Fimela.com, Jakarta - Pernahkah Anda merasa sangat lelah setelah menghadiri acara sosial, seolah-olah Anda baru saja menyelesaikan sebuah pertunjukan panjang? Sensasi terkurasnya energi ini bisa jadi merupakan indikasi dari fenomena yang dikenal sebagai "masking" atau penyamaran sosial. Awalnya, istilah ini banyak digunakan dalam konteks individu neurodivergen seperti penderita autisme dan ADHD, namun kini semakin dipahami bahwa "masking" dapat dialami oleh siapa saja dalam berbagai interaksi sosial. Ini adalah perilaku menyembunyikan atau menekan pikiran, perasaan, atau tindakan tertentu demi menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
Mengapa seseorang melakukan "masking"? Perilaku ini sering kali berkembang sebagai mekanisme pertahanan yang dipelajari sejak usia dini. Ada beragam alasan di baliknya, mulai dari keinginan kuat untuk diterima di lingkungan sosial, hingga upaya menghindari stigma atau penilaian negatif terkait kondisi mental atau perilaku mereka. Ekspektasi masyarakat mengenai cara berperilaku di situasi sosial juga bisa mendorong individu untuk menyesuaikan diri meskipun bertentangan dengan perasaan asli mereka. Tak jarang, "masking" juga berfungsi sebagai cara untuk melindungi diri dari potensi konflik atau penolakan.
Tanda-tanda Anda Mungkin Melakukan 'Masking'
Mungkin tanpa disadari, Anda juga kerap melakukan "masking". Psikolog klinis mengidentifikasi beberapa tanda umum yang bisa menjadi petunjuk: Anda mungkin merasa seperti sedang "berakting" atau "tampil" saat berada di dekat orang yang tidak dikenal atau kurang nyaman. Seringkali, Anda menekan emosi sejati, misalnya dengan tersenyum padahal sedang merasa sedih. Meniru perilaku, ekspresi, atau gaya komunikasi orang lain agar lebih mudah dipahami dan interaksi berjalan lancar juga merupakan indikasi. Selain itu, Anda mungkin menahan diri untuk tidak melakukan kebiasaan alami, seperti stimming (gerakan berulang untuk menenangkan diri) atau menghindari kontak mata, meskipun terasa tidak nyaman. Salah satu tanda paling jelas adalah kelelahan ekstrem setelah bersosialisasi dan merasa perlu mengubah cara bertindak, berbicara, atau berperilaku tergantung pada siapa dan di mana Anda berada.
Lalu, mengapa "masking" begitu menguras energi? Marilisa Morea, PsyD, seorang psikolog klinis berlisensi dan pemilik Monarch Therapy and Wellness Center, menjelaskan bahwa "Masking itu melelahkan." Ia menambahkan, "Ini membuat Anda merasa seperti berada di bawah sorotan sepanjang hari setiap hari." Upaya konstan untuk memantau diri dan mengatur perilaku ini sangat membebani secara mental dan emosional. Morea menyoroti bagaimana "aturan" sosial yang terus berubah di setiap situasi membuat usaha untuk mengikutinya menjadi sangat menguras tenaga. "Ini menciptakan banyak emosi negatif dan meningkatkan tingkat stres, karena Anda merasa selalu 'on'. Jadi Anda pulang ke rumah dan ambruk serta merasa perlu mengisi ulang baterai itu," ungkapnya. Kelelahan kronis akibat "masking" ini bahkan dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Dampak Jangka Panjang 'Masking' pada Kesehatan Mental
Meskipun "masking" mungkin menawarkan manfaat jangka pendek seperti penerimaan sosial, dampaknya dalam jangka panjang justru merugikan kesehatan mental. Upaya terus-menerus menyembunyikan diri yang sebenarnya bisa memicu stres kronis, kelelahan emosional, dan bahkan burnout. Ketakutan akan "terbongkar" atau tekanan untuk mempertahankan "topeng" dapat memperburuk kecemasan dan depresi, bahkan meningkatkan risiko pikiran untuk bunuh diri pada beberapa individu. "Masking" juga dapat menghambat pembentukan koneksi yang otentik, menyebabkan perasaan terisolasi dan kurangnya rasa memiliki, meskipun sedang berada di tengah keramaian. Seiring waktu, perbedaan antara diri sejati dan persona yang ditampilkan bisa menjadi kabur, berujung pada kebingungan identitas dan penurunan harga diri. Opland, seorang ahli, mencatat bahwa kebingungan identitas ini sering terlihat dalam lingkungan profesional. "Apakah itu pengacara, perawat, pemadam kebakaran, akuntan, atau hanya orang tua, masking menciptakan hilangnya identitas," kata Opland. "Batas-batas pasti menjadi kabur, dan itu membuat Anda tidak bisa mengetahui apa kebutuhan Anda dibandingkan dengan peran ini." Selain itu, "masking" juga dapat mempersulit penyedia layanan kesehatan untuk mendiagnosis dan menangani kondisi kesehatan mental secara akurat.
Melepas Topeng: Langkah Menuju Diri yang Lebih Otentik
Mengenali bahwa Anda sedang melakukan "masking" adalah langkah awal yang krusial untuk mengatasi kebiasaan ini. Beberapa strategi bisa Anda terapkan untuk mengurangi atau mengelola "masking", di antaranya adalah mempraktikkan belas kasih diri, yaitu menerima dan memahami diri sendiri apa adanya. Mencari ruang aman, di mana Anda bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi, juga sangat penting. Cobalah mengidentifikasi situasi, tempat, atau interaksi yang sering memicu Anda untuk melakukan "masking". Jika dirasa sulit, mencari dukungan profesional, seperti terapi yang berfokus pada neurodiversitas, dapat menjadi pilihan untuk membangun kembali rasa diri yang otentik. Ingatlah, "masking" bukanlah bentuk kepura-puraan, melainkan seringkali merupakan keterampilan bertahan hidup. Namun, terus-menerus menyembunyikan diri sejati sangat melelahkan dan berpotensi membahayakan kesejahteraan. Solusi utamanya bukan hanya pada individu, melainkan juga pada sistem sosial yang perlu menciptakan ruang yang lebih aman dan inklusif, yang tidak menuntut adanya "masking".