Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, anak yang tiba-tiba menangis, marah, atau sulit diajak bekerja sama menjelang sore hari sering membuat orangtua bingung. Banyak yang menganggap kondisi ini sebagai perilaku manja atau sengaja mencari perhatian. Padahal, ledakan emosi tersebut bisa menjadi tanda bahwa anak sedang kelelahan atau kewalahan karena terlalu banyak rangsangan sepanjang hari.
Pada usia anak-anak, kemampuan mengelola emosi masih berkembang. Anak belum mampu mengungkapkan rasa lelah, tidak nyaman, atau kewalahan dengan jelas seperti orang dewasa. Akibatnya, perasaan tersebut sering muncul dalam bentuk tantrum, tangisan, atau perubahan perilaku yang tiba-tiba.
Dilansir dari Northwest Family Clinics, kelelahan dan stimulasi berlebihan sering menunjukkan gejala yang mirip sehingga sulit dibedakan. Namun, memahami tanda-tanda masing-masing kondisi dapat membantu orangtua memberikan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.
Tanda Tantrum karena Kelelahan
Kelelahan terjadi ketika anak kurang tidur atau beraktivitas lebih lama dari yang mampu ditoleransi tubuhnya. Menariknya, anak yang lelah tidak selalu terlihat mengantuk. Mereka justru bisa menjadi lebih sensitif dan sulit tenang.
Beberapa tanda yang umum terlihat antara lain:
1. Sering Menguap dan Menggosok Mata
Ini merupakan sinyal paling jelas bahwa tubuh anak membutuhkan istirahat. Jika tantrum disertai mata yang terlihat berat atau sering mengucek mata, kemungkinan besar penyebabnya adalah kelelahan.
2. Fokus Menurun dan Gerakan Lebih Lambat
Anak mungkin terlihat kurang bersemangat, sulit mengikuti instruksi, atau lebih sering menjatuhkan barang saat beraktivitas.
3. Lebih Mudah Menangis
Hal-hal kecil yang biasanya tidak menjadi masalah bisa memicu tangisan atau ledakan emosi ketika anak sedang sangat lelah.
Tanda Tantrum karena Stimulasi Berlebihan
Stimulasi berlebihan terjadi ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan dari lingkungan, seperti suara bising, keramaian, aktivitas padat, atau interaksi sosial yang intens.
Berikut beberapa cirinya:
1. Terlihat Sangat Aktif tetapi Sulit Tenang
Anak mungkin tampak penuh energi, terus bergerak, dan sulit menenangkan diri meski aktivitas sudah selesai.
2. Mudah Marah dan Reaktif
Respons emosinya terasa lebih besar dibandingkan pemicunya. Anak bisa cepat kesal atau menangis karena hal-hal sederhana.
3. Menghindari Keramaian atau Sentuhan
Sebagian anak menunjukkan ketidaknyamanan dengan menutup telinga, menjauh dari keramaian, atau menolak dipeluk.
4. Tantrum Setelah Aktivitas Ramai
Jika ledakan emosi muncul setelah menghadiri pesta, bermain bersama banyak teman, atau berada di tempat ramai, stimulasi berlebihan bisa menjadi penyebab utamanya.
Mengapa Keduanya Sering Terjadi Bersamaan?
Sahabat Fimela, kelelahan dan stimulasi berlebihan sering kali saling berkaitan. Anak yang sudah lelah biasanya lebih sensitif terhadap suara, cahaya, dan aktivitas di sekitarnya.
Itulah sebabnya banyak tantrum terjadi pada sore atau malam hari ketika anak telah menjalani berbagai aktivitas sejak pagi tanpa cukup waktu untuk beristirahat.
Cara Membedakannya
Perhatikan apa yang terjadi sebelum tantrum muncul. Jika anak menunjukkan tanda fisik seperti menguap, menggosok mata, atau terlihat lesu, kemungkinan besar penyebabnya adalah kelelahan.
Namun, jika tantrum terjadi setelah berada di lingkungan yang ramai dan anak tampak gelisah atau sulit menenangkan diri, stimulasi berlebihan mungkin lebih dominan. Meski begitu, tidak jarang kedua kondisi ini terjadi secara bersamaan.
Cara Merespons Tantrum dengan Tepat
Jika anak kelelahan, bantu mereka beristirahat dengan menciptakan suasana yang tenang dan memulai rutinitas tidur lebih awal.
Sementara itu, jika anak mengalami stimulasi berlebihan, kurangi rangsangan di sekitarnya. Ajak anak ke tempat yang lebih tenang, redupkan pencahayaan, dan berikan waktu untuk menenangkan diri.
Yang tak kalah penting, tetaplah hadir dengan sikap tenang dan penuh empati. Saat anak merasa aman dan dipahami, mereka akan lebih mudah mengelola emosinya dan kembali merasa nyaman.
Penulis: Siti Nur Arisha