Sukses

Health

Mengapa Tubuh Terasa Pegal? Kenali Berbagai Penyebabnya dari Aktivitas Harian hingga Kondisi Medis

ringkasan

  • Pegal-pegal dapat disebabkan oleh aktivitas fisik berlebihan, infeksi, stres, kurang tidur, dehidrasi, dan ketidakseimbangan elektrolit.
  • Kondisi medis seperti fibromyalgia, penyakit autoimun (lupus, miositis, MS, artritis), masalah aliran darah, dan hipotiroidisme juga bisa memicu pegal.
  • Kekurangan vitamin D atau anemia, rhabdomyolysis, polymyalgia rheumatica, efek samping obat, dan peradangan kronis adalah penyebab lain yang perlu diwaspadai.

Fimela.com, Jakarta - Rasa pegal di tubuh adalah pengalaman yang hampir semua orang pernah alami. Sensasi nyeri tumpul, ketidaknyamanan, atau kekakuan ini bisa muncul di berbagai bagian tubuh, seperti punggung, leher, bahu, hingga kaki, dan seringkali membuat kita merasa tidak nyaman serta mengganggu aktivitas harian. Namun, apa sebenarnya yang menyebabkan tubuh terasa pegal? Mari kita telusuri berbagai faktornya.

Penyebab Umum yang Sering Kita Alami

Banyak kasus pegal-pegal disebabkan oleh rutinitas atau kondisi yang sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mengenali penyebab ini dapat membantu kita melakukan pencegahan dan penanganan awal.

Aktivitas Fisik Berlebihan atau Cedera Ringan

Salah satu pemicu utama pegal adalah kelelahan atau aktivitas fisik yang intens. Ketika kita mendorong otot melampaui kapasitas normal, baik saat olahraga, tugas berulang, atau pekerjaan fisik, hal ini dapat menyebabkan robekan mikro pada serat otot. Akibatnya, timbullah kekakuan dan ketidaknyamanan. Kondisi ini sering dikenal sebagai Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS), yang biasanya muncul 1 hingga 3 hari setelah aktivitas fisik yang berat, terutama pada otot yang berkontraksi saat diregangkan. Cedera otot ringan seperti ketegangan atau keseleo juga termasuk penyebab umum.

Infeksi

Infeksi virus atau bakteri, seperti flu, pilek biasa, bahkan COVID-19, dapat menyebabkan tubuh terasa pegal. Ketika infeksi terjadi, sistem kekebalan tubuh akan mengirimkan sel darah putih untuk melawan patogen. Proses ini memicu peradangan yang membuat otot terasa pegal dan kaku. Beberapa infeksi spesifik yang dapat menimbulkan pegal-pegal meliputi mononukleosis (disebabkan oleh virus Epstein-Barr), pneumonia, penyakit Lyme, malaria, polio, Rocky Mountain spotted fever, dan trichinosis.

Stres dan Ketegangan

Stres, baik fisik maupun emosional, bisa membuat otot menegang, terutama di area leher, bahu, dan punggung. Kondisi ini kemudian berujung pada rasa pegal. Stres kronis juga dapat meningkatkan kadar kortisol, hormon yang bisa meningkatkan sensitivitas terhadap nyeri dan berkontribusi pada kelelahan berkepanjangan.

Kurang Tidur

Tidur yang tidak cukup dapat membuat tubuh lebih sensitif terhadap rasa sakit dan menghambat kemampuan tubuh untuk memperbaiki jaringan serta sel yang rusak. Orang dewasa berusia 18 tahun ke atas membutuhkan setidaknya 7 jam tidur setiap 24 jam untuk pemulihan optimal.

Dehidrasi

Kurangnya asupan cairan dapat menyebabkan kram otot dan pegal-pegal umum. Air sangat penting untuk fungsi tubuh yang normal dan sehat, termasuk menjaga otot tetap lentur dan mencegah kram.

Ketidakseimbangan Elektrolit

Kadar elektrolit seperti kalium, kalsium, atau natrium yang rendah dalam darah dapat memicu kram dan nyeri otot. Elektrolit berperan penting dalam mengatur kinerja sistem saraf dan kontraksi otot.

Waspada, Bisa Jadi Ada Kondisi Medis di Baliknya

Jika rasa pegal tidak kunjung membaik atau disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, ada kemungkinan kondisi medis tertentu menjadi penyebabnya. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk diagnosis yang akurat.

Fibromyalgia

Fibromyalgia adalah kondisi kronis yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan di seluruh tubuh, kelelahan, serta gangguan tidur. Kondisi ini dapat dipicu oleh penyakit, operasi, atau stres mental yang parah.

Kondisi Autoimun

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehatnya sendiri, menyebabkan peradangan dan nyeri. Contohnya meliputi:

  • Lupus: Menyebabkan peradangan dan nyeri di berbagai bagian tubuh, termasuk nyeri otot dan sendi yang sering dirasakan.
  • Miositis: Peradangan pada otot.
  • Multiple Sclerosis (MS): Memengaruhi sistem saraf pusat, menyebabkan nyeri tubuh akibat kerusakan jaringan di sekitar sel saraf.
  • Artritis: Termasuk osteoartritis, artritis psoriatik, spondiloartritis, dan rheumatoid arthritis, yang semuanya dapat menyebabkan nyeri sendi dan otot.

Masalah Aliran Darah

Jika otot tidak mendapatkan suplai darah yang cukup, kondisi yang disebut klaudikasio ini dapat menyebabkan nyeri di lengan atau kaki. Ini sering disebabkan oleh arteriosklerosis, yaitu penyumbatan pada pembuluh darah yang membawa darah ke otot.

Hipotiroidisme

Kondisi saat kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon tertentu ini dapat menyebabkan nyeri otot dan sendi, serta pembengkakan dan nyeri tekan.

Sindrom Kelelahan Kronis (ME/CFS)

Sindrom ini menyebabkan kelelahan dan kelemahan ekstrem yang tidak membaik dengan istirahat, serta nyeri otot dan sendi. Kelelahan ini bisa berlangsung setidaknya enam bulan dan mengganggu aktivitas harian.

Kekurangan Vitamin atau Mineral

  • Kekurangan Vitamin D: Dapat menyebabkan nyeri otot dan sendi, terutama di leher dan punggung, serta kelemahan otot.
  • Anemia: Kekurangan sel darah merah dapat membuat tubuh terasa pegal secara keseluruhan karena pasokan oksigen yang tidak memadai ke jaringan tubuh.

Rhabdomyolysis

Kondisi serius ini terjadi akibat kerusakan jaringan otot yang melepaskan isi sel otot ke dalam darah, yang dapat merusak organ lain, terutama ginjal. Gejala utamanya meliputi nyeri otot parah, kelemahan, dan urine berwarna gelap.

Polymyalgia Rheumatica

Kondisi peradangan ini menyebabkan nyeri dan kekakuan yang cepat di bahu, leher, lengan atas, bokong, pinggul, atau paha, yang seringkali lebih buruk di pagi hari.

Obat-obatan

Pegal-pegal pada tubuh juga bisa menjadi efek samping dari obat-obatan tertentu, misalnya statin yang digunakan untuk mengontrol kolesterol tinggi.

Kondisi Peradangan Kronis

Peradangan yang berkelanjutan dalam tubuh, yang bisa berasal dari obesitas, gaya hidup tidak aktif, atau pola makan yang buruk, dapat menyebabkan pegal-pegal yang persisten.

Jika kamu mengalami pegal-pegal yang tidak kunjung membaik, disertai demam, pembengkakan, atau nyeri hebat, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading