3 Hal yang Perlu Diketahui Saat Bepergian dengan Anabul

Nabila MecadinisaDiterbitkan 05 Juni 2026, 17:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Traveling merupakan salah satu aktivitas yang kini semakin rutin dilakukan masyarakat seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kebutuhan perjalanan. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia mencatat perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1.09 miliar perjalanan sepanjang Januari hingga November 2025, melampaui target nasional yang sebelumnya ditetapkan[1]. Bagi keluarga yang memiliki hewan peliharaan, salah satu dilema yang kerap muncul adalah memutuskan apakah hewan peliharaan, atau kini kerap disebut dengan istilah anabul, sebaiknya dibawa ikut atau ditinggal sementara di rumah maupun di penitipan hewan. Kini, pemilik hewan peliharaan memiliki berbagai pilihan, baik menitipkan anabul ke tempat penitipan hewan maupun membawanya ikut mudik.

Data dari Kereta Api Indonesia Logistik menunjukkan sebanyak 13.435 hewan peliharaan diangkut selama periode Ramadan hingga Idulfitri 2026, dengan puncak pengiriman mencapai hampir 3.700 anabul dalam satu minggu[2]. Namun, perjalanan panjang dan lingkungan baru dapat memengaruhi kondisi fisik maupun psikologis hewan. Perubahan suhu, suasana baru, dan interaksi dengan hewan lain bisa meningkatkan risiko stres dan gangguan kesehatan. Bagi pemilik yang memilih menitipkan anabul, penting untuk memastikan fasilitas penitipan hewan memiliki standar kebersihan dan keamanan yang baik karena interaksi dengan hewan lain yang belum diketahui status kesehatannya juga dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, termasuk rabies.

Berkaca dari hal tersebut, Boehringer Ingelheim, perusahaan farmasi terkemuka yang berfokus pada peningkatan kesehatan manusia dan hewan, mendorong para pemilik hewan peliharaan untuk memprioritaskan kesiapan dan perlindungan kesehatan sebelum dan sesudah bepergian.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Berikut ini ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga kesehatan anabul:

Penasaran apa saja yang perlu diketahui saat bepergian dengan anabul? Simak selengkapnya berikut ini.

Pastikan vaksinasi dan pemeriksaan kesehatan terkini.

Konsultasikan kondisi anabul ke dokter hewan untuk memastikan vaksinasi rutin telah lengkap dan kondisi fisiknya dalam keadaan prima sebelum perjalanan jauh. Dari 38 provinsi di Indonesia, 26 provinsi teridentifikasi sebagai daerah endemis rabies. Maka dari itu, edukasi kepada masyarakat mengenai rabies dan langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil sangatlah penting.

Batasi interaksi dengan hewan yang tidak dikenal.

Saat tiba di lokasi tujuan, awasi interaksi hewan peliharaan dengan hewan lain untuk meminimalkan risiko cedera maupun paparan penyakit. Gunakan tali pengaman atau kandang portabel untuk meminimalkan risiko penyakit atau cedera.

Amati perubahan perilaku setelah perjalanan.

Amati kondisi hewan peliharaan selama beberapa hari setelah kembali ke rumah. Tanda seperti lemas, kehilangan nafsu makan, muntah, atau perilaku yang tidak biasa seperti menjadi lebih agresif dapat menjadi indikasi stres atau gangguan kesehatan yang perlu diperhatikan. Segera konsultasikan ke dokter hewan bila ada gejala abnormal.

Argho Das, President Director Boehringer Ingelheim Indonesia, menekankan pentingnya perawatan lanjutan, “Bagi pemilik hewan peliharaan, traveling adalah pengalaman yang menyenangkan, namun juga perlu diwaspadai karena dapat membawa potensi risiko kesehatan bagi hewan peliharaan. Namun, meningkatnya mobilitas dapat membuka peluang paparan terhadap berbagai risiko kesehatan, termasuk penyakit seperti rabies. Memastikan hewan peliharaan telah divaksinasi dengan lengkap serta dipantau kondisinya menjadi langkah penting untuk melindungi tidak hanya hewan, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas.”

Rabies menelan ribuan nyawa setiap tahunnya di lebih dari 150 negara, di mana 40% korban adalah anak-anak di Asia dan Afrika. Meski demikian, penyakit ini 100% dapat dicegah melalui vaksinasi. Upaya pengendalian rabies dan penyelamatan nyawa di komunitas berisiko membutuhkan aksi kolektif yang diyakini dapat diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor.

Program Stop Rabies diluncurkan untuk memperkuat misi Boehringer Ingelheim dalam meningkatkan kesehatan hewan dan manusia. Pada 2023, program ini menargetkan edukasi bagi lebih dari 80.000 anak di seluruh dunia terkait rabies, pencegahan gigitan anjing, dan hidup harmonis dengan hewan. Di Indonesia, kampanye ini telah berjalan sejak 2022. Pada tahun 2025, program SD4G –Stop Rabies Education bersama Bali Animal Welfare Association (BAWA) telah menjangkau 12.356 siswa di 85 sekolah, melampaui target awal 10.000 peserta.

Upaya ini sejalan dengan target pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk Indonesia bebas rabies pada 2030. Dengan vaksinasi rutin, persiapan matang, dan edukasi berkelanjutan, mudik Lebaran dapat menjadi momen aman dan menyenangkan, baik bagi keluarga maupun anabul kesayangan.