Biaya Pernikahan Tinggi Tak Jamin Bahagia? Riset Ungkap Dampaknya pada Rumah Tangga

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 19 Juni 2026, 22:48 WIB

ringkasan

  • Pengeluaran pernikahan yang tinggi berkorelasi dengan tingkat perceraian yang lebih tinggi.
  • Pasangan dengan pernikahan di bawah $1.000 memiliki tingkat perceraian terendah.
  • Bulan madu dan jumlah tamu yang banyak dikaitkan dengan durasi pernikahan yang lebih lama.

Fimela.com, Jakarta - Banyak pasangan memimpikan perayaan pernikahan yang megah dan tak terlupakan, seringkali dengan anggaran fantastis. Namun, pandangan umum bahwa pesta mewah adalah awal yang baik untuk 'hidup bahagia selamanya' kini ditantang oleh sebuah penelitian. Studi terbaru menunjukkan bahwa pengeluaran berlebihan untuk momen besar ini justru dapat berkorelasi dengan kebahagiaan pernikahan yang lebih rendah dan tingkat perceraian yang meningkat.

Temuan ini berasal dari survei yang dilakukan pada tahun 2014 oleh para ekonom dari Emory University. Penelitian ini melibatkan lebih dari 3.000 orang dewasa yang sudah menikah. Tujuannya adalah untuk menguji klaim industri pernikahan yang menyatakan bahwa pengeluaran yang lebih besar akan menghasilkan ikatan perkawinan yang lebih kuat. Hasil yang didapatkan justru menunjukkan sebaliknya.

2 dari 4 halaman

Angka Bicara: Hubungan Biaya Pernikahan dan Perceraian

Model Cincin Pria Elegan untuk Nikah, Padukan Kemewahan, Maskulinitas, dan Gaya (Ilustrasi Pexels)

Penelitian dari Emory University mengungkapkan korelasi yang mengejutkan antara biaya pernikahan dan kemungkinan perceraian. Pasangan yang menghabiskan lebih dari $20.000 untuk hari besar mereka memiliki risiko perceraian 1,6 kali lebih tinggi. Angka ini dibandingkan dengan pasangan yang menganggarkan antara $5.000 hingga $10.000.

Lebih jauh, studi tersebut juga menyoroti bahwa pasangan yang memilih pernikahan dengan biaya kurang dari $1.000 justru mencatatkan tingkat perceraian terendah dari seluruh sampel survei.

Data ini memberikan gambaran yang jelas bahwa kemewahan acara tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan ikatan pernikahan. Justru, pengeluaran yang lebih hemat cenderung menunjukkan stabilitas yang lebih baik dalam jangka panjang.

3 dari 4 halaman

Lebih dari Sekadar Pesta: Peran Cincin Tunangan dan Bulan Madu

Tidak hanya biaya pesta pernikahan, pengeluaran untuk cincin tunangan juga menunjukkan pola serupa dalam studi ini. Pria yang menghabiskan antara $2.000 hingga $4.000 untuk cincin tunangan memiliki kemungkinan 1,3 kali lebih besar untuk bercerai. Ini dibandingkan dengan mereka yang mengalokasikan dana antara $500 hingga $2.000 untuk cincin tersebut.

Meskipun demikian, ada kabar baik terkait elemen lain dalam pernikahan. Bulan madu, terlepas dari berapa pun biayanya, secara positif dikaitkan dengan durasi pernikahan yang lebih panjang.

Selain itu, pernikahan yang dihadiri oleh banyak tamu namun dengan biaya yang relatif rendah juga berhubungan dengan tingkat perceraian yang lebih rendah. Hal ini bisa mengindikasikan adanya sistem dukungan sosial yang kuat dari keluarga dan teman, yang turut berkontribusi pada stabilitas hubungan.

4 dari 4 halaman

Mengurai Alasan di Balik Korelasi Negatif

Para peneliti memang tidak secara spesifik mendalami alasan di balik korelasi ini, namun mereka mengajukan beberapa teori yang relevan. Salah satu kemungkinan adalah bahwa pernikahan yang tidak memakan biaya besar dapat mengurangi beban finansial yang berpotensi menekan hubungan. Beban utang besar akibat pernikahan mewah dapat memicu stres dan ketegangan dalam rumah tangga.

Teori lain menunjukkan bahwa pasangan yang memilih perayaan pernikahan sederhana mungkin memiliki prioritas yang berbeda. Mereka cenderung lebih fokus pada kualitas hubungan itu sendiri daripada kemegahan acara. Prioritas pada esensi hubungan ini bisa menjadi fondasi yang lebih kokoh untuk kebahagiaan jangka panjang.

Selain itu, memiliki banyak teman dan keluarga yang hadir di pernikahan dapat menjadi indikasi adanya sistem dukungan sosial yang kuat. Francis-Tan, salah satu peneliti, menjelaskan, “Ini bisa menjadi bukti efek komunitas, yaitu, memiliki lebih banyak dukungan dari teman dan keluarga dapat membantu pasangan melewati tantangan pernikahan.”

Penelitian ini menegaskan bahwa kebahagiaan dan stabilitas pernikahan tidak ditentukan oleh seberapa besar uang yang dihabiskan untuk hari besar tersebut. Sebaliknya, fokus pada fondasi hubungan, dukungan komunitas, dan menghindari beban finansial yang tidak perlu mungkin menjadi kunci utama untuk pernikahan yang langgeng dan bahagia. Daripada menginvestasikan seluruh tabungan untuk satu hari, mungkin akan lebih bijaksana untuk mengalokasikan sumber daya tersebut guna membangun kehidupan bersama yang stabil dan bahagia setelah pernikahan.