Sukses

Health

Kenali Bruxism, Kebiasaan Menggeretak Gigi yang Berbahaya Untuk Kesehatan Gigi

Fimela.com, Jakarta Bruxism, atau yang lebih dikenal sebagai menggeretak gigi, adalah sebuah kondisi di mana seseorang menggerakkan giginya secara tidak sadar ketika tidur atau bahkan saat terjaga. Meskipun tidak berbahaya, bruxism bisa menyebabkan kerusakan gigi, ketegangan otot rahang, dan nyeri kepala.

Gejala bruxism bisa bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Beberapa orang mungkin mengalami nyeri pada gigi dan rahang, sedangkan yang lain mungkin mengalami sakit kepala atau bahkan kesulitan tidur. Beberapa gejala lain yang dapat muncul termasuk gigi yang aus atau pecah, sensitivitas gigi, dan gangguan tidur.

Bruxism adalah kondisi di mana seseorang menggerakkan giginya secara tidak sadar. Meskipun tidak berbahaya secara langsung, bruxism dapat menyebabkan kerusakan gigi dan ketidaknyamanan yang signifikan. Oleh karena itu, penting untuk memahami kondisi ini. Berikut penjelasan mengenai bruxism yang perlu dipahami.

Penyebab Bruxism

Salah satu penyebab bruxism adalah stress dan kecemasan. Saat seseorang mengalami tekanan emosional atau stres, ia cenderung menggemeretakkan gigi sebagai respons terhadap kondisi tersebut. Adanya ketegangan emosi dan kecemasan juga dapat menyebabkan seseorang menggigit atau mengunyah benda-benda keras seperti pensil atau pulpen, yang dapat memperburuk bruxism.

Selain itu, penyebab bruxism juga dapat terkait dengan faktor fisik seperti masalah gigi dan rahang. Beberapa gangguan seperti gigi yang tidak rata atau gigi yang terlalu pendek dapat menyebabkan gesekan yang tidak normal antara gigi atas dan gigi bawah. Hal ini dapat memicu terjadinya bruxism. Kerusakan pada sendi temporomandibular (TMJ) juga dapat menjadi penyebab bruxism, di mana orang yang mengalami masalah pada sendi ini dapat cenderung menggemeretakkan gigi.

Selain itu, penggunaan zat-zat tertentu seperti kafein, alkohol, atau obat-obatan tertentu juga dapat menjadi faktor penyebab bruxism. Konsumsi berlebihan zat-zat tersebut dapat mempengaruhi sistem saraf pusat, sehingga memicu terjadinya bruxism.

Dalam beberapa kasus, bruxism juga dapat terjadi sebagai akibat dari gangguan tidur seperti sleep apnea. Sleep apnea adalah kondisi di mana seseorang mengalami gangguan pernapasan saat tidur, dan kebiasaan menggemeretakkan gigi dapat terkait dengan upaya tubuh untuk membuka saluran pernapasan yang terhambat.

Gejala Bruxism

Salah satu gejala utama Bruxism adalah nyeri rahang yang berkepanjangan. Jika seseorang seringkali merasa nyeri atau kaku di area rahangnya, ini bisa jadi tanda bahwa mereka mengalami Bruxism. Selain itu, sering terdengar suara menggigit gigi saat tidur juga dapat menjadi indikator lainnya.

Gejala lain dari Bruxism mencakup sakit kepala kronis, terutama di sekitar area pelipis dan dahi. Pada beberapa kasus, Bruxism juga dapat menyebabkan ngilu atau sensitivitas pada gigi yang berlanjut hingga nyeri pada leher dan bahu.

Tidak hanya nyeri, Bruxism juga dapat memiliki dampak serius pada gigi seseorang. Gigi yang terus-menerus digigit atau digertak berisiko mengalami kerusakan dan erosi enamel yang parah. Hal ini dapat menyebabkan gigi retak, rapuh, atau bahkan kehilangan gigi. Selain itu, Bruxism juga dapat menyebabkan perubahan posisi gigi, yang dapat mengganggu gigitan dan menyebabkan kesulitan dalam mengunyah dan berbicara.

Pencegahan Bruxism

Salah satu langkah penting dalam pencegahan bruxism adalah meningkatkan kesadaran terhadap kondisi ini. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memiliki kebiasaan gemeretak gigi di malam hari sampai ada orang di sekitarnya yang mengamati atau terbangun karena suara gemeretak tersebut. Dalam hal ini, berbicara dengan pasangan tidur atau dokter gigi dapat menjadi langkah awal yang penting. Mereka dapat membantu Anda mengidentifikasi gejala-gejala bruxism dan memberikan saran mengenai langkah-langkah pencegahan yang tepat.

Gigi geraham merupakan area yang paling banyak terpengaruh oleh bruxism. Karenanya, penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mencegah kerusakan yang lebih parah. Salah satu cara pencegahan yang efektif adalah menggunakan pelindung gigi. Pelindung gigi dapat meredakan tekanan pada gigi, melindungi permukaan gigi dari gesekan yang berlebihan, dan mencegah keretakan atau patahnya gigi. Pelindung gigi dapat dipesan dari dokter gigi Anda, dan biasanya terbuat dari bahan elastis yang nyaman untuk digunakan. Menggunakan pelindung gigi saat tidur dapat membantu mengurangi dampak bruxism pada gigi Anda.

Selain itu, mengurangi stres dan menciptakan pola tidur yang baik juga dapat membantu mencegah bruxism. Stres adalah salah satu penyebab utama bruxism, sehingga mengelola stres dengan baik dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk gemeretak gigi. Cobalah untuk melakukan kegiatan relaksasi seperti meditasi, yoga, atau olahraga untuk meredakan stres dan menenangkan pikiran. Selain itu, menciptakan rutinitas tidur yang baik juga dapat membantu. Pastikan Anda tidur cukup dan menjaga kebiasaan tidur yang konsisten dengan waktu tidur yang sama setiap hari. Menghindari konsumsi kafein atau alkohol sebelum tidur juga dapat membantu mengurangi kemungkinan bruxism.

Terakhir, penting untuk menjaga kebersihan mulut secara teratur melalui perawatan gigi yang baik. Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride, dan gunakan benang gigi setiap hari untuk membersihkan sela-sela gigi. Kunjungi dokter gigi secara berkala untuk pemeriksaan rutin dan membersihkan gigi secara profesional. Menjaga kebersihan mulut yang baik dapat membantu mengurangi risiko infeksi gigi dan masalah lainnya yang mungkin memperburuk bruxism.

Pengobatan Bruxism

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengatasi bruxism:

1. Menggunakan pelindung gigi: Dokter gigi dapat membuatkan pelindung gigi khusus, yang bisa digunakan saat tidur. Pelindung ini membantu melindungi gigi dari terjadinya gesekan dan kerusakan akibat bruxism.

2. Mengelola stres: Salah satu penyebab bruxism adalah stres dan kecemasan. Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan baik. Beberapa metode mengurangi stres yang dapat dilakukan antara lain adalah meditasi, relaksasi otot, atau olahraga.

3. Hindari makanan dan minuman pemicu: Makanan atau minuman tertentu seperti kopi, alkohol, atau makanan yang mengandung banyak gula dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya bruxism. Menghindari konsumsi makanan atau minuman ini dapat membantu mengurangi kejadian bruxism.

4. Terapi perilaku: Terapi perilaku seperti biofeedback atau terapi kognitif dapat membantu mengendalikan bruxism. Terapi ini melibatkan menggeser perhatian dari kebiasaan menggeretakkan gigi ke aktivitas lain yang lebih produktif dan positif.

Penting untuk berkonsultasi dengan dokter gigi atau ahli terkait jika mengalami bruxism. Mereka dapat memberikan penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading