Sukses

Health

Baca Label Kemasan Bisa Kurangi Potensi Terkena Obesitas dan Diabetes

Fimela.com, Jakarta Perubahan gaya hidup di masa pandemi meningkatkan potensi konsumsi gula berlebih dan berkurangnya aktivitas fisik. Sehingga meningkatkan juga potensi terhadap risiko obesitas. Tingkat obesitas pada orang dewasa meningkat menjadi 21,8 persen pada 2018.

Sementara obesitas sendiri memiliki risiko prediabetes dan diabetes di mana hampir 90% orang dengan tipe dua memiliki masalah kelebihan berat badan. Ketika seseorang telah menderita diabetes artinya orang tersebut sudah memiliki faktor komorbit yang berkaitan dengan tingkat keparahan COVID-19.

Efek domino dari obesitas dan diabetes ini membuat pencegahan sedini mungkin menjadi amat penting.

"Terapkan perilaku hidup sehat dengan menjalani GERMAS dan CERDIK. Kuatkan komitmen untuk menjaga pola makan yang bergizi dan perhatikan asupan gula sehari-hari, rutin beraktivitas fisik, dan jangan ragu untuk segera periksakan diri ketika muncul gejala awal," dr. Elvieda Sariwati, M.Epid, Plt Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI dalam Festival Komunitas Beat Obesity Nutrifood pada Kamis (4/11/2021).

 

Pentingnya baca label kemasan

Konsumsi gula berlebih berkontribusi pada tingginya asupan kalori yang meningkatkan risiko diabetes dan obesitas. Sayangnya, tidak sedikit masyarakat yang mengabaikan hal ini dengan penambahan gula saat memasak, makan, dan minum.

Untuk itu, masyarakat perlu lebih jeli terhadap label kemasan untuk mengetahui kandungan gula pada makanan dan minuman yang dikonsumsi. Hal ini penting untuk dilakukan agar masyarakat lebih sadar akan jumlah gula yang dikonsumsi setiap hari.

"Masyarakat harus selalu memperhatikan empat informasi nilai gizi dalam label kemasan yaitu jumlah sajian per kemasan, energi total per sajian, zat gizi (seperti lemak, lemak jenuh, protein, garam/natrium, dan karbohidrat (termasuk gula)) dan persentase AKG (Angka Kecukupan Gizi) per sajian," ungkap Yusra Egayanti, S.Si, Apt, MP, Koordinator Standardisasi Pangan Olahan Keperluan Gizi Khusus, Badan POM RI.

Idealnya, dalam sehari, masyarakat dapat mengonsumsi tidak lebih dari, gula sebanyak 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan, garam sebanyak 5 gram atau setara dengan 1 sendok teh, dan lemak total sebanyak 67 gram atau 5 sendok makan.

 

Mengukur Indeks Massa Tubuh

Selain itu, masyarakat juga perlu melakukan pengukuran berat badan sehingga bisa mengukur apakah berat badan kita termasuk kategori normal atau obesitas. Untuk mengukurnya bisa digunakan metode perhitungan Indeks Massa Tubuh.

Caranya, jumlah berat badan (dalam kilogram) dibagi tinggi badan (dalam meter) kuadrat. Berdasarkan World Health Organization, untuk orang Asia, apabila hasil BMI-nya di bawah 18,5 maka tergolong kurus, sementara BMI 18,5-22,9 termasuk kategori normal. Masyarakat perlu lebih waspada apabila hasil BMI mencapai angka 23,0-24,9 karena sudah termasuk overweight, 25-29,9 termasuk kategori obesitas tingkat I, dan ≥30 dinyatakan obesitas tingkat II,” jelas dr. Marya.

Simak video berikut ini

#elevate women

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Peringati Hari Diabetes Sedunia, Cut Memey Mengajak Masyarakat untuk Cegah Diabetes dengan Berolahraga
Artikel Selanjutnya
3 Varian Es Krim Rendah Kalori Bebas dan Bebas Pengawet