Sukses

Beauty

Inilah 5 Jenis dan Penyebab Munculnya Bintik Merah pada Kulit beserta Cara Penanganannya

Fimela.com, Jakarta Masalah pada kulit bermacam-macam. Salah satu masalah kulit yang dialami banyak orang salah satunya adalah bintik merah pada kulit.

Bintik merah pada kulit ada yang berbahaya, ada pula yang dapat sembuh dengan sendirinya. Cara menanganinya juga beragam. Ada yang hanya perlu melakukan perawatan di rumah, sampai harus menemui dokter kulit untuk penanganan lebih lanjut.

Bintik merah pada kulit memiliki berbagai jenis, juga penyebabnya. Jika mengetahui jenis masalah bintik kulit yang kamu alami, kamu akan bisa melakukan perawatan yang tepat. Maka dari itu, penting untuk mencari tahu dan bukan hanya membiarkannya saja.

Sehubungan dengan itu, berikut ini adalah jenis dan penyebab bintik merah pada kulit beserta penanganan yang harus dilakukan, yang dilansir dari Medical News Today.

1. Ruam panas

Ruam panas atau miliaria terjadi ketika kelenjar keringat tersumbat, lalu menjebak keringat di lapisan dalam kulit.

Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi dan anak kecil dengan kelenjar keringat yang belum matang.

Gejala ruam panas:

- kumpulan benjolan merah kecil yang disebut papula

- benjolan keras berwarna daging

- rasa gatal atau berduri

- Keringat ringan atau tidak ada di daerah yang terkena

- peradangan dan nyeri

- pusing

- mual

Penanganan:

Ruam panas biasanya hilang dalam waktu 24 jam, tapi jika belum sembuh bisa lakukan hal berikut:

- Perawatan biasanya melibatkan penggunaan losion untuk meredakan gatal, iritasi, dan pembengkakan.

- Orang juga dapat menjaga kulit mereka tetap dingin dan menghindari pakaian ketat.

2. Keratosis pilaris

Keratosis pilaris (KP) adalah kondisi kulit umum yang menyebabkan benjolan kecil berwarna merah, putih, atau berwarna seperti daging pada kulit.

Paling sering memengaruhi bagian luar lengan atas. Walau lebih jarang terjadi, ini juga dapat memengaruhi lengan bawah dan punggung atas.

Gejala keratosis pilaris:

- kulit yang terasa kasar atau kering

- bercak kecil, benjolan tanpa rasa sakit di kulit

- gatal

Penanganan:

- pelembab yang mengandung urea atau asam laktat

- asam alfa hidroksi

- asam glikolat

- asam laktat

- retinoid

- asam salisilat

- terapi laser atau cahaya

3. Dermatitis kontak

Dermatitis kontak terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan zat yang mengiritasi kulit mereka atau memicu reaksi alergi. Gejala dermatitis kontak bervariasi tergantung pada pemicu dan tingkat keparahan reaksi.

Gejala dermatitis kontak:

- ruam yang muncul dalam pola atau bentuk geometris

- kulit kering yang mengelupas dan pecah-pecah

- ruam kulit yang cerah dan memerah

- kumpulan titik-titik merah kecil di kulit

- gatal-gatal, atau bekas yang sangat gatal pada kulit

- rasa gatal yang hebat, sesak, atau sensasi terbakar

- lepuh berisi cairan yang merembes dan mengeras

- kulit gelap dan menebal

- kepekaan terhadap sinar matahari

Penanganan:

Perawatan untuk dermatitis kontak tergantung pada penyebab dan tingkat keparahan gejala.

Gejala ringan hingga sedang membaik ketika menghindari kontak dengan iritan atau alergen. Jika memungkinkan, yang harus dilakukan:

- hindari produk perawatan kulit yang mengandung bahan kimia yang keras atau mengiritasi

- hindari perhiasan berlapis nikel atau emas

- hindari makanan atau obat-obatan yang menyebabkan reaksi alergi

- memakai pakaian pelindung di lingkungan kerja atau area dengan tanaman beracun

Jika dermatitis terbatas pada area kecil, dapat mengoleskan krim hidrokortison 1%.

4. Dermatitis atopik

Dermatitis atopik juga dikenal sebagai eksim, adalah kondisi peradangan kulit kronis.

Ada banyak jenis eksim, termasuk di antaranya:

Eksim folikel: jenis ini mempengaruhi folikel rambut.

Eksim papular: muncul sebagai benjolan merah kecil pada kulit yang oleh para profesional kesehatan disebut sebagai papula.

Gejala eksim:

- kulit sangat gatal

- kehangatan dan pembengkakan pada kulit

- kulit kering dan bersisik

- kelompok lepuh kecil berisi cairan

- lecet yang mengeluarkan cairan dan mengeras

Penanganan:

- minum obat resep, seperti steroid dan antihistamin

- menjalani fototerapi atau terapi cahaya

- mengoleskan pelembap untuk merawat kulit kering dan pecah-pecah

- menggunakan deterjen cucian tanpa pewangi dan tidak menyebabkan iritasi

- menghindari pemicu, seperti udara kering, stres, dan alergen

Jika keadaan kulit tidak membaik, segera temui dokter untuk menerima perawatan lebih lanjut.

5. Rosasea

Rosacea adalah kondisi kulit yang menyebabkan iritasi kulit, kemerahan, dan jerawat kecil. Kondisi ini paling sering terjadi pada orang dewasa berusia 30-60 tahun, orang dengan kulit putih, dan mereka yang mengalami menopause.

Gejala rosacea:

- kulit iritasi atau merah di dahi, hidung, pipi, dan dagu

- Pembuluh darah yang terlihat dibawah kulit

- kumpulan benjolan kecil atau jerawat

- kulit wajah tebal

- mata merah, gatal, atau berair

- radang kelopak mata

- penglihatan kabur

Penanganan:

- menghindari pemicu, seperti sinar ultraviolet, alkohol, dan bahan kimia keras

- mencuci muka dengan pembersih pH seimbang

- sering menggunakan pelembab

- memakai tabir surya spektrum luas dengan SPF 30 atau lebih tinggi

- hindari produk berkafein dan makanan pedas

Perawatan medis pada rosacea:

- brimonidin tartrat

- asam azelaic

- metronidazol

- bedah listrik

- terapi cahaya

- ivermectin topikal

- tetrasiklin oral

*Penulis: Vania Ramadhani Salsabillah Wardhani.

 

#Women for Women

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading