Sukses

Health

Masih Muda Tapi Sudah Jompo? Kenali Gejala dan Dampak Radang Sendi Sejak Dini

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, kita pasti sudah sering mendengar istilah 'remaja jompo' di media sosial. Biasanya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi tubuh yang mulai terasa pegal-pegal, nyeri setelah duduk terlalu lama, atau bahkan ingin terus rebahan karena selalu merasa capek dan nyeri disekujur tubuh. Tapi, tahukah kamu bahwa gejala-gejala tersebut bisa jadi tanda dari radang sendi yang mulai menyerang di usia muda? Jangan anggap remeh, ya!

Nah, tahukah kamu, lebih dari 10,5 juta orang menderita radang sendi? Meskipun sering dikaitkan dengan orang tua, faktanya radang sendi juga mulai banyak menyerang usia muda. Bahkan, dua pertiga penderita radang sendi berusia di bawah 65 tahun, dan lebih dari 12.000 orang muda, termasuk anak-anak dan remaja, terkena radang sendi idiopatik juvenil (JIA).

Radang sendi atau arthritis, memang sering dianggap penyakit orang tua, tetapi kini semakin banyak anak muda yang merasakannya. Hal ini bisa diebabkan oleh gaya hidup yang kurang gerak, pola makan yang tidak sehat, dan faktor genetik menjadi penyebab utama banyaknya anak muda zaman sekarang yang sakit radang sendi. 

Lalu, apa saja gejala awal yang perlu diwaspadai? Seberapa sering sih radang sendi menyerang pada usia muda? Dan bagaimana kondisi ini memengaruhi aktivitas kita sehari-hari? Melansir dari cpdonline.co.uk, yuk, kita bahas lebih dalam tentang radang sendi pada usia muda dan cari tahu bagaimana cara mencegahnya, supaya kualitas hidup kita tetap terjaga!

 

Memahami Radang Sendi yang Semakin Menyerang di Usia Muda

Tahukah kamu apa yang menyebabkan nyeri dan peradangan pada sendi, seperti lutut, pinggul, tangan, dan tulang belakang? Jawabannya adalah artritis. Penyakit ini ditandai dengan gejala seperti nyeri, pembengkakan, kekakuan, dan keterbatasan pergerakan. Meskipun ada lebih dari 100 jenis artritis, dua yang paling umum adalah osteoartritis dan artritis reumatoid.

  • Osteoartritis terjadi saat lapisan tulang rawan di sendi yang mengalami kerusakan, biasanya memengaruhi orang di atas usia 40 tahun. Namun, bisa juga terjadi pada yang lebih muda, terutama setelah cedera.
  • Artritis reumatoid adalah kondisi autoimun yang menyerang sendi, dan gejalanya sering muncul antara usia 30 hingga 50 tahun.

Selain itu, artritis idiopatik juvenil (JIA) juga bisa menyerang anak-anak dan remaja, menyebabkan nyeri dan peradangan pada sendi, dengan gejala muncul sebelum usia 16 tahun. Pada sebagian anak, JIA bisa hilang seiring bertambahnya usia, sementara bagi yang lain bisa menjadi kondisi jangka panjang yang menyulitkan.

Kenali Jenis Utama JIA

  1. JIA Oligoartikular: Memengaruhi hingga empat sendi, biasanya lutut, pergelangan kaki, dan tangan. Gejalanya bisa hilang seiring waktu tanpa kerusakan jangka panjang, meski pada beberapa anak bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
  2. JIA Poliartikular: Memengaruhi lima atau lebih sendi di kedua sisi tubuh, dapat menyebabkan kerusakan sendi, anemia, atau pembengkakan hati dan limpa.
  3. JIA dengan Onset Sistemik: Ditandai dengan demam, ruam, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar, diikuti oleh peradangan sendi dan masalah pada jantung dan paru-paru.
  4. JIA Terkait Entesitis: Menyerang sendi kaki dan tulang belakang, menyebabkan peradangan pada tempat tendon melekat pada tulang. Sering diikuti oleh masalah mata seperti uveitis.

Selain itu, Ankylosing Spondylitis (AS) adalah kondisi yang memengaruhi tulang belakang dan sendi, menyebabkan nyeri, kekakuan di area punggung, dan kelelahan ekstrem, terutama pada remaja dan dewasa muda. Radang sendi bisa menyerang siapa saja, tidak hanya orang tua, dengan faktor-faktor seperti genetika dan lingkungan berperan dalam perkembangannya.

Prevalensi pada Kelompok Usia Muda

Ada beberapa alasan mengapa radang sendi semakin umum terjadi pada orang yang lebih muda, termasuk karena beberapa faktor di bawah ini:

Faktor Genetik

Ada beberapa bukti bahwa arthritis diturunkan dalam keluarga. Meskipun gen bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan arthritis, gen dapat membuat beberapa orang rentan terkena arthritis. Memiliki riwayat arthritis dalam keluarga dapat membuat beberapa orang muda lebih mungkin terkena arthritis, dibandingkan dengan yang lain.

Obesitas

Meningkatnya angka obesitas dan gaya hidup yang kurang gerak yang diikuti banyak anak muda dapat menyebabkan prevalensi artritis. Berat badan berlebih dan kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan peningkatan risiko artritis. Berat badan berlebih memberi tekanan ekstra pada sendi dan kelebihan lemak dalam tubuh dapat menyebabkan peningkatan kerusakan pada tulang rawan.

Faktor Autoimun

Beberapa bentuk artritis berkembang ketika sistem imun mulai menyerang jaringan tubuh sendiri. Hal ini dapat terjadi sebagai respons terhadap infeksi, penyakit autoimun, atau faktor lainnya.

Faktor Lingkungan

Beberapa faktor gaya hidup dan lingkungan dapat menyebabkan seseorang terkena radang sendi. Faktor-faktor ini dapat meliputi pola makan, aktivitas fisik, cedera sebelumnya, merokok atau terpapar asap tembakau, dan polutan lingkungan, misalnya tinggal di daerah perkotaan dengan lalu lintas yang padat.

 

Olahraga yang Memberikan Dampak

Melakukan olahraga yang memberikan dampak secara teratur, seperti rugbi, sepak bola, atau hoki, dapat meningkatkan risiko radang sendi. Olahraga yang memberikan dampak dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada sendi dan cedera serius pada sendi dapat meningkatkan risiko seseorang terkena radang sendi lebih awal.

Hormon

Banyak jenis radang sendi lebih umum terjadi pada wanita dibandingkan pria, yang menunjukkan bahwa faktor hormonal dapat berperan dalam perkembangan radang sendi, khususnya hormon estrogen. Ini dapat berarti bahwa remaja perempuan mungkin lebih mungkin mengalami radang sendi daripada remaja laki-laki.

 

Gejala dan Tanda Awal Radang Sendi

Gejala dan tanda awal radang sendi yang paling umum pada orang muda adalah:

  1. Nyeri sendi: Nyeri ini bisa berupa nyeri yang terus-menerus atau berulang pada satu atau beberapa sendi. Rasa nyeri dapat bervariasi intensitasnya dan bisa berupa nyeri berdenyut, nyeri biasa, atau nyeri yang sangat tajam.
  2. Kekakuan sendi: Kekakuan pada sendi, terutama di pagi hari atau setelah tidak beraktivitas selama beberapa waktu, merupakan salah satu gejala artritis yang paling umum. Sendi mungkin terasa kaku dan sulit digerakkan.
  3. Pembengkakan: Peradangan sendi dapat menyebabkan pembengkakan, nyeri tekan, dan rasa hangat atau kemerahan di sekitar sendi yang terkena. Pembengkakan dapat terlihat atau dapat dikenali dengan sentuhan.
  4. Rentang gerak yang terbatas: Artritis dapat membatasi rentang gerak pada sendi yang terkena. Sendi mungkin sulit ditekuk, dilenturkan, digerakkan, diluruskan, atau diberi beban.
  5. Kelelahan: Peradangan kronis dan nyeri yang terkait dengan radang sendi dapat menyebabkan kelelahan terus-menerus. Kelelahan ini mungkin tidak sebanding dengan tingkat aktivitas fisik.
  6. Kesulitan dalam menggenggam atau memegang: Artritis pada tangan atau jari dapat mengakibatkan kesulitan dalam menggenggam benda, sehingga tugas-tugas sederhana menjadi sangat sulit untuk dilakukan. 
  7. Suara atau sensasi berderak: Mendengar atau merasakan suara berderak atau bergemeretak saat kamu menggerakkan sendi dapat mengindikasikan bahwa tulang rawan di sendi telah terkikis dan tulang-tulang bergesekan satu sama lain.
  8. Nyeri pada sendi yang sebelumnya cedera: Banyak penderita artritis sebelumnya pernah mengalami cedera atau trauma pada sendi, misalnya cedera lutut saat bermain sepak bola. Jika sendi yang sama mengalami nyeri berulang di kemudian hari, itu bisa jadi merupakan tanda artritis.
  9. Kelainan bentuk sendi: Pada kasus yang lebih lanjut atau bentuk artritis yang agresif, kelainan bentuk sendi dapat berkembang dan memengaruhi susunan normal sendi.
  10. Peradangan mata: Ini bisa menjadi indikasi JIA terkait entesitis.
  11. Demam tinggi dan ruam: Ini dapat menjadi indikasi artritis idiopatik juvenil sistemik.

Pentingnya Diagnosis Dini

Diagnosis dan pengobatan dini dapat mencegah kerusakan permanen pada sendi dan tulang, serta memperlambat perkembangan penyakit. Penanganan yang tepat dapat meningkatkan kualitas hidup penderita artritis dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Dengan memadatkan teks, kita bisa mempertahankan pesan utama tentang gejala dan pentingnya diagnosis dini tanpa terlalu banyak detail yang bisa memperpanjang penjelasan.

Dampak Radang Sendi pada Kehidupan Sehari-hari

Berikut ini adalah beberapa cara radang sendi dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari pada remaja:

  • Ketidakmampuan untuk bekerja atau belajar.
  • Kesulitan berjalan, berdiri atau duduk dalam waktu lama.
  • Mobilitas berkurang, sehingga sulit melakukan aktivitas normal.
  • Kesulitan dengan tugas sehari-hari, seperti mengikat tali sepatu, menaiki tangga atau menulis.
  • Ketidakmampuan untuk terlibat dalam aktivitas fisik.
  • Kelelahan kronis.
  • Dampak pada kesehatan mental, termasuk peningkatan risiko stres, kecemasan, dan depresi.
  • Kaum muda yang menderita radang sendi juga dapat mengalami penurunan harga diri dan kepercayaan diri serta penurunan kesejahteraan emosional.
  • Penarikan diri dari kegiatan sosial dan isolasi sosial.
  • Gangguan tidur.
  • Memengaruhi hubungan dengan keluarga dan teman.
  • Risiko lebih tinggi terhadap kondisi komorbiditas, seperti penyakit kardiovaskular.
  • Harapan hidup berkurang.

Nah, Sahabat Fimela, penting untuk kita mengenali gejala radang sendi sejak dini agar dapat mencegah kerusakan lebih lanjut pada sendi dan menjaga kualitas hidup. Dengan penanganan yang tepat, kondisi ini dapat dikendalikan, sehingga aktivitas sehari-hari tetap bisa berjalan lancar tanpa hambatan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading