Sukses

Health

Rabun Jauh pada Anak Makin Sering Terjadi, Ini yang Perlu Waspadai Orangtua

Fimela.com, Jakarta - Rabun jauh atau miopia identik dengan anak yang gemar membaca buku. Kini, kondisinya semakin kompleks. Kebiasaan menghabiskan waktu di depan layar, aktivitas belajar jarak dekat yang semakin intensif, hingga minimnya waktu bermain di luar ruangan membuat kasus miopia pada anak terus meningkat.

Yang perlu menjadi perhatian, miopia bukan lagi sekadar gangguan penglihatan yang bisa diatasi dengan kacamata. Para ahli kini menilai kondisi ini sebagai tantangan kesehatan mata yang perlu dikelola sejak dini agar tidak berkembang menjadi high myopia atau rabun jauh berat yang berisiko menimbulkan komplikasi pada masa depan.

Presiden Direktur EssilorLuxottica Indonesia, Dailami Aziz, mengatakan meningkatnya kasus miopia tidak lepas dari perubahan gaya hidup anak-anak saat ini. Penggunaan perangkat digital yang semakin tinggi, aktivitas melihat objek dalam jarak dekat dalam waktu lama, serta berkurangnya aktivitas luar ruangan menjadi faktor yang mempercepat perkembangan rabun jauh.

"Kesadaran masyarakat terhadap miopia di Indonesia masih rendah. Padahal, jika tidak dikelola sejak awal, miopia dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mata yang lebih serius. Karena itu kami bekerja sama dengan PERDAMI untuk meningkatkan edukasi mengenai pentingnya deteksi dini dan manajemen miopia pada anak," ujarnya dalam Konferensi Myopia Summit 2026.

 

Miopia Tak Lagi Sekadar Mata Minus

Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa paparan cahaya alami saat bermain di luar ruangan selama sekitar dua jam setiap hari dapat membantu menurunkan risiko munculnya miopia pada anak. Sebaliknya, durasi screen time yang tinggi serta aktivitas membaca dalam waktu lama tanpa jeda diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko rabun jauh.

Ketua PERDAMI Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengungkapkan bahwa dokter mata kini semakin sering menemukan kasus miopia pada anak berusia di bawah tujuh tahun. Semakin dini miopia muncul, semakin besar kemungkinan kondisinya berkembang dengan cepat.

Menurutnya, sebelum menjadi rabun jauh, anak dapat memasuki fase pre-myopia, yaitu kondisi ketika ukuran refraksi mata mulai mendekati miopia. Fase ini justru menjadi waktu yang tepat untuk melakukan intervensi agar perkembangan miopia dapat diperlambat.

Anak dengan riwayat orangtua berkacamata minus, berasal dari etnis Asia, memiliki aktivitas luar ruangan yang minim, atau terlalu lama menggunakan gawai termasuk kelompok yang memerlukan pemeriksaan mata secara rutin. Tanpa penanganan yang tepat, miopia dapat berkembang menjadi high myopia, yang meningkatkan risiko berbagai komplikasi serius, seperti kerusakan retina, gangguan pada makula, hingga penurunan penglihatan permanen.

 

Pentingnya Manajemen Miopia Sejak Awal

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, penanganan miopia kini tidak hanya berfokus pada memperbaiki penglihatan, tetapi juga memperlambat progresivitasnya.

Dalam konferensi tersebut, EssilorLuxottica memaparkan teknologi Highly Aspherical Lenslet Target (H.A.L.T.) yang diterapkan pada lensa Essilor Stellest. Selain membantu mengoreksi penglihatan anak yang mengalami rabun jauh, teknologi ini dirancang untuk memperlambat pemanjangan sumbu bola mata (axial length), yang merupakan salah satu penyebab utama progresivitas miopia.

Data klinis global yang dipresentasikan menunjukkan bahwa penggunaan lensa tersebut selama tujuh tahun mampu memperlambat progresivitas miopia hingga 2,30 dioptri sekaligus mengurangi pemanjangan sumbu aksial mata hingga 0,92 milimeter pada remaja hingga usia 19 tahun.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan miopia tetap bergantung pada pemeriksaan mata secara rutin, perubahan gaya hidup yang lebih sehat, serta penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.

 

Orangtua Memegang Peran Penting

Meningkatnya kasus miopia menjadi pengingat bahwa kesehatan mata anak perlu mendapatkan perhatian sejak usia dini. Mengajak anak lebih sering bermain di luar ruangan, membatasi penggunaan gawai, menerapkan aturan istirahat mata saat belajar, serta melakukan pemeriksaan mata secara berkala merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kualitas penglihatan mereka.

Melalui kolaborasi bersama PERDAMI Jakarta, EssilorLuxottica berharap semakin banyak tenaga kesehatan menerapkan pendekatan berbasis bukti ilmiah dalam manajemen miopia. Di sisi lain, edukasi kepada orangtua juga menjadi kunci agar rabun jauh pada anak tidak lagi dianggap sebagai kondisi yang "normal", melainkan dapat ditangani sejak awal untuk menjaga kesehatan mata hingga dewasa.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading