Fimela.com, Jakarta - Setelah menyelesaikan pekerjaan, mendapatkan pencapaian, atau melewati hari yang berat, seseorang sering merasa pantas memberikan hadiah kepada diri sendiri. Mulai dari secangkir kopi favorit, makanan enak, pakaian baru, hingga barang yang sudah lama menjadi wishlist dapat menjadi bentuk self-reward.
Sederhananya, self-reward adalah cara seseorang memberikan penghargaan kepada diri sendiri atas usaha atau pencapaian yang telah dilakukan. Dilansir dari Journal of Financial Services Marketing, kemampuan mengendalikan pengeluaran menjadi salah satu hal penting dalam mendukung kesejahteraan finansial.Kebiasaan ini sebenarnya tidak selalu berdampak buruk. Dalam batas yang wajar, memberikan hadiah kepada diri sendiri dapat juga menjadi bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk terus berkembang.
Namun, penting untuk memperhatikan bagaimana dan mengapa hadiah tersebut diberikan. Kemampuan mengendalikan pengeluaran juga perlu diperhatikan agar kebiasaan self-reward tidak mengganggu kondisi keuangan.
Selain itu, self-reward tidak harus selalu berupa barang. Dilansir dari Journal of Experimental Social Psychology, menunjukkan bahwa membelanjakan uang untuk pengalaman dapat memberikan kebahagiaan sesaat yang lebih besar dibandingkan membeli barang material.
Ketika Self-Reward Berubah Menjadi Pelarian
Self-reward mulai menjadi masalah ketika keinginan membeli sesuatu muncul sebagai respons terhadap situasi emosional. Hari yang melelahkan membuat keinginan untuk belanja, perasaan sedih membuat ingin langsung memesan makanan, atau mendapat sedikit pencapaian menjadi alasan untuk membeli suatu barang baru.
Dalam kondisi seperti ini, self-reward dapat berubah menjadi pembenaran untuk melakukan pembelian impulsif. Kepuasan yang muncul, hanya bersifat sementara. Setelahnya, mungkin merasa bersalah karena pengeluaran bertambah atau menyadari bahwa barang tersebut sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Salah satu cara sederhana untuk mengenalinya adalah dengan bertanya kepada diri sendiri sebelum membeli: “Apakah aku benar-benar membutuhkan atau menginginkan ini, atau aku sedang berusaha memperbaiki suasana hati?”
Jika jawabannya adalah yang kedua, mungkin kita sedang menggunakan konsumsi sebagai pelarian.
Self-reward juga patut dievaluasi ketika mulai mengganggu kebutuhan utama, tabungan, atau tujuan finansial. Sebab, penghargaan yang diberikan kepada diri sendiri seharusnya menciptakan rasa bahagia, bukan menghadirkan masalah baru setelahnya.
Dengan mengenali motif di balik pembelian, kita dapat membedakan antara apresiasi diri dan konsumsi yang dilakukan secara impulsif.
Apresiasi Diri Tanpa Harus Menjadi Boros
Menjadikan self-reward sebagai kebiasaan yang sehat tidak berarti harus berhenti untuk memanjakan diri, tetapi dapat dengan mengubahnya agar tetap menyenangkan sekaligus bertanggung jawab. Dengan berprinsip untuk menetapkan batas, mengenali kebutuhan, dan menemukan cara lain untuk memberikan penghargaan yang tidak selalu melibatkan transaksi.
Berikut 3 cara yang dapat dilakukan ketika ingin self-reward:
1. Tentukan anggaran khusus untuk keinginan pribadi.
Dengan begitu, self-reward tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun tabungan.
2. Berikan jeda sebelum membeli sesuatu yang tidak mendesak.
Keinginan yang tetap ada setelah beberapa waktu biasanya lebih mudah dinilai secara rasional.
3. Jangan menganggap self-reward selalu identik dengan berbelanja.
Menonton film favorit, membaca buku, melakukan hobi, berjalan-jalan, menikmati waktu bersama keluarga atau teman, bahkan tidur lebih awal juga dapat menjadi bentuk penghargaan kepada diri sendiri.
Poin terpenting adalah ketika memahami bahwa nilai sebuah hadiah tidak ditentukan oleh harganya, tetapi dapat juga melalui pengalaman yang bermakna, seperti makan bersama orang terdekat, mencoba aktivitas baru, atau mengambil waktu untuk beristirahat, dengan tetap menyesuaikannya kemampuan finansial.