Cara Memutus Siklus Pola Asuh Toxic demi Hubungan yang Lebih Sehat dengan Anak

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 06 Agustus 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, setiap orangtua tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun pada kenyataannya, pola asuh yang diterima sejak kecil seringkali tanpa sadar ikut terbawa ketika kita membesarkan anak sendiri. Mulai dari kebiasaan membentak, sulit memvalidasi perasaan anak, hingga pola komunikasi yang penuh tekanan, semuanya bisa menjadi warisan dari generasi sebelumnya.

Banyak orang akhirnya menyadari bahwa ada pola asuh tertentu dalam keluarga yang terasa menyakitkan dan tidak ingin diteruskan kepada anak-anak mereka. Proses inilah yang sering disebut sebagai breaking the cycle atau menghentikan siklus pola asuh toxic dalam keluarga.

Dilansir dari Parents.com, menghentikan pola asuh toxic memang bukan proses yang mudah. Namun, langkah ini dapat membantu menciptakan hubungan keluarga yang lebih sehat dan penuh empati di masa depan.

Sadari Pola yang Selama Ini Dianggap Normal

Langkah pertama untuk menghentikan pola asuh toxic adalah menyadari bahwa tidak semua hal yang dianggap “normal” dalam keluarga sebenarnya sehat. Misalnya, anak selalu dituntut untuk diam saat sedih, dilarang mengungkapkan pendapat, atau dibesarkan dengan ancaman dan rasa takut.

Banyak orang baru menyadari dampaknya ketika mereka tumbuh dewasa dan mulai merasa kesulitan mengelola emosi, takut membuat kesalahan, atau sulit merasa cukup baik. Dengan mengenali pola-pola tersebut, kita bisa mulai memilah mana nilai yang ingin dipertahankan dan mana yang perlu dihentikan.

 

 

2 dari 3 halaman

Jangan Sekadar Melakukan Kebalikan dari Orangtua

Sahabat Fimela, penting untuk membangun pola asuh berdasarkan nilai yang benar-benar diyakini terlebih dahulu. [Dok/freepik.com]

Saat ingin memperbaiki pola asuh, sebagian orang memilih melakukan hal yang sepenuhnya berlawanan dengan cara orangtuanya dulu. Padahal, pendekatan yang terlalu ekstrem juga belum tentu sehat.

Sebagai contoh, pola asuh yang terlalu keras bisa berubah menjadi terlalu membebaskan tanpa batasan yang jelas. Karena itu, penting untuk membangun pola asuh berdasarkan nilai yang benar-benar diyakini, bukan hanya karena ingin berbeda dari generasi sebelumnya.

Tentukan Nilai yang Ingin Ditanamkan pada Anak

Cobalah bertanya pada diri sendiri, “Orangtua seperti apa yang ingin aku menjadi?” dan “Nilai apa yang ingin aku tanamkan pada anak?” Apakah ingin membangun hubungan yang lebih terbuka? Ingin anak merasa aman untuk bercerita? Atau ingin menciptakan lingkungan rumah yang lebih tenang dan suportif?Ketika pola asuh dibangun berdasarkan nilai yang jelas, orangtua biasanya lebih mudah mengambil keputusan tanpa terbawa luka masa lalu.

Belajar Mengelola Emosi dengan Lebih Sehat

Tidak sedikit pola asuh toxic muncul karena orangtua kesulitan mengatur emosi mereka sendiri. Saat lelah atau stres, respons yang keluar seringkali berupa bentakan, kata-kata kasar, atau hukuman berlebihan.

Karena itu, penting untuk mulai belajar mengenali emosi sebelum bereaksi. Mengambil jeda sejenak, menarik napas, atau menenangkan diri sebelum berbicara pada anak dapat membantu memutus siklus respons emosional yang menyakitkan.

 

 

3 dari 3 halaman

Berani Meminta Maaf kepada Anak

Ketika orangtua mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus, anak belajar bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya. [Dok/freepik.com/pch.vector]

Sebagian besar generasi sebelumnya tumbuh dengan anggapan bahwa orangtua selalu benar dan tidak perlu meminta maaf kepada anak. Padahal, kemampuan meminta maaf justru menunjukkan kedewasaan emosional.Ketika orangtua mengakui kesalahan dan meminta maaf dengan tulus, anak belajar bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Menghentikan pola asuh toxic sering kali memunculkan luka lama yang belum selesai. Dalam beberapa kasus, proses ini bisa terasa sangat melelahkan secara emosional. Karena itu, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional seperti psikolog atau terapis untuk membantu memahami trauma masa kecil dan membangun pola pengasuhan yang lebih sehat.

Pahami bahwa Proses Ini Tidak Selalu Mudah

Sahabat Fimela, menjadi orang yang menghentikan siklus toxic dalam keluarga memang membutuhkan keberanian besar. Akan ada momen ketika kita tanpa sadar mengulangi pola lama, merasa gagal, atau kelelahan menghadapi emosi sendiri.

Namun yang terpenting bukan menjadi orangtua yang sempurna, melainkan terus belajar untuk menjadi lebih sadar, lebih lembut, dan lebih bertanggung jawab terhadap anak maupun diri sendiri.