Sukses

Beauty

Sering Pakai Hair Dryer? Waspadai Risikonya untuk Kesehatan Rambutmu

Fimela.com, Jakarta Mengeringkan rambut dengan hair dryer memang menjadi solusi cepat dan praktis bagi kaum wanita, terutama ketika sedang terburu-buru atau ingin menata rambut agar terlihat lebih rapi. Alat ini juga sering dianggap sebagai “penyelamat” setelah keramas di pagi hari sebelum beraktivitas. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada risiko yang perlu diwaspadai.

Penggunaan hair dryer yang terlalu sering dengan suhu panas berlebih dapat memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan rambut. Mengutip dari hims.com, kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan pada batang rambut.

Rambut yang sering terpapar suhu tinggi dapat menyebabkan kehilangan kelembaban alaminya, sehingga menjadi kering, rapuh, atau bahkan lebih mudah bercabang. Berikut ini dampak dari terlalu sering memakai hair dryer untuk rambut. 

1. Kerusakan pada Batang Rambut

Paparan panas yang berlebih dari hairdryer dapat merusak lapisan batang rambut yang berfungsi dalam melindungi bagian dalam rambut. Ketika lapisan ini melemah, rambut akan mulai kehilangan kelembapan alaminya sehingga menjadi terasa kering dan kasar. Akibatnya, rambut menjadi lebih mudah mengalami frizz, yaitu sulit diatur dan menjadi retan bercabang di ujungnya. 

Kerusakan yang terjadi pun tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi dampaknya akan semakin nyata jika penggunaan hairdryer dilakukan terlalu sering, terutama dalam suhu tinggi. Dalam jangka panjang, struktur rambut pun menjadi rapuh dan mulai berkurang elastisitasnya, sehingga menjadi mudah patah meski tidak langsung membuat kerontokan. 

Rambut yang sudah rusak, biasanya akan sulit dipulihkan. Perawatan ekstra seperti penggunaan hair mask atau minyak rambut memang bisa membantu, tetapi hasilnya tidak sebaik kondisi rambut yang sehat sejak awal. 

 

 

2. Kerusakan Mikroskopis

Sahabat Fimela, dalam sebuah studi tahun 2020 yang melibatkan 94 perempuan, para peneliti menemukan bahwa blow dry yang dilakukan terlalu sering dapat memicu kerusakan mikroskopis pada rambut.

Meski terlihat sehat diluar, sebenarnya bisa saja melemah dan lebih rentan mengalami patah atau bercabang di kemudian hari. Jika dibiarkan, kerusakan mikroskopis dapat menurunkan kualitas rambut secara keseluruhan, menjadikannya kusam, kehilangan kilau alami, dan sulit dipulihkan dengan perawatan biasa. 

Hal inilah yang sering membuat banyak orang merasa rambutnya tiba-tiba mudah rusak meskipun secara kasat mata terlihat baik-baik saja sebelumnya. Jika dibiarkan, kerusakan mikroskopis dapat menurunkan kualitas rambut secara keseluruhan, menjadikannya kusam, kehilangan kilau alami, dan sulit dipulihkan dengan perawatan biasa.

Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa efek penggunaan hairdryer bukan hanya soal tampilan luar, tetapi juga menyentuh lapisan terdalam rambut.

 

 

3. Risiko Rambut Mudah Patah

Banyak orang khawatir kalau penggunaan hairdryer dapat menyebabkan rambut rontok. Faktanya, hairdryer tidak secara langsung memicu kerontokan, tetapi penggunaan yang salah dapat membuat rambut lebih rapuh dan mudah patah.

Terlebih lagi, panas yang berlebih diarahkan terlalu dekat ke rambut dapat melemahkan batang rambut, sehingga rambut kehilangan kekuatannya. Kondisi ini semakin buruk bila diawali dengan kebiasaan mengeringkan rambut dengan cara dengan menggosok rambut terlalu keras dengan handuk setelah keramas.

Gesekan yang berlebih bukan hanya membuat rambut menjadi kusut tetapi juga meningkatkan risiko patah di bagian tengah atau ujung rambut. Rambut yang patah seringkali disalahartikan sebagai kerontokan, padahal berbeda. 

Meskipun begitu, perlu diingat bahwa rambut rontok 50 – 100 helai per hari adalah hal yang normal. Jadi, jika terasa rambut banyak berjatuhan setelah memakai hairdryer, bisa jadi Sahabat Fimela hanya lebih memperhatikannya saat proses pengeringan, bukan karena hairdryer menyebabkan kerontokan parah.

 

 

4. Efek Panas vs. Air Drying

Pada studi tahun 2011, peneliti menemukan bahwa blow dry dengan suhu tinggi (sekitar 95℃) dapat menyebabkan kerusakan paling parah pada permukaan rambut, seperti membuat kutikula rambut terbuka, rapuh, dan kehilangan kelembapan. Semakin tinggi panas yang digunakan dan semakin dekat jaraknya dengan rambut, semakin besar pula kerusakan yang terjadi. 

Namun, air drying atau membiarkan rambut kering sendiri ternyata tidak sepenuhnya tak ada risiko. Rambut yang terlalu lama dalam keadaan basah bisa meruska cell membrane complex, yaitu lapisan pelindung yang berfungsi sebagai “lem” yang menyatukan sel-sel rambut. Saat rambut dibiarkan basah terlalu lama, lapisan ini dapat membengkak, sehingga struktur rambut melemah dan rambut menjadi lebih mudah kusut serta kehilangan bentuk alaminya. 

 

 

Cara Mengurangi Risiko Kerusakan Rambut

Meskipun ada bahaya terlalu sering pakai hairdryer, bukan berarti Anda harus berhenti sepenuhnya. Ada cara yang bisa dilakukan untuk tetap aman:

  • Gunakanlah hair dryer dari jarak 15 cm (sekitar 6 inci).
  • Hindari menahan panas di satu titik, selalu gerakkan hairdryer.
  • Pilih suhu sedang atau dingin, bukan suhu maksimal.
  • Kurangi kebiasaan menggosok rambut dengan handuk, cukup ditepuk perlahan.
  • Gunakan pelindung panas sebelum styling.

Hairdryer bukanlah musuh utama rambut, namun cara penggunaanlah yang menentukan. Bahaya terlalu sering pakai hair dryer terutama muncul saat suhu terlalu tinggi atau jarak terlalu dekat. Jika digunakan dengan bijak, blow dry justru bisa lebih aman daripada membiarkan rambut terlalu lama basah.

 

Penulis : Annisa Kharisma Dewi 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading