Sukses

Fashion

Diary Fimela: Kisah Pasangan Rantau, Dipecat sampai Bangkrut Kini Sukses Bisnis Hijab dengan Omzet Miliaran

Fimela.com, Jakarta Merantau ke Jakarta menjadi hal yang lumrah dilakukan bertujuan memperbaiki perekonomian keluarga. Namun bukan hal yang mudah mengadu nasib di ibu kota, banyak tantangan yang harus dilalui.

Asam garam merantau pun dirasakan Chika Ariska yang kini memiliki bisnis brand fashion hijab  diberi nama Bugis Hijab, dengan omzet miliaran. Kesuksesan yang ia raih pun butuh perjuangan yang tak mudah, kisahnya berawal ketika memutuskan untuk bekerja di Jakarta.

Sebelum bisnis hijab, di tahun 2008, Chika yang saat itu masih sangat belia nekat merantau ke Jakarta karena ingin mengubah nasib ibu dan saudara kandungnya di kampung halaman. Chika dan keenam saudaranya terbiasa hanya makan nasi dengan garam karena tak memiliki apa-apa.

Saat itu, ia hanya mengantongi uang saku sebesar Rp500, ijazah setara SMP, serta bermodal janji akan mendapat pekerjaan di sebuah toko di kawasan Tanah Abang. Namun, sang ibu sempat menentang keputusannya merantau.

"Ibu saya bilang untuk apa ke Jakarta, mau jadi pelacur? Ucapan itu keluar karena ibu tahu Jakarta itu kota yang keras. Apalagi saya perempuan dan masih remaja. Tapi saya terus bertekat tetap mau ke Jakarta untuk mengubah nasib saya dan keluarga," papar Chika.

Sesampainya di Jakarta, perempuan yang kini berusia 28 tahun tersebut bercerita bagaimana dirinya harus bekerja dari pagi sampai malam, menjaga toko dengan gaji Rp250 ribu per bulan.

Saat bekerja pun, Chika mengaku kerap mendapat pengalaman tak mengenakkan mulai dari dituduh yang tidak-tidak sampai terpaksa makan makanan sisa karyawan toko lainnya.

"Sampai saya pernah makan makanan sisa teman-teman karena belum menerima gaji bulanan," lanjutnya.

Namun semua berubah dengan kerja keras ketika Chika menunjukkan dirinya adalah sosok karyawan yang tekun hingga menyandang status sebagai 'anak emas' dan dipromosikan sebagai kepala toko.

Hikmah setelah dipecat

Namun, keberuntungan tidak selalu berpihak pada Chika. Di tahun 2017 atau hampir 10 tahun bekerja sebagai karyawan toko, Chika harus menelan pil pahit saat merima status pemecatan dirinya, sesaat setelah melepas masa lajang.

"Saat itu saya pulang ke Belawa, Wajo, untuk menikah. Setelah menikah saya dipanggil oleh bos dan tiba-tiba saja dipecat tanpa alasan yang jelas," kata Chika menuturkan kisahnya.

Namun keadaan tersebut justru membuka pintu rezeki lainnya bagi Chika. Ia dan suami --Arwin Burhan, mulai mencoba bisnis hijab di sebuah toko sepetak berukuran 2x2 meter di Thamrin City, Jakarta Pusat. Bermodalkan uang pesangon yang ia dapat dari bos pemilik toko tempat awal ia bekerja.

"Saat itu saya jualan hanya setengah toko dan boleh berjualan hanya di hari-hari tertentu selain hari Senin dan Kamis, hari di mana toko biasanya ramai. Ketika bukan hari berjualan, barang harus dipindah ke gudang padahal saat itu saya sedang hamil muda anak pertama," lanjut Chika.

Bukan tanpa rintangan, Chika mengatakan bagaimana ia kerap dipandang sebelah mata dan sulit mendapatkan barang importir saat awal-awal berjualan.

Bukan hanya Chika, sang suami pun seorang perantau kelahiran Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan datang ke Jakarta pada akhir 2013 dengan hanya membawa uang saku sebesar Rp300 ribu.

Sesampai di Jakarta, Arwin sempat menumpang hidup di rumah salah satu sabahatnya yang memiliki usaha konveksi rumahan. Arwin juga kerap berbohong kepada keluarga di kampung dan mengatakan bahwa ia sudah makan enak di Jakarta. "Kenyataannya saya hanya makan tempe goreng. Saya berbohong demi menyenangkan ibunda," kata Arwin.

Sebulan menumpang dan makan seadanya di rumah kolega, perlahan usaha konveksi sahabatnya itu menurun dan hampir gulung tikar. Namun, ia berfikir keras untuk tetap bisa bertahan dengan membuat kemeja. Beruntungnya, kemeja tersebut terjual habis.

"Saat itu dia hampir putus asa. Saya tahan satu penjahitnya, lalu pergi ke penjual bahan untuk membuat kemeja. Barang habis, dapat uang Rp7 juta lalu saya putar lagi uang Rp7 juta itu sampai akhirnya konveksi tidak jadi tutup," tambah lelaki yang besar di Kendari, Sulawesi Tenggara itu.

Setelah empat tahun berbisnis bersama sahabatnya, Arwin memutuskan untuk membuat brand fashion sendiri dan memiliki toko di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sayang, usaha pakaiannya terpaksa gulung tikar.

"Tapi mulai saat itu, kami akhirnya berpikir untuk mengembangkan bisnis hijab yang memang memiliki pasar yang sangat besar," tambah Arwin Burhan.

Kerja keras selalu membuahkan hasil

Sama-sama bejuang dari bawah, baik Chika maupun Arwin merupakan wujud nyata kerja keras yang tidak akan menghianati hasil.

Setahun setelah bisnis, bahan dari Cina pun masuk dan diolah di Indonesia, inilah yang membuat penjualanan hijabnya berkembang. Bahkan di masa pandemi ini, penjualan hijab semakin meningkat hingga memiliki omzet 2 milliar perbulannya.

Peningkat penjualan di masa pandemi Covid-19 dikarenakan Arwin memiliki ide untuk membuat toko online. Dan kini, Bugis Hijab telah memiliki tiga toko offline.

Akhirnya satu toko offline ditutup, dan dialihkan sebagai toko online Bugis Hijab yang berdiri hingga saat ini. Berkat go online, omzet Bugis Hijab naik pesat hingga miliaran dan memiliki lebih dari 70 karyawan.

Bahkan kini, pasangan yang telah dikaruniai dua anak sudah mampu membeli rumah di kawasan Tanah Abang, setelah sebelumnya hidup di rumah susun.

Brand Bugis Hijab bisa ditemui di toko offline Lantai 5 Blok A12 No. 11; Lantai 5 Blok F11 No. 17 di Thamrin City, Tanah Abang, Jakarta Pusat serta platform belanja online dan Instagram @bugishijabofficial.

 

#elevate women

Loading
Artikel Selanjutnya
Gaya Fashion Ikonis dari 3 Negara yang Bisa Jadi Inspirasi OOTDmu
Artikel Selanjutnya
Menilik Harapan di Masa Pandemi dari Koleksi Pakaian Rumah yang Fashionable