Sukses

FimelaMom

Disiplin Tanpa Drama, Tips Membantu Anak Menyelesaikan Tugas Tepat Waktu

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, mengingatkan anak untuk mengerjakan tugas seringkali terasa seperti percakapan yang berulang. Baru saja diminta memulai PR, lima menit kemudian terdengar, “Sebentar lagi ya, masih mau main.” Waktu terus berjalan, tenggat semakin dekat, dan tanpa disadari, malam pun diisi dengan pekerjaan yang serba terburu-buru dan emosi yang ikut memuncak.

Situasi ini bukan pengalaman satu dua orangtua saja. Banyak orangtua menghadapi hal serupa, di mana anak tampak terus menunda tanggung jawabnya, sementara orang tua merasa lelah, khawatir, sekaligus bingung harus bersikap seperti apa. Namun sebelum terburu-buru melabeli anak sebagai malas atau kurang disiplin, ada satu hal penting yang perlu dipahami: kebiasaan menunda sering kali bukan soal waktu, melainkan soal perasaan.

Di balik sikap menunda, anak bisa saja sedang bergulat dengan rasa cemas, takut gagal, bingung harus mulai dari mana, atau merasa tugas tersebut terlalu berat untuk dihadapi. Dari sinilah, pendekatan disiplin yang berangkat dari pemahaman emosi menjadi kunci penting untuk membantu anak belajar bertanggung jawab dengan cara yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Prokrastinasi pada Anak Bukan Tanda Kemalasan

Dilansir dari pyschologytoday.com, menunda tugas sebenarnya berkaitan erat dengan pengelolaan emosi. Prokrastinasi didefinisikan sebagai penundaan yang disengaja meski seseorang tahu hal itu akan berdampak buruk.

Pada anak-anak, penundaan sering muncul karena perasaan tidak nyaman, seperti cemas, takut gagal, bingung, atau kewalahan. Jadi, alih-alih melihat prokrastinasi sebagai kebiasaan buruk, Sahabat Fimela bisa memandangnya sebagai sinyal bahwa anak sedang kesulitan secara emosional.

 

Tips Membuat Anak Disiplin Tanpa Menunda-nunda Tugas

Untuk itu, alih-alih memaksa atau memarahi, Sahabat Fimela bisa mencoba pendekatan yang lebih lembut, efektif, dan penuh empati berikut ini agar anak merasa didukung, bukan ditekan.

1. Bantu Anak Mengenali Perasaannya

Saat anak menunda atau enggan mengerjakan tugas, sering kali bukan karena malas, melainkan karena merasa kewalahan, bingung, atau takut salah. Daripada langsung menegur dengan nada menyalahkan, ajak anak berdialog. Misalnya dengan bertanya, “Bagian mana yang terasa paling sulit?” atau “Kamu merasa capek atau bingung, ya?” Dengan memvalidasi perasaannya, anak akan merasa dipahami dan lebih terbuka untuk mencari solusi bersama.

2. Ajarkan Belas Kasih pada Diri Sendiri

Tanamkan pada anak bahwa merasa kesulitan adalah hal yang wajar dalam proses belajar. Bantu ia mengubah pola pikir dari “Aku tidak bisa” atau “Aku gagal” menjadi “Aku sedang belajar dan butuh waktu.” Sikap penuh belas kasih pada diri sendiri ini akan membuat anak tidak mudah menyerah dan lebih berani mencoba, meski hasilnya belum sempurna.

3. Pecah Tugas Menjadi Langkah Kecil

Tugas yang terlihat besar dan rumit sering kali membuat anak merasa takut untuk memulai. Sahabat Fimela bisa membantu dengan memecahnya menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikerjakan. Misalnya, mulai dari membaca soal, menuliskan judul, atau mengerjakan satu nomor terlebih dahulu. Ketika satu langkah kecil berhasil diselesaikan, anak akan merasa lebih percaya diri untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

4. Hubungkan Anak dengan ‘Diri Masa Depannya’

Ajak anak membayangkan bagaimana perasaannya jika tugas dikerjakan sedikit demi sedikit dibandingkan harus dikejar waktu di menit terakhir. Pendekatan ini membantu anak memahami manfaat jangka panjang dari usahanya sekarang, sekaligus melatih kemampuan mengelola waktu dan tanggung jawab secara lebih sadar.

5. Ciptakan Lingkungan yang Mendukung

Lingkungan yang kondusif sangat berpengaruh pada fokus anak. Kurangi distraksi seperti gawai atau televisi saat waktu belajar, buat rutinitas yang konsisten, dan sediakan ruang belajar yang nyaman. Tetapkan ekspektasi yang jelas, namun tetap realistis dan tanpa tekanan berlebihan, agar anak merasa aman dan termotivasi.

6. Hargai Proses, Bukan Kesempurnaan

Alih-alih hanya memuji hasil akhir, berikan apresiasi pada usaha yang sudah dilakukan anak. Pujian seperti “Kamu sudah berusaha keras” atau “Ibu bangga kamu mau mencoba” akan membangun kepercayaan diri dan menanamkan pemahaman bahwa proses belajar jauh lebih penting daripada harus selalu sempurna.

Dengan pendekatan yang penuh empati ini, anak tidak hanya terbantu menyelesaikan tugasnya, tetapi juga belajar mengenali emosi, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan sikap positif terhadap proses belajar ke depannya.

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading