Sukses

Fashion

[Vemale's Review] Novel The Little Paris Bookshop - Nina George

Judul: Toko Buku Kecil di Paris (The Little Paris Bookshop)
Penulis: Nina George
Alih bahasa: Utti Setiawati
Editor: Rini Nurul Badariah
Sampul oleh: Robby Garsia
Diterbitkan oleh: PT Gramedia Pustaka Utama, 2017


Monsieur Perdu menyebut dirinya apoteker literatur. Dari toko buku apungnya di Sungai Seine, ia meresepkan novel-novel untuk membantu meringankan beban hidup. Sepertinya, satu-satunya orang yang tak mampu ia sembuhkan hanya dirinya sendiri; ia masih dihantui patah hati setelah kekasih hatinya pergi, meninggalkan surat yang tak pernah dibukanya.

Akhirnya Perdu tergoda untuk membaca surat tersebut, lalu ia angkat sauh dan berangkat ke Prancis Selatan demi berdamai dengan kehilangannya. Bersama pengarang yang sedang mengalami kebuntuan menulis serta chef Italia yang sedang gundah dirundung cinta, Perdu berlayar sembari membagi-bagikan kebijaksanaannya, membuktikan bahwa buku dapat memulihkan jiwa manusia.


Jean Albert Victor Perdu, dia bukan penjual buku biasa. Dia menjual buku tidak kepada sembarang orang. Seperti dokter, Perdu akan "meresepkan" buku tertentu pada orang dengan kondisi tertentu. Bahkan ia juga tak akan ragu untuk melarang seseorang membeli buku tertentu yang tidak sesuai dengan dirinya. Dan toko buku yang dimilikinya bukan toko buku biasa, melainkan sebuah kapal buku yang diberi nama la pharmacie litteraire (Literary Apothecary).

Walaupun Perdu bisa membantu orang lain menyembuhkan jiwa dengan buku-buku yang direkomendasikan, ia sendiri sebenarnya memiliki kesedihan yang mendalam. Bahkan ada sepucuk surat yang tidak dibukanya selama lebih dari 20 tahun. Sepucuk surat dari seorang wanita yang begitu dikasihinya tapi juga yang telah menorehkan luka terdalam, namanya Manon.

Sampai suatu hari ia bertemu dengan Catherine, seorang wanita yang baru saja dicampakkan oleh suaminya. Perdu dan Catherine memiliki kesedihan dan luka yang hampir sama. Tapi siapa sangka justru pertemuannya dengan Catherine membuat Perdu jadi membuka dan mengetahui isi surat Manon yang selama ini ia hindari.

Foto: copyright Vemale/Endah Wijayanti

"Tentu buku lebih daripada dokter. Ada novel yang bisa menjadi teman seumur hidup yang penyayang; ada yang menjewer kita; lainnya menjadi teman yang memeluk dalam handuk hangat saat kita merasakan kerisauan musim gugur. Dan ada yang... ehm, ada yang seperti permen kapas pink yang menggelitik otak kita selama tiga detik dan meninggalkan kekosongan yang menenangkan. Seperti afair cinta singkat dan menggebu-gebu."
(hlm. 40)


Isi surat Manon membuat Perdu menyesali banyak hal. Bahkan pemahamannya selama ini menyimpan banyak kekeliruan. Sebuah keputusan pun diambil. Bersama seorang pengarang muda yang sedang kehilangan inspirasi bernama Maximiliuan Jordan dan dua ekor kucingnya, Perdu berpetualang dengan kapal bukunya menjelajahi Prancis Selatan demi bisa mencari kedamaian lagi di hatinya. Di sepanjang perjalanan, Perdu bertemu banyak orang. Ia juga masih menjual buku dari kapalnya. Seorang chef bernama Cuneo Salvatore kemudian ikut bergabung dalam perjalanan tersebut.

Kehilangan dan penyesalan masih menghantui Perdu. Kenangannya bersama Manon masih begitu kuat tapi juga menyakitkan. Dan itu ia simpan seorang diri. Bahkan sampai separuh perjalanan, Perdu menyembunyikan sebuah fakta soal Manon pada Max.

"Tapi wanita mencintaimu karena karakter, kekuatan, kepandaianmu. Atau karena kau bisa melindungi anak kecil. Karena kau orang baik, kau terhormat dan bermartabat. Mereka tak pernah mencintai kita sebodoh laki-laki mencintai wanita. Bukan karena kau punya betis yang luar biasa indah atau tampak begitu memukau saat berjas sehingga mitra-mitra bisnis mereka menatap iri ketika mereka memperkenalkanmu. Wanita semacam itu memang ada, namun hanya sebagai contoh peringatan bagi yang lain.
(hlm. 80-81)


Dalam perjalanan tersebut, Perdu juga berusaha untuk mencari dan menemukan penulis novel berjudul Southern Lights. Banyak kejutan yang ditemukannya dalam perjalanannya. Termasuk pertemuannya dengan Luc (mantan suami Manon) dan putrinya Victoria.

Max dan Cuneo bahkan menemukan cinta sejatinya dalam perjalanan tersebut. Lalu bagaimana dengan Perdu? Bisakah ia berdamai dengan semua kehilangan dan kesedihan? Benarkah buku-buku bisa membantu mengatasi kesedihan dan luka?

Kita kekal dalam mimpi orang-orang yang kita cintai. Dan orang-orang sudah mati yang kita cintai terus hidup setelah kematian mereka dalam mimpi kita. Mimpi adalah penghubung antardunia, antarwaktu dan ruang.
(hlm. 170)

Foto: copyright Vemale/Endah Wijayanti

Novel ini sangat menarik sekaligus mengaduk perasaan. Sebaiknya tidak dibaca dengan buru-buru agar bisa meresapi setiap kalimatnya. Petualangan Perdu dengan kapal bukunya menjelajahi berbagai daerah membuat kita serasa ikut berkelana menikmati keindahan Prancis Selatan. Mengenal Prancis masa lalu yang penuh kesatria dan penyihir. Menikmati indahnya bintang-bintang di tengah gelapnya malam dari atas kapal.

Ada sejumlah hal menarik yang diungkapkan di novel ini. Seperti menyinggung soal bagaimana Bram Stoker menciptakan Dracula, soal kemampuan transpersepsi yang dimiliki Perdu, sejumlah judul novel yang cocok dibaca pada situasi tertentu sesuai rekomendasi Perdu, dan sebagainya. Di novel ini, tidak hanya soal buku saja yang dibahas. Lebih dari itu, ada soal cinta, luka, keluarga, hingga kehilangan yang dibahas di novel ini.

Kita benar-benar akan dibuat terharu pada usaha Perdu menyembuhkan luka hatinya. Dan juga akan dibuat tersenyum dan ikut tergelitik dengan berbagai karakter lain yang ditemuinya. Judulnya Toko Buku Kecil di Paris (The Little Paris Bookshop) tapi yang diceritakan di dalamnya lebih dari sekadar soal sebuah toko buku biasa.




(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading