam jangka panjang, pola ini menciptakan rasa lelah yang tidak hilang hanya dengan istirahat singkat. Kepala terasa “ramai”, tetapi hasil kerja tidak terasa maksimal, sebuah kombinasi kuat untuk memunculkan rasa frustrasi.
Tanda Mental Fatigue Akibat Terlalu Banyak Task Switching
Mental fatigue karena multitasking sering muncul dengan tanda-tanda yang mudah terlewatkan karena terasa kecil, misalnya:
- Sulit mempertahankan fokus lebih dari beberapa menit
- Mudah terdistraksi notifikasi kecil
- Membaca kalimat yang sama berulang kali
- Cepat merasa jenuh pada tugas yang butuh konsentrasi
- Mudah tersinggung atau emosional
- Merasa “penuh” padahal pekerjaan belum banyak selesai
Kondisi ini sering disalahartikan sebagai kurang motivasi, padahal bisa jadi karena otak hanya kelelahan setelah terus dipaksa berpindah-pindah jalur.
Cara Bekerja Lebih Fokus Tanpa Mengorbankan Produktivitas
Mengurangi multitasking bukan berarti menjadi lambat. Justru sebaliknya, fokus tunggal sering menghasilkan kerja yang lebih cepat dan rapi. Ada beberapa strategi sederhana bisa Sahabat Fimela coba untuk mengurangi kebiasaan multitasking, yaitu:
- Gunakan sistem blok waktu: Kerjakan satu jenis tugas dalam satu rentang waktu tertentu, misalnya 25–45 menit, tanpa membuka tugas lain.
- Kelompokkan tugas sejenis: Balas pesan di satu waktu khusus dan cek email di jam tertentu, bukan diamati secara terus-menerus sepanjang hari.
- Minimalkan notifikasi aktif: Notifikasi adalah pemicu utama terjadinya task switching. Matikan notifikasi yang dirasa tidak mendesak.
- Buat seolah ada “tab terbuka” di dalam kepala: Jika ada hal lain muncul saat sedang fokus, catat lebih dahulu, tapi kerjakan nanti.
- Sisipkan jeda untuk istirahat mental: Istirahat singkat tanpa layar mampu membantu otak untuk reset lebih efektif daripada doomscrolling. Bisa dengan jalan-jalan ringan, journaling, merapikan ruangan, atau meditasi singkat.
Produktif Bukan Berarti Dikerjakan untuk Selesai Serentak
Ada pergeseran cara pandang yang mulai berkembang dalam gaya hidup modern, produktif tidak harus berarti melakukan banyak hal sekaligus, tetapi melakukan hal yang tepat dengan perhatian utuh. Fokus menjadi sebuah bentuk energi yang bernilai dan layak dijaga.
Sahabat Fimela, mengurangi multitasking bukan pertanda produktivitasmu menurun, melainkan bentuk merawat kapasitas mentalmu dalam proses mengerjakan sesuatu. Saat fokus dijaga dan kita membuat diri kita “lebih awas” terhadap ritme kerja, maka energi kita menjadi tidak cepat habis dan hasil pekerjaan pun akan terasa lebih optimal. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Sahabat Fimela ya!