Menelusuri Jejak Nenek Moyang di Laut dan Sungai Lewat Perjalanan Kuliner Nusantara

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 05 Agustus 2026, 16:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - "Nenek moyangku seorang pelaut..." Penggalan lagu ciptaan Ibu Sud itu hampir pasti akrab di telinga masyarakat Indonesia. Sejak kecil, banyak orang menyanyikannya tanpa benar-benar menyadari makna yang tersimpan di balik lirik sederhana tersebut. Padahal, lagu itu merekam identitas Indonesia sebagai bangsa maritim yang tumbuh dari perjalanan, perdagangan, dan pertemuan budaya melalui sungai maupun laut.

Jauh sebelum jalan raya dan jalur udara menghubungkan berbagai daerah, sungai serta lautan telah menjadi "urat nadi" Nusantara. Dari jalur-jalur perairan itulah rempah-rempah, hasil bumi, hingga tradisi memasak berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Perjalanan panjang tersebut pada akhirnya membentuk kekayaan kuliner Indonesia yang dikenal begitu beragam hingga saat ini.

Semangat itulah yang kini diangkat kembali oleh Tugu Hotels & Restaurants melalui pengalaman bersantap bertajuk "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" (My Forefather, the Great Seafarer). Program kuliner spesial yang berlangsung sepanjang Agustus ini mengajak para tamu menelusuri kembali sejarah perjalanan rasa Nusantara melalui hidangan-hidangan khas dari berbagai daerah.

 

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Disajikan di Rakit Bambu

Perjalanan Nenek Moyang di laut dan sungai dalam sajian kuliner Nusantara (Tugu Hotel)

Alih-alih sekadar menyajikan makanan di atas piring, seluruh menu disajikan di atas rakit bambu yang dibuat khusus. Pilihan ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan simbol perjalanan panjang masyarakat Indonesia yang selama berabad-abad memanfaatkan rakit sebagai alat transportasi sederhana untuk mengangkut hasil bumi, rempah, kopi, hingga ikan dari pedalaman menuju pelabuhan.

Konsep tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sungai dan laut bukanlah pemisah antarpulau, melainkan jalur yang menyatukan kehidupan masyarakat Nusantara. Melalui jalur air inilah berbagai teknik memasak, bahan pangan, hingga cita rasa saling bertemu dan berkembang menjadi identitas kuliner Indonesia seperti yang dikenal sekarang.

Melalui pengalaman bersantap ini, Tugu Hotels & Restaurants menghadirkan menu-menu yang merepresentasikan perjalanan budaya dari berbagai penjuru Indonesia.

Salah satunya adalah Molo Weti Nakeng dari Flores yang terinspirasi dari tradisi nelayan lokal ketika ayah dan anak menyelam bersama sebelum mengikuti upacara penghormatan kepada leluhur dan laut yang menjadi sumber kehidupan mereka.

 

3 dari 4 halaman

Terinspirasi dari Jejak Sejarah

Perjalanan Nenek Moyang di laut dan sungai dalam sajian kuliner Nusantara (Tugu Hotel)

Dari Jawa Timur hadir Bebek Ireng Ungkep, resep turun-temurun yang dimasak perlahan hingga bumbu meresap sempurna. Sementara itu, kisah perkebunan kopi Nusantara diangkat melalui Kawisari Plantation, yang merepresentasikan perjalanan biji kopi dari lereng Gunung Kelud hingga akhirnya dinikmati di berbagai penjuru Indonesia.

Jejak sejarah juga hadir melalui Mangasati, hidangan khas Blitar yang dikenal sebagai salah satu menu favorit Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, ketika pulang ke kota kelahirannya.

Sementara dari Bali terdapat Lawar Embung, sajian tradisional yang mempertahankan cita rasa autentik melalui perpaduan kelapa, rempah-rempah, dan hasil bumi lokal. Adapun Lombok diwakili oleh Berengkes Laut Pantai Sire, olahan hasil laut yang dibungkus daun pisang dan dimasak perlahan menggunakan racikan bumbu Nusantara.

Sebagai penutup perjalanan kuliner tersebut, Jakarta dihadirkan melalui Nasi Kecombrang. Hidangan ini dipilih sebagai representasi kota pelabuhan yang sejak berabad-abad lalu menjadi titik pertemuan beragam budaya, etnis, serta tradisi kuliner dari berbagai wilayah.

 

4 dari 4 halaman

Sejarah Bangsa dalam Kuliner

Perjalanan Nenek Moyang di laut dan sungai dalam sajian kuliner Nusantara (Tugu Hotel)

Jika dinikmati satu per satu, seluruh menu tersebut merupakan hidangan khas daerah. Namun ketika disusun dalam satu pengalaman bersantap, setiap sajian menjadi potongan cerita yang menunjukkan bagaimana perjalanan melalui sungai dan laut telah membentuk kekayaan rasa Indonesia.

Melalui tema "Nenek Moyangku Seorang Pelaut", Tugu Hotels & Restaurants tidak hanya menawarkan pengalaman menikmati hidangan Nusantara, tetapi juga mengajak tamu melihat makanan sebagai bagian dari sejarah bangsa. Sebab setiap resep tidak lahir begitu saja, melainkan merupakan hasil perjalanan panjang manusia, perdagangan, dan pertukaran budaya yang berlangsung selama ratusan tahun.

Lewat pengalaman kuliner ini, Tugu Hotels kembali menunjukkan komitmennya dalam merawat warisan budaya Indonesia. Bukan hanya melalui koleksi artefak, bangunan bersejarah, maupun karya seni yang selama ini menjadi ciri khasnya, tetapi juga lewat resep-resep tradisional yang terus dihidupkan agar dapat dinikmati oleh generasi masa kini.