6 Strategi Membantu Anak Mengatasi Rasa Takut Gagal agar Lebih Percaya Diri

Siti Nur ArishaDiterbitkan 05 Juni 2026, 08:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, rasa takut gagal sering kali menjadi penghalang terbesar bagi anak untuk mencoba hal baru. Di sekolah, anak mungkin memilih diam karena takut jawabannya salah. Di rumah, mereka bisa langsung menyerah saat merasa kesulitan, lalu berkata, “Aku nggak bisa.” Jika dibiarkan, ketakutan ini bukan hanya memengaruhi prestasi, tetapi juga kepercayaan diri dan keberanian mereka dalam menghadapi tantangan hidup.

Ketakutan terhadap kegagalan biasanya muncul karena anak mengaitkan hasil dengan harga diri. Ketika nilai kurang bagus atau performanya tidak sempurna, mereka merasa dirinya tidak cukup baik. Akibatnya, ada anak yang memilih menghindar sebelum mencoba, dan ada pula yang mudah frustrasi ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Pola ini bisa terbentuk sejak usia dini jika anak tidak dibekali cara pandang yang sehat terhadap kesalahan.

Dilansir dari Big Life Journal, rasa takut gagal sebenarnya bisa diubah dengan pendekatan yang tepat. Dengan strategi berbasis riset dan pola asuh yang mendukung growth mindset, orangtua dapat membantu anak melihat kegagalan sebagai bagian alami dari proses belajar, bukan sebagai cerminan nilai dirinya. Berikut enam strategi yang bisa Sahabat Fimela terapkan di rumah.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Ubah Cara Pandang tentang Kegagalan

Anak belajar dari reaksi orangtuanya. Jika setiap kesalahan ditanggapi dengan kepanikan atau kekecewaan berlebihan, anak akan menangkap pesan bahwa gagal adalah sesuatu yang memalukan. (foto/dok: freepik)

Anak belajar dari reaksi orangtuanya. Jika setiap kesalahan ditanggapi dengan kepanikan atau kekecewaan berlebihan, anak akan menangkap pesan bahwa gagal adalah sesuatu yang memalukan.

Cobalah Sahabat Fimela merespons kesalahan dengan lebih ringan. Ceritakan pengalaman pribadi saat kamu gagal, lalu jelaskan pelajaran apa yang bisa diambil. Bahkan, beberapa orangtua membiasakan anak untuk menceritakan “kegagalan hari ini” saat makan malam sebagai bentuk apresiasi atas keberanian mencoba.

2. Fokus pada Proses dan Usaha, Bukan Bakat

Sering kali tanpa sadar kita memuji anak dengan kalimat seperti, “Kamu memang pintar,” atau “Kamu berbakat.” Padahal, pujian yang terlalu menekankan kemampuan bawaan justru bisa membuat anak takut gagal karena khawatir label “pintar” itu hilang.

Anak yang dipuji karena usaha dan strategi cenderung lebih gigih menghadapi tantangan dibanding anak yang dipuji karena kecerdasan. Saat menghadapi soal sulit, anak yang terbiasa dihargai usahanya akan mencoba lagi. Sementara itu, anak yang terlalu fokus pada label pintar bisa langsung menyerah ketika menemui kesalahan.

Alih-alih berkata, “Kamu memang jago matematika,” coba katakan, “Mama lihat kamu berusaha keras menyelesaikan soal tadi.” Dengan begitu, anak memahami bahwa keberhasilan datang dari latihan dan ketekunan.

3. Tunjukkan Cinta Tanpa Syarat

Banyak anak mengaitkan prestasi dengan penerimaan orangtua. Mereka takut gagal karena khawatir mengecewakan.

Sahabat Fimela, pastikan anak tahu bahwa kasih sayang orangtua tidak bergantung pada nilai, medali, atau pencapaian tertentu ya! Hindari terlalu banyak mengoreksi pekerjaan mereka atau mengambil alih tugas demi hasil sempurna. Biarkan mereka belajar dari prosesnya, sambil tetap merasa dicintai.

4. Lakukan Latihan Skenario Terburuk

Ketika anak takut mencoba sesuatu yang baru, ajak ia berpikir bersama. Tanyakan, “Apa hal terburuk yang mungkin terjadi?” Lalu lanjutkan dengan, “Seberapa besar kemungkinan itu terjadi?” dan “Apa yang bisa kita lakukan kalau itu benar-benar terjadi?”

Dengan membayangkan skenario terburuk secara rasional, anak biasanya menyadari bahwa ketakutannya tidak sebesar yang ia bayangkan. Cara ini juga membantu anak merasa punya kendali, karena ia belajar bahwa selalu ada langkah pencegahan atau solusi, lho Sahabat Fimela. 

3 dari 3 halaman

5. Ajarkan Fokus pada Solusi, Bukan Masalah

Sebagai orangtua, wajar jika ingin melindungi anak dari kesalahan. Namun terlalu cepat menolong justru membuat anak tidak belajar bertanggung jawab. (foto/dok: freepik/8photo)

Sebagai orangtua, wajar jika ingin melindungi anak dari kesalahan. Namun terlalu cepat menolong justru membuat anak tidak belajar bertanggung jawab.

Saat anak melakukan kesalahan, ajukan pertanyaan seperti, “Menurutmu apa yang bisa diperbaiki?” atau “Apa yang bisa kamu lakukan berbeda besok?” Dengan begitu, anak belajar bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan kesempatan untuk mencoba pendekatan lain.

6. Ajak Anak Berdiskusi tentang Makna Sukses

Sering kali anak hanya melihat “puncak gunung es” dari sebuah kesuksesan. Mereka tidak melihat latihan panjang, penolakan, dan kegagalan di baliknya.

Gunakan analogi gunung es untuk menjelaskan bahwa keberhasilan selalu memiliki proses panjang di bawah permukaan. Beri contoh tokoh inspiratif seperti Michael Jordan yang pernah gagal masuk tim utama saat sekolah, tetapi tidak menyerah dan justru menjadikannya motivasi untuk berkembang. Diskusi seperti ini membantu anak memahami bahwa gagal adalah bagian alami dari perjalanan menuju impian, lho! 

Sahabat Fimela, rasa takut gagal memang bisa memengaruhi kepercayaan diri anak. Namun dengan pola asuh yang tepat, anak dapat belajar bahwa kesalahan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan peluang untuk tumbuh. Ketika anak berani mencoba tanpa takut dihakimi, di situlah kepercayaan diri dan ketangguhan mulai terbentuk.

Penulis: Siti Nur Arisha