Sukses

Beauty

Ini Penyebab dan Cara Menyembuhkan Herniasi Diskus atau Nyeri Otot Punggung

Ladies, ternyata kita harus lebih berhati-hati dalam menggunakan otot-otot kita, sebab penggunaan otot punggung untuk aktivitas mengangkat beban berat dapat menyebabkan terjadinya herniasi diskus verterbralis. Bukan hanya itu, trauma seperti jatuh atau terkena pukulan keras di punggung juga dapat menyebabkan terjadinya herniasi diskus.

Faktor risiko lain yang dapat menyebabkan terjadinya herniasi diskus adalah berat badan berlebih, aktivitas pekerjaan seperti mengangkat, menarik, mendorong beban berat serta faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko herniasi diskus vertebralis. Dalam beberapa literatur, pria dikatakan juga memiliki risiko dua kali lebih besar dibandingkan wanita.

"Nikotin zat berbahaya yang dihasilkan oleh rokok, dapat menghambat aliran darah ke diskus spinalis, sehingga mempercepat kerusakan degeneratif diskus vertebra," ujar dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Onta Merah, Jakarta, saat di temui di Jakarta.

Untuk diagnosis, dr Mahdia, menjelaskan selama pemeriksaan fisik, dokter akan memeriksa punggung, melakukan penekanan pada beberapa bagian untuk mengetahui ada tidaknya nyeri. Pasien juga diminta melakukan beberapa gerakan kaki, serta pemeriksaan neurologis yang meliputi; refleks, kekuatan otot, kemampuan berjalan, serta kemampuan menerima rangsang panas, tusuk dan juga getar.

"Untuk menunjang diagnosis, dokter mungkin melakukan pemeriksaan tambahan seperti X-ray, untuk menyingkirkan penyebab lain, seperti adanya infeksi tulang belakang, tumor, atau tulang yang patah. Magnetic Resonance Imaging (MRI) dapat membantu dokter mengetahui letak herniasi diskus vertebralis, dan saraf terdampak," tambahnya.

Rasa sakit di punggung bisa jadi herniasi diskus verterbralis/copyright Shutterstock.com

Meski herniasi diskus lumbar ringan, gejalanya dapat sembuh sendiri dalam 6 minggu, pada beberapa kasus herniasi diskus yang berat membutuhkan terapi non bedah dan pembedahan.

Pada kasus ringan, kompres dingin/es, dapat menghilangkan nyeri akibat spasme otot atau inflamasi. Obat anti inflamasi non-steroid (NSAIDs) seperti ibuprofen, naproxen juga dapat menghilangkan nyeri dan inflamasi akibat herniasi diskus. Berendam dengan air hangat juga dapat membantu menghilangkan nyeri. Untuk meningkatkan efektivitas terapi, kombinasi kompres dingin dan hangat juga dapat dilakukan pasien di rumah.

Pada kasus yang lebih berat, dokter juga dapat memberikan suntikan epidural steroid, untuk menghilangkan nyeri yang dialami pasien. Setelah suntikan steroid diberikan, dokter umumnya menyarangkan terapi rehabilitasi, seperti melakukan peregangan dan gerakan-gerakan tertentu.

Jika nyeri tetap muncul meski terapi obat sudah diberikan dan aktivitas pasien masih minim, dokter akan menyarankan tindakan pembedahan.

Terdapat dua prosedur operasi bedah minimal yang populer dan direkomendasikan pada kasus herniasi diskus lumbal, yaitu mikrodistectomy dan percutaneous endoscopic lumbar disectomy (PELD). Keduanya bertujuan menghilangkan tekanan herniasi diskus pada saraf sekitar tulang belakang.

Prosedur ini hanya mengakibatkan sayatan kecil pada kulit, memberikan manfaat dan kenyamanan pada pasien secara lebih baik dibanding teknik bedah konvensional. Selain luka sayatan yang minimal, pada pasien dengan kontra indikasi untuk dilakukan bius total, teknik ini dapat dilakukan dengan menggunakan bius lokal.

Pasien juga tidak harus berlama-lama di rumah sakit atau klinik karena dapat juga dilakukan one day care. Seperti namanya, PELD dilakukan melalui prosedur endoskopi. Dokter akan membuat sayatan kecil di kulit sebesar 7 mm, selanjutnya masuk ke dalam menuju foramen.

“Foramen merupakan area yang kaya akan persarafan. Di lokasi ini juga tempat yang kemungkinan banyak terjadi jepitan saraf yang menimbulkan rasa nyeri pada pasien,” jelas dr. Mahdian.

PELD juga biasa disebut dengan teknik stich less surgery, karena teknik ini tidak membutuhkan jahitan setelah prosedur dilakukan. “Tidak seperti operasi lainnya, yang memerlukan jahitan di akhir prosedur,” ungkapnya.

Teknik operasi konvensional juga mengakibatkan perdarahan yang lebih banyak, dibandingkan jika dilakukan dengan teknik endoskopi. Selain itu, risiko untuk terjadinya infeksi pada teknik operasi konvensional juga lebih besar. Pemotongan tulang lamina pada teknik konvensional di kemudian hari dapat mengakibatkan masalah instabilitas tulang hingga kekuatan tulang yang menurun.

“Teknik endoskopi juga tidak perlu memotong ligamen yang berfungsi sebagai penyangga tulang,” jelas dr. Mahdian. Risiko kambuh kembali, juga lebih kecil pada teknik endoskopi karena tidak mengganggu stabilitas tulang belakang. Dengan teknik endoskopi risiko perlengketan juga tidak ada. Perlengketan sering terjadi pada teknik konvensional,” jelasnya.

Dahulu pada teknik operasi konvensional, untuk dapat mencapai daerah saraf yang terjepit, seorang dokter harus melakukan banyak sayatan, mulai dari sayatan di kulit, sayatan di otot, sayatan/ pemotongan tulang lamina, baru menyisihkan saraf-saraf dan terakhir mengoreksi bantalan tulang yang menjepit. Tahapan yang harus dilakukan tadi, tentunya akan mengakibatkan trauma jaringan. “Dengan teknik endoskopi, hal ini tidak dilakukan lagi,” jelas dr. Mahdian.

Belum lama ini sebuah penelitian dilakukan untuk melihat efikasi PELD pada 100 pasien dengan herniasi diskus lumbar yang telah gagal dengan terapi konvensional. Usia pasien bervariasi antara 15–84 tahun. Setelah PELD, follow up pasien dilakukan untuk mengetahui outcome, kualitas hidup pasien, fungsi neurologis dan komplikasi yang mungkin ditimbulkan paska PELD.

Hasilnya, sebanyak 97 pasien mengalami perbaikan cukup signifikan pada derajat nyerinya dari Visual Analog Score 8,2 turun menjadi 1,8 paska tindakan PELD. Lama perawatan rata-rata selama 1,6 hari. Tindakan PELD dilakukan dalam waktu sekitar 45 menit. Setelah tindakan PELD pasien juga dapat beraktivitas seperti sediakala.

(vem/asp/feb)
Loading
Artikel Selanjutnya
5 Hal Ini akan Terjadi Jika Kamu Berhenti Makan Gula