Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, masa liburan menjadi salah satu hal yang paling ditunggu bagi anak-anak. Dengan liburan, mereka bisa melakukan berbagai kegiatan yang disukai, seperti bermain dan berlibur bersama keluarga. Namun, ketika liburan menjelang berakhir, anak-anak biasanya akan merasa sedih, cemas, bahkan kehilangan motivasi jika harus kembali ke rutinitas sehari-hari. Untuk mengatasi post holiday meltdown pada anak, Sahabat Fimela bisa melakukan beberapa tips parenting yang tepat.
Dilansir dari thebump.com, ada beberapa alasan yang menyebabkan kenapa anak cenderung lebih sering kehilangan motivasi saat liburan akan berakhir. Biasanya, mereka belum memiliki kemampuan untuk menghadapi semua perubahan itu. Salah satu tips parenting adalah membantu si kecil untuk menenangkan mereka. Itulah sebabnya, penting bagi orangtua untuk memberikan motivasi dan mengajarkan mereka agar bisa kembali menjalankan keseharian.
Agar si kecil menjadi lebih bersemangat pergi ke sekolah, orangtua bisa melakukan beberapa tips yang bisa dicoba sebelum liburan selesai. Lalu, apa saja cara yang simple untuk mengatasi anak-anak yang merasa post holiday meltdown? Yuk simak beberapa tips yang bisa dilakukan agar anak kembali termotivasi menjalankan kegiatan rutinitas sehari-hari.
Cara Menangani Post Holiday Meltdown pada Anak
1. Tetap tenang saat anak meltdown
Ketika anak tiba-tiba menangis keras, marah atau rewel setelah liburan, hal pertama yang perlu Sahabat Fimela lakukan adalah menjaga diri agar tetap tenang. Biasanya, anak memang belum bisa mengatur emosinya sendiri. Bahkan, mereka cenderung meniru emosi orangtua. Jika orangtua ikut kesal atau membentak, anak akan semakin tidak terkendali. Sebaliknya, jika orangtua berbicara dengan suara lembut dan tetap sabar, anak akan merasa lebih aman sehingga emosinya akan mereda secara perlahan-lahan.
2. Jauhkan anak dari situasi yang terlalu ramai
Jika meltdown terjadi di tempat yang bising atau penuh aktivitas, segera ajak anak ke tempat yang lebih tenang. Selama liburan, anak biasanya terpapar banyak hal baru, seperti suara ramai, orang banyak, aktivitas padat. Ini bisa membuat mereka kelelahan secara emosional (overstimulation). Dengan memindahkan anak ke lingkungan yang lebih sepi, tubuh, dan pikirannya bisa lebih cepat tenang.
3. Berikan pelukan dan perhatian penuh
Saat anak mulai menangis atau marah, kita bisa mencoba untuk mendekati mereka dengan lembut, memberikan pelukan atau menemani tanpa banyak bicara dulu. Dengan melakukan kontak fisik seperti pelukan, hal itu bisa membuat anak merasa aman dan dicintai. Hal ini juga menjadi salah satu cara untuk membantu mereka menurunkan stres. Biasanya, setelah liburan dengan aktivitas yang banyak berubah, anak sering merasa tidak stabil sehingga kehadiran orangtua secara penuh sangat penting.
4. Bantu anak mengenali perasaannya
Setelah anak mulai tenang, Sahabat Fimela bisa mengajak mereka untuk memahami apa yang sedang dirasakan. Misalnya, orang tua bisa berkata, “Kamu capek ya?” atau “Kamu sedih karena liburannya sudah selesai?” Kalimat sederhana seperti ini membantu anak belajar mengenali emosi mereka. Hal tersebut juga penting untuk perkembangan kemampuan mengelola emosi di masa depan.
5. Kembalikan rutinitas secara perlahan
Setelah liburan, segera kembalikan jadwal harian seperti jam tidur, makan, dan bermain. Selama liburan, biasanya jadwal anak banyak mengalami perubahan, seperti jadwal tidur yang lebih larut, makan tidak teratur atau aktivitas menjadi lebih padat. Berbagai perubahan rutinitas yang terjadi selama liburan bisa membuat anak merasa bingung. Dengan memberikan rutinitas yang konsisten, anak akan merasa nyaman dan aman karena anak tahu apa yang akan terjadi setiap hari.
6. Pastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi
Sahabat Fimela, penting untuk memastikan bahwa kebutuhan dasar anak benar-benar terpenuhi, seperti tidur yang cukup, makan teratur, dan tidak dalam kondisi terlalu lelah. Sering kali, ledakan emosi pada balita bukan disebabkan hal besar, melainkan karena hal sederhana seperti rasa lapar atau kurang istirahat. Setelah melalui masa liburan yang padat dan melelahkan, tubuh anak membutuhkan waktu untuk kembali pulih. Ketika kondisi fisiknya sudah kembali nyaman dan tercukupi, biasanya suasana hatinya pun akan menjadi lebih tenang dan stabil.
Sahabat Fimela, post holiday meltdown pada balita adalah hal yang wajar terjadi setelah masa liburan yang penuh perubahan dan aktivitas. Kondisi ini umumnya dipicu oleh kelelahan, perubahan rutinitas serta kemampuan anak yang masih terbatas dalam mengelola emosi. Oleh karena itu, peran orangtua sangat penting untuk membantu anak beradaptasi kembali, mulai dari tetap bersikap tenang, memberikan rasa aman melalui perhatian dan pelukan hingga secara perlahan mengembalikan rutinitas harian serta memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi. Dengan pendampingan yang penuh kesabaran dan konsisten, anak akan lebih mudah kembali merasa nyaman, tenang, dan termotivasi menjalani aktivitas sehari-hari seperti semula.