Menghadapi Anak yang Suka Menangis Berlebihan dengan Cara yang Tepat

Ghaeiza Kay RasuffiDiterbitkan 04 November 2026, 08:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menghadapi anak yang suka menangis berlebihan sering kali menjadi tantangan bagi banyak orangtua. Tidak sedikit yang langsung menganggap tangisan yang muncul berulang kali sebagai tanda anak terlalu manja atau sengaja mencari perhatian. Padahal, setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan emosi. Ketika belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakan melalui kata-kata, menangis menjadi salah satu cara paling alami bagi anak untuk berkomunikasi.

Anak yang suka menangis berlebihan bisa jadi memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan anak seusianya. Dalam dunia parenting, kondisi ini dikenal dengan istilah highly sensitive child. Anak dengan karakter tersebut cenderung lebih peka terhadap berbagai rangsangan di sekitarnya, mulai dari suara yang terlalu keras, suasana yang ramai, perubahan rutinitas, hingga ekspresi atau nada bicara orang lain. Akibatnya, mereka lebih mudah merasa kewalahan dan menunjukkan emosinya melalui tangisan.

Namun, memiliki anak yang suka menangis bukan berarti ada yang salah dengan tumbuh kembangnya. Justru, anak dengan karakter seperti ini umumnya memiliki rasa empati yang tinggi, mudah memahami perasaan orang lain, serta mampu memperhatikan hal-hal kecil yang sering kali terlewatkan. Oleh karena itu, orangtua perlu memahami bahwa tangisan bukan selalu tanda perilaku yang harus dihentikan, melainkan bentuk komunikasi yang perlu didengarkan.

Memahami penyebab di balik tangisan merupakan langkah awal yang penting sebelum menentukan cara meresponsnya. Dengan pendekatan yang penuh empati dan kesabaran, orangtua dapat membantu anak belajar mengenali serta mengelola emosinya secara lebih sehat sejak dini.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Kenali Penyebab Anak Sering Menangis

Memahami penyebab di balik tangisan merupakan langkah awal yang penting sebelum menentukan cara meresponsnya (doc.pexels/ Vika Glitter)

Tangisan merupakan salah satu bentuk komunikasi utama pada anak. Ketika merasa lapar, lelah, kecewa, takut, atau kewalahan, mereka akan lebih mudah mengekspresikan emosinya melalui tangisan dibandingkan menjelaskan apa yang dirasakan.

Pada anak dengan sensitivitas tinggi, respons terhadap lingkungan juga cenderung lebih kuat. Suara yang terlalu keras, tempat yang ramai, perubahan rutinitas, atau tekanan dari lingkungan dapat membuat mereka merasa tidak nyaman sehingga lebih mudah menangis. Hal ini bukan berarti ada yang salah dengan tumbuh kembang anak, melainkan cara otaknya memproses informasi dan emosi sedikit berbeda.

Daripada langsung meminta anak berhenti menangis, orangtua sebaiknya mencoba mencari tahu penyebabnya. Dengarkan apa yang dirasakan anak dan berikan ruang agar ia merasa aman untuk mengekspresikan emosinya. Respons yang tenang akan membantu anak lebih cepat merasa nyaman dibandingkan bentakan atau hukuman.

3 dari 3 halaman

Dampingi Anak dengan Empati

bantu anak mengenali emosinya dengan mengajarkan berbagai nama perasaan, seperti sedih, marah, kecewa, atau cemas. Kemampuan mengenali emosi sejak dini (doc.pexels/ Dmitry Rodionov)

Saat anak mulai menangis, cobalah memberikan validasi terhadap perasaannya. Orangtua dapat mengatakan bahwa rasa sedih, kecewa, atau takut merupakan hal yang wajar. Kalimat sederhana seperti, "Ibu mengerti kalau hari ini terasa berat," dapat membuat anak merasa dipahami.

Selain itu, bantu anak mengenali emosinya dengan mengajarkan berbagai nama perasaan, seperti sedih, marah, kecewa, atau cemas. Kemampuan mengenali emosi sejak dini dapat membantu anak belajar mengendalikan perasaannya di kemudian hari.

Apabila anak terlihat kewalahan karena lingkungan yang terlalu ramai, berikan waktu untuk menenangkan diri di tempat yang lebih nyaman. Hindari memberi label seperti "cengeng" atau "berlebihan" karena ucapan tersebut justru dapat memengaruhi rasa percaya diri anak.

Perlu diingat bahwa anak yang sensitif bukan berarti lemah. Dengan dukungan, kesabaran, dan komunikasi yang hangat dari orangtua, mereka justru dapat tumbuh menjadi pribadi yang penuh empati, peduli terhadap orang lain, dan mampu membangun hubungan sosial yang baik.

Penulis: GHAEIZA KAY RASUFFI