Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, mengatur keuangan bukan hanya tentang mencatat pemasukan dan pengeluaran. Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan untuk mengatakan tidak pada ajakan yang membutuhkan banyak biaya juga menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi finansial. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah loud budgeting, tren pengelolaan keuangan yang mendorong seseorang untuk terbuka mengenai tujuan dan batasan finansial.
Dilansir dari Chime, loud budgeting merupakan kebiasaan untuk secara terbuka menolak aktivitas sosial yang tidak sesuai dengan anggaran sekaligus menjelaskan tujuan keuangan kepada orang terdekat. Misalnya, menolak makan di restoran mahal karena sedang menabung atau melewatkan perjalanan karena ingin fokus membangun dana darurat.
Sementara itu, NerdWallet menyebut bahwa berbicara secara terbuka mengenai pilihan keuangan dapat membantu seseorang lebih konsisten mencapai tujuan finansial. Keterbukaan tersebut juga dapat membuat orang-orang di sekitar memahami batasan yang dimiliki sehingga tidak terus memberikan tekanan untuk mengeluarkan uang.
Loud budgeting bukan berarti harus menceritakan jumlah tabungan atau pendapatan kepada semua orang. Intinya adalah berani menetapkan prioritas dan mengomunikasikannya dengan jelas. Kebiasaan ini juga dapat membantu seseorang menghindari pengeluaran impulsif yang muncul karena ingin mengikuti gaya hidup atau aktivitas orang lain.
Dengan memiliki batas finansial yang jelas, seseorang dapat lebih bijak menentukan kegiatan mana yang sesuai dengan kondisi keuangan. Menolak ajakan bukan berarti tidak menghargai orang lain, tetapi menjadi salah satu cara untuk menjaga tujuan finansial tetap berjalan. Dengan begitu, menjaga kesehatan finansial tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan keputusan yang layak dihargai.
Cara Menerapkan Loud Budgeting agar Keuangan Lebih Teratur
Loud budgeting tidak hanya dilakukan dengan mengatakan tidak pada ajakan yang membutuhkan banyak biaya. Agar kebiasaan ini benar-benar membantu kondisi finansial, ada beberapa langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Tentukan Tujuan Keuangan
Mulailah dengan menentukan alasan mengapa ingin menghemat uang. Tujuannya bisa berupa menabung untuk dana darurat, melunasi utang, membeli barang tertentu, atau mempersiapkan kebutuhan di masa depan. Tujuan yang jelas dapat membuat keputusan untuk mengurangi pengeluaran terasa lebih mudah.
2. Ketahui Batas Pengeluaran
Sebelum menetapkan batas finansial kepada orang lain, pahami terlebih dahulu kondisi keuangan sendiri. Catat pemasukan, kebutuhan rutin, serta pengeluaran yang masih bisa dikurangi. Setelah itu, tentukan jumlah yang realistis untuk digunakan pada aktivitas sosial atau hiburan.
Chime menyarankan agar seseorang mengetahui jumlah pemasukan dan pengeluaran sebelum menentukan batas untuk kegiatan sosial. Dengan begitu, keputusan untuk menolak ajakan tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi sesuai dengan kemampuan finansial.
3. Berani Mengatakan Tidak
Ketika ada ajakan yang berada di luar anggaran, jangan takut untuk menolaknya. Tidak perlu membuat alasan yang rumit. Sampaikan saja bahwa saat ini sedang memiliki prioritas keuangan lain.
Misalnya, “Aku lagi fokus nabung, jadi kali ini belum bisa ikut.” Kalimat sederhana seperti ini dapat membantu menjaga batas finansial tanpa harus merasa malu.
4. Cari Alternatif yang Lebih Hemat
Menolak pengeluaran mahal bukan berarti harus berhenti bersosialisasi. Coba tawarkan kegiatan lain yang tidak membutuhkan banyak biaya, seperti memasak bersama, berjalan-jalan di taman, atau berkumpul di rumah.
Cara tersebut juga dapat membantu mempertahankan hubungan sosial tanpa membuat anggaran berantakan.
Loud Budgeting Bukan Berarti Pelit, Ini Cara Menjaga Batas Finansial
Menerapkan loud budgeting bukan berarti harus menghindari seluruh pengeluaran yang bersifat hiburan atau selalu mengatakan tidak kepada orang lain. Justru, kebiasaan ini mengajarkan seseorang untuk lebih sadar terhadap bagaimana uang digunakan dan berani menentukan prioritas.
1. Tetap Sediakan Anggaran untuk Hiburan
Menghemat uang bukan berarti harus menghilangkan semua kesenangan. Sisihkan sejumlah uang yang memang diperbolehkan untuk digunakan bersenang-senang. Dengan begitu, keinginan untuk menikmati waktu bersama teman atau membeli sesuatu yang disukai tetap dapat terpenuhi tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Reuters menyoroti bahwa loud budgeting dapat berjalan beriringan dengan pengeluaran untuk kesenangan selama jumlahnya sudah diperhitungkan dalam anggaran.
2. Tidak Perlu Membuka Semua Kondisi Keuangan
Terbuka mengenai batas finansial bukan berarti harus memberitahukan jumlah pendapatan, tabungan, atau utang kepada semua orang. Cukup sampaikan alasan yang diperlukan ketika menolak suatu pengeluaran.
NerdWallet menjelaskan bahwa loud budgeting pada dasarnya merupakan cara untuk mengomunikasikan pilihan finansial dan membuat prioritas keuangan lebih terlihat oleh orang-orang terdekat.
3. Pilih Lingkungan yang Mendukung
Loud budgeting akan lebih mudah dilakukan bersama orang-orang yang menghargai keputusan finansial. Teman atau keluarga yang memahami kondisi tersebut bahkan dapat membantu mencari kegiatan yang lebih terjangkau.
4. Evaluasi Pengeluaran Secara Rutin
Jangan lupa mengecek kembali pengeluaran secara berkala. Perhatikan apakah masih ada pengeluaran yang melebihi batas atau aktivitas yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Evaluasi mingguan dapat membantu melihat pola pengeluaran dan menjaga agar anggaran tetap sesuai tujuan.
Pada akhirnya, loud budgeting bukan tentang terlihat tidak mampu mengikuti gaya hidup orang lain. Kebiasaan ini justru menjadi cara untuk lebih percaya diri dalam menentukan prioritas dan menggunakan uang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.