Sukses

Lifestyle

Nice Girl Syndrome ketika Kebaikan Menjadi Beban Psikologis

Fimela.com, Jakarta Dalam budaya yang menjunjung tinggi kesopanan, perempuan sering kali dibentuk untuk selalu tampil ramah, penurut, dan menyenangkan. Namun ketika keinginan untuk “selalu menjadi baik” berubah menjadi pola yang merugikan diri sendiri, inilah yang disebut sebagai Nice Girl Syndrome.

Istilah ini bukan diagnosis klinis, melainkan konsep psikologis populer yang menjelaskan bagaimana perempuan (atau siapa pun, tanpa memandang gender) terjebak dalam pola perilaku yang terlalu menyenangkan orang lain—sering kali dengan mengorbankan batas, kebutuhan, dan kesehatan mentalnya.

 Apa Itu Nice Girl Syndrome?

Nice Girl Syndrome adalah kondisi ketika seseorang merasa harus selalu:

bersikap baik, menghindari konflik, menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain, menekan emosi negatif, dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan sendiri. Mereka takut dianggap egois, jahat, atau tidak menyenangkan jika berkata “tidak”.

 

Tanda-Tanda Nice Girl Syndrome

Beberapa ciri yang sering ditemui:

1. Sulit Mengatakan “Tidak”

Menolak permintaan orang lain membuat mereka merasa bersalah atau takut ditolak.

2. Menghindari Konflik Apa Pun

Bahkan jika ada ketidakadilan, mereka memilih diam demi menjaga suasana.

3. Selalu Ingin Semua Orang Senang

Mereka merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.

4. Lebih Fokus pada Penampilan dan Persepsi

Takut dianggap kasar, cerewet, atau terlalu menuntut.

5. Menekan Emosi Pribadi

Rasa marah, kecewa, atau sedih ditahan karena dianggap tidak pantas.

6. Sulit Menetapkan Batas (Boundary Issues)

Baik dalam pertemanan, pekerjaan, maupun hubungan romantis.

 

Dari Mana Nice Girl Syndrome Berasal?

1. Pola Asuh

Anak perempuan diajarkan untuk “manis, tenang, dan tidak memberontak”.

2. Norm sosial dan budaya

Perempuan sering diberi role sebagai pengasuh, penenang, dan penurut.

3. Trauma atau Pengalaman Masa Lalu

Misalnya dibesarkan dalam keluarga yang tidak stabil sehingga harus selalu “baik” untuk menghindari konflik.

4. Kebutuhan Mendapat Validasi

Rasa berharga diukur dari seberapa banyak orang menyukai mereka.

5. Minimnya contoh hubungan yang sehat

Boundary tidak pernah diajarkan, sehingga sulit membentaknya di usia dewasa.

 

Dampak Negatif Nice Girl Syndrome

Walau tampak positif, pola ini dapat menimbulkan konsekuensi psikologis:

1. Burnout Emosional

Selalu menyenangkan orang lain sangat melelahkan.

2. Identitas yang Kabur

Terlalu sering mengikuti keinginan orang lain hingga tidak tahu lagi apa yang sebenarnya diinginkan.

3. Rentan Dimanfaatkan

Orang lain dapat mengambil keuntungan dari sifat mereka.

4. Hubungan Tidak Seimbang

Selalu memberi dan jarang menerima.

5. Depresi dan Kecemasan

Akibat menekan emosi dan tidak punya ruang aman untuk jujur.

 

Cara Mengatasi Nice Girl Syndrome

Berikut langkah pertama yang sehat untuk keluar dari pola ini:

1. Kenali Polanya

Sadari kapan Anda merasa bersalah padahal hanya ingin menjaga diri sendiri.

2. Latih Mengatakan “Tidak”

Mulai dari hal kecil: “Maaf, aku tidak bisa sekarang.”

3. Buat Batasan yang Jelas

Batas bukan tanda egois, tapi bentuk menghargai diri.

4. Lepaskan Kebutuhan untuk Disukai Semua Orang

Tidak semua orang akan suka pada Anda, dan itu normal.

5. Toleransi Ketidaknyamanan

Konflik kecil atau penolakan tidak berbahaya seperti yang dibayangkan.

6. Validasi Diri Sendiri

Kebaikan Anda tidak harus disetujui semua orang.

7. Cari Dukungan

Terapi, komunitas, atau teman yang sehat dapat membantu membentuk pola baru.

Menjadi Baik vs Menjadi “Terlalu Baik”

Tidak ada yang salah dengan menjadi orang yang baik. Yang bermasalah adalah ketika kebaikan berubah menjadi kewajiban yang menyiksa, bukan pilihan yang sadar.

Kunci dari hubungan yang sehat adalah keseimbangan: baik terhadap orang lain, tapi tetap setia pada diri sendiri.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading