Fimela.com, Jakarta - Libur semester genap telah tiba. Bagi sebagian besar keluarga, momen Juni–Juli adalah waktu yang dinantikan untuk bersantai dan berkumpul. Namun bagi orang tua yang memiliki anak neurodivergent, termasuk anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), disleksia, atau gangguan pemrosesan sensorik, liburan sekolah justru bisa menjadi periode yang penuh tantangan.
Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Dante Saksono Harbuwono, dalam acara Special Kids Expo (SPEKIX) 2024 mengungkapkan bahwa saat ini diperkirakan sekitar 2,4 juta anak Indonesia mengalami gangguan spektrum autisme, dan angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Belum lagi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat terdapat sekitar 8,3 juta anak Indonesia yang menyandang ADHD. Angka-angka ini menempatkan Indonesia di garis terdepan kebutuhan akan pendampingan yang tepat bagi keluarga dengan anak neurodivergent.
Liburan sekolah kerap berarti berkurangnya struktur, lebih banyak waktu yang tidak terencana, dan paparan lingkungan baru. Ini menjadi persoalan nyata karena anak autistik rentan merasa cemas ketika rutinitas berubah, sementara anak dengan ADHD cenderung kesulitan mengatur perhatian, energi, dan impulsivitas tanpa "jangkar" jadwal sehari-hari yang biasanya diberikan oleh rutinitas sekolah.
Ries Sansani, Occupational Therapist dan Lead Coach di Atelier of Minds, sebuah student care inklusif berbasis pendekatan terapeutik, memandang fenomena ini sebagai momen krusial yang justru bisa menjadi peluang tumbuh, jika orang tua memiliki bekal yang tepat. "Libur sekolah bukan musuh anak neurodivergent. Yang menjadi tantangan adalah ketidaksiapan transisi. Ketika orang tua tahu bagaimana menciptakan struktur yang fleksibel dan lingkungan yang aman secara sensorik, liburan bisa menjadi waktu yang benar-benar bermakna untuk perkembangan anak," ujar Ries.
6 Tips untuk orang tua
1. Buat "Kalender Visual" Liburan Sejak Sekarang
Jangan tunggu hingga hari-H. Sebelum hari pertama libur tiba, ajak anak duduk bersama dan buat kalender visual yang menampilkan gambaran aktivitas setiap harinya, bisa menggunakan gambar, stiker, atau warna-warna berbeda untuk setiap jenis kegiatan.
Menjaga rutinitas selama liburan dapat mengurangi stres karena jadwal yang familiar membantu menurunkan kecemasan dan mencegah meltdown. Membuat jadwal visual dengan warna, stiker, atau emoji dapat menjadikan perencanaan terasa menyenangkan, sambil tetap menyertakan aktivitas rutin di samping rencana khusus liburan.
"Visualisasi jadwal bukan sekadar alat bantu, ini adalah bahasa keamanan bagi otak anak neurodivergent. Ketika anak tahu apa yang akan terjadi, otak tidak perlu bekerja keras untuk 'waspada', sehingga energi bisa dialihkan untuk belajar dan bermain," jelas Ries.
2. Pertahankan Tiga Jangkar Rutinitas: Waktu Bangun, Makan, dan Tidur
Di tengah fleksibilitas liburan, tiga hal ini harus tetap konsisten setiap hari. Mempertahankan waktu makan dan waktu tidur yang konsisten, bahkan saat bepergian sekalipun, adalah salah satu strategi kunci untuk menjaga kestabilan anak neurodivergent selama masa liburan
3. Siapkan "Peta" Sebelum Setiap Aktivitas Baru
Sebelum mengajak anak ke tempat yang belum pernah dikunjungi, entah itu mall, rumah saudara, atau taman bermain baru, berikan gambaran visual atau verbal tentang apa yang akan terjadi.
Berikan pemberitahuan awal tentang perubahan yang akan terjadi, misalnya: "Setelah makan siang, kita akan pergi ke rumah Tante. Di sana ada sepupu-sepupu dan musik. Mari kita bicarakan apa yang mungkin bisa membantumu merasa nyaman di sana". Prediktabilitas mengurangi kecemasan dan membantu otak fokus pada adaptasi, bukan pada reaksi.
4. Ciptakan "Sudut Tenang" di Rumah
Setiap rumah yang ada anak neurodivergent di dalamnya idealnya memiliki satu sudut yang dirancang khusus sebagai zona pemulihan sensorik, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai tempat perlindungan yang aman.
Riset menunjukkan bahwa anak neurodivergent mendapat manfaat dari istirahat sensorik dan emosional selama aktivitas liburan. Ciptakan zona tenang di rumah dengan selimut berbobot (weighted blanket), pencahayaan lembut, dan noise-cancelling headphone sebagai bagian dari perlengkapan sehari-hari.
Ries menjelaskan, “Di Atelier of Minds, kami menyebut ini 'zona regulasi'. Anak tidak diasingkan, melainkan diberi hak untuk memulihkan dirinya sendiri. Ini adalah keterampilan hidup yang sangat berharga.”
5. Prioritaskan Aktivitas Berbasis Gerak dan Eksplorasi Sensorik
Jangan isi liburan hanya dengan layar. Terapi integrasi sensori terbukti efektif pada anak-anak dengan cerebral palsy, gangguan spektrum autisme, ADHD, gangguan perkembangan, dan disabilitas intelektual, berdasarkan meta-analisis terhadap 24 studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terapi okupasi. Aktivitas sederhana seperti bermain tanah liat, memasak bersama, berenang, atau berkebun bisa menjadi terapi sensori alami yang menyenangkan selama liburan. Yang penting biarkan anak memimpin, dan ikuti ritme mereka.
6. Pertimbangkan Program Pendampingan Inklusif Terstruktur
Liburan panjang tidak harus berarti kehilangan momentum perkembangan yang sudah dibangun selama semester. Mendaftarkan anak ke program student care atau pengayaan inklusif yang dirancang khusus untuk anak neurodivergent bisa menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak. Anak mendapatkan struktur dan stimulasi yang tepat, sementara orang tua mendapatkan ketenangan pikiran.
Atelier of Minds hadir sebagai student care dan enrichment center inklusif yang dirancang untuk mendampingi anak dengan beragam profil belajar, termasuk anak neurodivergent, dalam lingkungan yang menerima, terstruktur, dan dipandu oleh tenaga profesional. Program liburan Summer Camp at Atelier of Minds menggabungkan pendekatan terapi okupasi, stimulasi kognitif, dan pengembangan sosial-emosional dalam satu ekosistem yang aman.
"Kami tidak hanya 'menjaga' anak selama liburan. Kami merancang program dengan intensionalitas terapeutik, di mana setiap aktivitas memiliki tujuan perkembangan yang spesifik, tapi dikemas dalam pengalaman yang terasa seperti bermain dan eksplorasi bagi anak. Liburan yang bermakna adalah liburan yang membuat anak kembali ke sekolah dengan lebih siap, bukan lebih lelah," tutup Ries. Untuk informasi lanjut mengenai Atelier of Minds, kunjungi www.atelierofminds.com.