7 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Pasangan Saat Percikan Asmara Mulai Meredup

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 25 Mei 2026, 15:15 WIB

ringkasan

  • Kehadiran dan dukungan yang konsisten adalah kunci membangun kepercayaan dan keamanan emosional dalam hubungan.
  • Kepercayaan diperoleh melalui tindakan kecil sehari-hari, seperti ungkapan terima kasih dan penghargaan.
  • Hindari menjelek-jelekkan pasangan kepada orang lain; masalah hubungan sebaiknya dibicarakan langsung dengan pasangan.

Fimela.com, Jakarta - Dalam setiap perjalanan cinta yang panjang, wajar jika gairah dan percikan asmara yang membara di awal hubungan mulai terasa meredup. Fenomena ini bukanlah pertanda buruk, melainkan fase alami yang dihadapi banyak pasangan. Namun, bagi pasangan yang memiliki keamanan emosional yang kuat, momen ini justru menjadi kesempatan untuk memperkuat ikatan. Mereka memiliki cara-cara sederhana namun mendalam untuk menjaga hubungan tetap hidup dan intim, bahkan ketika "percikan" tersebut terasa memudar.

Sebuah artikel dari YourTango berjudul "7 Simple Things Emotionally Secure Couples Do When The Spark Starts Fading" menyoroti beberapa praktik kunci yang dilakukan oleh pasangan-pasangan ini. Keamanan emosional sendiri adalah fondasi penting yang menyatukan hubungan, membantu melewati masa sulit, dan menghadapi berbagai pasang surut.

2 dari 3 halaman

Fondasi Kuat: Kehadiran dan Kepercayaan yang Konsisten

Salah satu pilar utama dalam hubungan yang aman secara emosional adalah kehadiran dan dukungan yang konsisten. Pasangan yang aman secara emosional selalu ada untuk satu sama lain, baik di masa senang maupun sulit. Konsistensi ini pada akhirnya akan membuahkan hasil dalam sebuah hubungan, membangun rasa percaya dan keamanan emosional.

Sebagai contoh, ketika salah satu pasangan pulang kerja dalam keadaan lelah, namun pasangannya membutuhkan telinga untuk mendengarkan karena mengalami hari yang berat, kehadiran dan dukungan yang diberikan sangat berarti. Momen-momen kecil seperti tetap tinggal dan mendengarkan keluh kesah pasangan, akan memberikan dampak besar dalam jangka panjang.

Kepercayaan juga merupakan komitmen harian yang harus terus dibangun. Pasangan yang aman secara emosional memahami bahwa kepercayaan itu diperoleh, bukan diberikan begitu saja. Seringkali, hal-hal terkecil justru yang membangun kepercayaan terbesar. Ini termasuk mengucapkan terima kasih dan mengungkapkan penghargaan atas apa yang dilakukan pasangan. Misalnya, mengungkapkan rasa syukur karena pasangan meluangkan waktu membantu mencuci piring di tengah kesibukan pekerjaan yang menumpuk. Rasa syukur atas hal-hal kecil yang dilakukan secara berkelanjutan akan membangun dan menjaga kepercayaan dalam hubungan.

Menariknya, sebuah studi oleh QS Bathroom Supplies berjudul "Don't Touch My Stuff", yang meneliti hubungan antara kepercayaan dan keamanan emosional, menemukan beberapa hal unik. Studi ini mengungkapkan bahwa pasangan seringkali memiliki barang-barang dan tugas rumah tangga yang dianggap "terlarang" untuk disentuh atau dilakukan oleh pasangannya. Barang nomor satu yang tidak boleh disentuh adalah ponsel pintar, diikuti oleh komputer dan uang tunai, dengan alasan tidak ingin pasangannya menggunakannya atau khawatir akan rusak.

Untuk tugas rumah tangga, pria sering melarang pasangannya membuang sampah, mencuci mobil, dan memasak. Sementara wanita melarang pasangannya mencuci pakaian, piring, dan memasak. Alasan di balik larangan ini bervariasi, mulai dari pasangan pernah melakukan kesalahan, tidak melakukan tugas sesuai preferensi, atau merasa tidak mampu melakukannya dengan "benar". Studi ini menunjukkan bahwa adanya tugas atau barang terlarang ini mengindikasikan tingkat kepercayaan dalam hubungan. Ketika ada tugas yang dilarang, terjadi penurunan kepercayaan dan keamanan emosional, yang berdampak pula pada keintiman. Namun, studi ini juga menemukan bahwa semakin lama pasangan bersama (biasanya 10 tahun atau lebih), semakin sedikit barang yang tidak boleh disentuh dan tugas yang dilarang di rumah yang mereka miliki.

3 dari 3 halaman

Menjaga Batasan dan Kejujuran: Kunci Keintiman Sejati

Integritas dan rasa hormat terhadap pasangan adalah hal fundamental. Pasangan yang aman secara emosional tidak saling menjelek-jelekkan. Meskipun sedikit keluh kesah kepada sahabat mungkin tidak masalah, masalah nyata dalam hubungan sebaiknya dibicarakan langsung dengan pasangan. Penting untuk tidak membagikan semua "pakaian kotor" hubungan kepada orang lain, karena tindakan ini dianggap tidak sopan dan dapat mengurangi kepercayaan. Perlu diingat, apa yang sudah diucapkan secara lisan atau di media sosial tidak bisa ditarik kembali, dan tangkapan layar akan abadi.

Selain itu, pasangan yang aman secara emosional tidak menyembunyikan kekurangan mereka. Mereka percaya bahwa hubungan yang sehat adalah tempat di mana seseorang bisa menjadi diri sendiri sepenuhnya. Setiap orang memiliki sisi baik dan buruk, dan kedua sisi ini pada akhirnya akan terlihat. Oleh karena itu, penting untuk terbuka dalam berbagi emosi. Ketika emosi tidak dibagikan, seseorang cenderung merasa terjebak. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa berbagi emosi positif bisa lebih penting daripada berbagi emosi negatif dalam hubungan jangka panjang, karena hubungan yang bahagia membutuhkan lebih banyak momen positif daripada momen buruk.

Meskipun artikel YourTango tersebut berjudul "7 Simple Things Emotionally Secure Couples Do When The Spark Starts Fading", hanya empat poin utama yang dijelaskan secara rinci dalam cuplikan yang tersedia. Namun, poin-poin ini menggarisbawahi betapa pentingnya kehadiran, kepercayaan, rasa hormat, dan keterbukaan dalam membangun keamanan emosional yang langgeng, yang pada akhirnya akan menjaga percikan asmara tetap menyala.