Sukses

Food

Merayakan Tradisi Kuliner Kontemporer China-Korea di SU MA Jakarta

Fimela.com, Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap kuliner Jakarta semakin diramaikan oleh hadirnya restoran-restoran yang tidak hanya menawarkan cita rasa autentik, tetapi juga interpretasi baru terhadap warisan budaya kuliner Asia. Di tengah tren tersebut, muncul pendekatan yang menarik: bagaimana tradisi dapat tetap dihormati tanpa harus terjebak dalam pakem masa lalu.

Filosofi inilah yang menjadi fondasi perjalanan SU MA, restoran yang selama tiga tahun terakhir membangun identitasnya melalui eksplorasi kuliner Asia Timur yang menggabungkan akar budaya Tiongkok dan Korea dalam pendekatan yang lebih kontemporer.

Bagi SU MA, makanan bukan sekadar hidangan yang tersaji di atas meja. Di balik setiap sajian, terdapat cerita tentang keluarga, tradisi, kehangatan, dan hubungan antarmanusia yang diwariskan lintas generasi. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman bersantap yang lebih modern melalui Volume 6: Passage, babak terbaru yang mengeksplorasi tema perjalanan, transformasi, dan pergerakan.

Alih-alih menghadirkan fusion food dalam pengertian yang umum, SU MA memilih pendekatan yang lebih subtil. Restoran ini menggabungkan filosofi kuliner China dan Korea melalui pemilihan bahan, teknik pengolahan, hingga cara sebuah menu dikonstruksi.

 

Kreasi Dua Chef dengan Latar Belakang Berbeda

Di kedua budaya tersebut, makanan memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Tradisi fermentasi, penghormatan terhadap musim, penggunaan bahan lokal terbaik, hingga pentingnya makan bersama menjadi nilai yang menghubungkan keduanya.

Elemen-elemen tersebut kemudian menjadi dasar eksplorasi yang terus dikembangkan oleh Executive Chef Brendon Chen dan Co-Executive Chef Ryan Kim.

Keduanya datang dari latar belakang yang berbeda, namun memiliki pandangan yang sama mengenai masa depan kuliner Asia. Chef Brendon tumbuh dalam keluarga Tionghoa-Malaysia yang menjadikan makanan sebagai bagian penting dari kehidupan keluarga. Sementara Chef Ryan membawa perspektif Korea yang kuat melalui pengalaman panjangnya di dunia pastry dan dessert modern.

Perpaduan keduanya melahirkan pendekatan yang unik. Teknik kuliner modern digunakan bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan memperkaya dan membuka ruang interpretasi baru terhadap resep-resep yang telah hidup selama ratusan tahun.

"Di SU MA, kami tidak berusaha mereplikasi tradisi persis seperti dahulu, namun juga tidak ingin meninggalkannya. Bagi kami, tradisi adalah sesuatu yang hidup, sesuatu yang dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar dan asal-usulnya. Melalui fermentasi, musim, dan teknik yang diterapkan secara penuh pertimbangan, kami ingin menghadirkan pengalaman yang terasa akrab sekaligus memberikan perspektif baru," ujar Executive Chef Brendon Chen.

 

Perjalanan Kuliner Berkesan

 Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa sebuah pengalaman bersantap harus mampu meninggalkan kesan yang bertahan lama, bahkan setelah hidangan terakhir selesai dinikmati.

"Bagi saya, pengalaman bersantap adalah tentang menciptakan momen yang tetap diingat bahkan setelah hidangan terakhir disajikan. Baik melalui dessert maupun keseluruhan alur pengalaman yang kami hadirkan, saya berharap setiap tamu dapat merasakan kehangatan, perhatian, dan koneksi selama berada di SU MA," kata Chef Ryan Kim.

Filosofi tersebut menjadi benang merah dalam Volume 6: Passage. Setiap hidangan disusun layaknya sebuah perjalanan yang membawa tamu melintasi berbagai lapisan rasa, tekstur, dan emosi. Ada momen yang ringan dan segar, ada pula sajian yang lebih dalam dan reflektif. Seluruhnya dirancang untuk mengajak tamu menikmati setiap detail secara perlahan.

Di era ketika banyak pengalaman kuliner berusaha menarik perhatian melalui kemewahan visual atau teknik yang spektakuler, SU MA justru memilih pendekatan yang lebih tenang. Fokusnya terletak pada ketepatan teknik, kualitas bahan baku, serta perhatian terhadap setiap detail yang membentuk pengalaman secara utuh.

 

Volume 6: Passange

Di Volume 6: Passage, SU MA hadirkan deretan kreasi kuliner yang menjadi saksi perjalanan dua budaya Asia Timur. Dibuka dengan tiga hidangan, yakni Amaebi, Wagyu Tartare, dan Broccolini. Hidangan Bluefin Tuna dengan sentuhan andaliman membuatnya familiar di lidah orang Indonesia.

Lobster yang diolah dengan paprika panggang dan tteokbokki seoalh menghidupkan kuliner ala drama Korea yang menjadi tontonan favorit masyarakat Indonesi.a Berlanjut ke wagyu yang diolah ala charsiu khas budaya Tionghoa. Memberikan tekstur yang lembut dan aroma smokey yang menggugah selera. Sementara itu, Pine Nut menjadi hidangan unik karena menggabungkan beberapa jenis olahan jamur dalam satu kreasi.

Di makanan penutup, langsung tersaji tiga jenis dessert. Yakni Omija, Jiuniang, dan Butternut Squash. Namun Fimela dibuat terkesan dengan Jiuniang lantaran tape ketan yang digunakan memiliki rasa yang persis dengan tape ketan khas Magelang.

Melalui Volume 6: Passage, SU MA menunjukkan bahwa kuliner kontemporer Asia Timur tidak harus melepaskan akar budayanya untuk tetap relevan. Justru dengan menghormati tradisi dan mengolahnya melalui perspektif baru, lahirlah pengalaman bersantap yang terasa lebih personal, bermakna, dan mampu menjembatani masa lalu dengan masa depan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading