Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa terus memikirkan makanan meski sebenarnya tidak sedang lapar? Keinginan untuk ngemil, membayangkan makanan tertentu, atau dorongan untuk makan yang muncul berulang kali, terutama ketika diet dapat terasa seperti suara yang tidak berhenti di kepala. Fenomena yang belakangan dikenal sebagai food noise ini membuat perjalanan menurunkan berat badan tidak selalu sesederhana mengatur porsi dan meningkatkan aktivitas fisik.
Food noise merujuk pada kondisi ketika pikiran atau dorongan terhadap makanan muncul secara terus-menerus, bahkan ketika tubuh sebenarnya tidak membutuhkan asupan. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa lebih sulit mengontrol pilihan makanan dan menjalani pola makan diet yang sudah direncanakan.
Namun, penting untuk memahami bahwa food noise tidak selalu berkaitan dengan persoalan kemauan atau kedisiplinan. Perubahan berat badan dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan mekanisme biologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Ketika seseorang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dalam waktu lama, tubuh dapat beradaptasi dan mempertahankan berat tersebut melalui perubahan pada mekanisme pengaturan nafsu makan.
Ketika Rasa Lapar dan Kenyang Ikut Berubah
Salah satu sistem yang berperan adalah hormon incretin, termasuk GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) dan GIP (Glucose-Dependent Insulinotropic Polypeptide). Hormon yang diproduksi oleh usus setelah makan ini membantu tubuh merespons masuknya makanan dan berperan dalam pengaturan metabolisme, kadar gula darah, rasa lapar, serta rasa kenyang.
Ketika mekanisme tersebut terganggu, seseorang dapat mengalami perubahan sinyal lapar dan kenyang. Kondisi inilah yang kemudian dapat membuat upaya mengatur asupan makanan terasa lebih menantang.
“Banyak orang merasa gagal menjalani diet bukan semata-mata karena kurang disiplin. Saat berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang melalui perubahan sinyal hormon dan mekanisme pengaturan nafsu makan di otak,” ujar dr. Guadelupe Maria Melissa, Medical Manager LIGHT Group.
Food Noise Bukan Sekadar Kurang Disiplin
Dari sisi psikologis, hubungan seseorang dengan makanan juga tidak berdiri sendiri. Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menjelaskan bahwa food noise kerap disalahartikan sebagai kurangnya kemauan dalam menjalani diet. Padahal, dorongan makan dapat berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari aspek biologis, emosional, kebiasaan, hingga lingkungan sehari-hari.
“Pola pikir membentuk bagaimana seseorang bersikap dan membuat pilihan. Pola pikir dan hubungan dengan makanan yang tidak tepat dapat memengaruhi pola makan yang juga tidak tepat,” jelas Tara.
Karena itu, memahami pemicu di balik kebiasaan makan menjadi bagian penting dalam perjalanan perubahan gaya hidup. Misalnya, apakah dorongan makan muncul karena lapar secara fisik, stres, bosan, kurang tidur, kebiasaan tertentu, atau paparan makanan di lingkungan sekitar.
Pemahaman mengenai food noise juga menunjukkan bahwa pengelolaan berat badan tidak semestinya hanya berfokus pada angka di timbangan. Pendekatan yang lebih menyeluruh dapat melibatkan pengaturan pola makan, aktivitas fisik, edukasi nutrisi, serta dukungan psikologis. Ahli gizi dapat membantu seseorang membangun pola makan yang lebih realistis dan sesuai kebutuhan, sementara psikolog dapat membantu mengenali hubungan dengan makanan serta pemicu emosional yang mungkin berperan.
Menurut LIGHThouse, pendekatan berbasis behaviour change dan edukasi nutrisi berkelanjutan menjadi bagian dari upaya membantu pasien mempertahankan perubahan dalam jangka panjang.
Terapi Berbasis Incretin Jadi Salah Satu Pendekatan Medis
Dalam perkembangannya, terapi berbasis hormon incretin juga mulai digunakan sebagai bagian dari penanganan obesitas pada pasien yang sesuai secara medis.
LIGHThouse Clinic memperkenalkan TirzePen dan TirzeSlim, dua pilihan terapi berbasis tirzepatide. Menurut materi yang diberikan, tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yaitu GLP-1 dan GIP, yang berperan dalam pengaturan nafsu makan dan rasa kenyang.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pasien yang sesuai mendapatkan kontrol lebih baik terhadap rasa lapar dan asupan makanan, termasuk mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang disebut sebagai food noise.
Meski demikian, terapi injeksi bukanlah satu-satunya faktor dalam keberhasilan pengelolaan berat badan. Dr. Guadelupe menekankan bahwa terapi sebaiknya berjalan bersama pengaturan pola makan yang dipersonalisasi serta pendampingan berkelanjutan.
Dengan demikian, memahami food noise dapat menjadi langkah awal untuk melihat perjalanan pengelolaan berat badan dari perspektif yang lebih luas. Ketika dorongan makan terasa sulit dikendalikan, persoalannya tidak selalu sesederhana “kurang disiplin”. Ada berbagai faktor biologis, psikologis, kebiasaan, dan lingkungan yang dapat saling berkaitan.