Fimela.com, Jakarta - Setelah kolaborasinya dengan Swatch meledak di beberapa negara, Audemars Piguet melanjutkan kesuksesannya sebagai watchmaking dengan koleksi kolaborasi terbaru. Kali ini menggandeng duo kreatif lintas disiplin, Yoon Ahn dan Verbal, dalam koleksi jam tangan Royal Oak Concept Flying Tourbillon
Lebih dari sekadar jam tangan edisi terbatas, koleksi ini terasa seperti pertemuan antara seni, teknologi, fashion, dan kultur modern yang diterjemahkan dalam bahasa haute horlogerie khas Swiss. Hanya diproduksi sebanyak 150 pieces di seluruh dunia, model terbaru ini membawa interpretasi baru terhadap identitas Royal Oak Concept milik Audemars Piguet yang futuristis namun tetap refined.
Dengan diameter 38,5 mm dan balutan titanium, desainnya tampil ringan sekaligus tegas. Nuansa minimalis langsung terasa lewat dial hitam aventurine yang berkilau subtil, dipadukan dengan flying tourbillon merah menyala di posisi pukul enam — detail yang langsung mencuri perhatian tanpa terasa berlebihan.
Menurut Yoon Ahn, proses kreatif di balik jam tangan ini berangkat dari ide tentang keseimbangan dan universalitas.
“Creativity is always in motion,” ungkapnya dalam keterangan resmi. Filosofi itu terasa kuat pada desain yang sengaja dibuat clean dan fokus pada elemen esensial, alih-alih dipenuhi detail ornamental.
Flying Tourbillon Jadi Daya Tarik Utama
Pendekatan tersebut juga selaras dengan karakter label fashion mereka, AMBUSH, yang dikenal konsisten mengeksplorasi desain eksperimental namun tetap wearable. Dalam proyek ini, Yoon dan Verbal membawa sensibilitas fashion dan kultur kontemporer mereka ke ranah watchmaking tanpa menghilangkan DNA khas Audemars Piguet.
Daya tarik utama jam tangan ini tentu terletak pada flying tourbillon merah anodized yang menjadi pusat visual sekaligus simbol energi yang terus bergerak. Verbal menggambarkan warna merah tersebut sebagai representasi inti bumi, sumber energi dan awal mula manusia memahami waktu itu sendiri.
Kesan modern semakin terasa lewat konstruksi dial semi-openworked yang memperlihatkan sebagian mekanisme Calibre 2982 di balik permukaan jam. Alih-alih sekadar memamerkan kompleksitas teknis, elemen ini justru menghadirkan nuansa introspektif: mengajak pemakainya untuk memperlambat ritme dan menikmati detail yang sering luput dari perhatian.
Permainan finishing pada case titanium, mulai dari sandblasted, satin-brushed hingga polished surface, memperlihatkan craftsmanship khas Audemars Piguet yang tetap menjadi fondasi utama koleksi ini. Sementara crown berbahan ceramic hitam dan strap karet interchangeable bertekstur micro-mosaic memberi sentuhan sporty sekaligus kontemporer.
Disesuaikan dengan Gaya Personal
Menariknya lagi, model ini menjadi Royal Oak Concept ukuran 38,5 mm pertama yang dilengkapi interchangeable strap system. Pengguna dapat mengganti tampilan antara strap hitam untuk kesan understated atau strap merah untuk statement yang lebih bold, mengikuti mood maupun gaya personal.
Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana dunia luxury kini semakin cair, di mana batas antara fashion, musik, desain, dan horologi tidak lagi kaku. Di tangan Audemars Piguet, Yoon, dan Verbal, sebuah jam tangan bukan hanya instrumen penunjuk waktu, tetapi juga medium ekspresi budaya dan identitas kreatif.
Dan mungkin, di situlah daya tarik terbesarnya. Bukan hanya pada kompleksitas tourbillon atau status limited edition-nya, melainkan pada bagaimana jam tangan ini terasa relevan dengan generasi modern yang mencari makna, karakter, dan cerita di balik setiap objek yang mereka kenakan.