Sukses

Lifestyle

Ketika Aku Mencintaimu Sepenuhnya dan Kamu Mencintaiku Seperlunya

Fimela.com, Jakarta Cintaku memang tak bertepuk sebelah tangan, namun yang kuyakini, aku mencintaimu sepenuhnya dan kamu mencintaiku seperlunya. Meski awalnya membuatku bahagia, namun ternyata melihat kamu menghampiriku ketika butuh hanya membuat sakit saja.

Kamu hanya butuh ditemani dan takut sendiri. Inginku adalah menemanimu di saat suka dan duka. Sayang, kamu hanya menghampiriku kala ingin mengobrol dan mengusir sepi. Apakah aku tak bisa menemani kala kamu tersenyum dan tertawa lepas?

Membahagiakanmu merupakan hal yang aku inginkan. Namun, tak bisa kah aku menjadi orang yang turut menjadi senyuman yang merekah dan tawa lepas yang kamu buat? Terkadang, hatiku terasa teriris karena kamu menganggapku sebagai alat pelipur lara.

Kala aku menyadari bahwa kamu mencintaiku seperlunya saat aku memberimu cinta seutuhnya. (Via: My Dear Valentine)

Menjadi temanmu berbagi jam dua pagi karena kamu ingin menceritakan hal yang membuatmu jatuh hari ini. Kemudian ketika sudah merasa lebih baik, kamu melenggang pergi untuk kemudian berbagi kebahagiaan dengan orang  lain.

Tapi, tak apa. Bukankah aku mencintaimu sepenuhnya? Tanpa syarat yang harus aku berikan. Aku hanya ingin kamu ada dan bahagia. Sehingga jika kamu murung dan dilanda kecewa, aku yang akan siap sedia untuk menampung luka dan menjadikannya tawa.

Kala aku menyadari bahwa kamu mencintaiku seperlunya saat aku memberimu cinta seutuhnya. (Via: flickr)

Atau, haruskah aku sadar bahwa aku juga berhak bahagia? Ya, rasanya aku juga pantas dan berhak mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan hakiki karena hadirmu yang juga seutuhnya. Namun, bisakah kamu menjadi seseorang yang aku impikan?

Tapi biarlah, seperti yang sudah aku bilang bahwa aku mencintaimu tanpa syarat. Sebaiknya aku belajar untuk bahagia ketika kamu bahagia dan membahagiakanmu ketika kamu tengah berada di titik jatuh. Jadi, berbahagialah.

Kala aku menyadari bahwa kamu mencintaiku seperlunya saat aku memberimu cinta seutuhnya. (Foto: unplash.com)

Aku malah berharap bahwa kamu tak lagi memerlukanku sebagai pelipur lara. Karena melihatmu tersenyum dan tahu bahwa kamu baik-baik saja sudah cukup. Begitulah cinta tanpa syarat yang seharusnya. Tanpa hasrat ingin memiliki, hanya ingin melihat ukiran senyummu lagi.

;
Loading