Sukses

Lifestyle

Bertahan dalam Hubungan yang Nggak Sehat Itu Bisa Menyiksa Hatimu sampai Sekarat Lho!

Fimela.com, Jakarta Bertahan dalam hubungan yang nggak sehat masih terus menjadi permasalahan asmara yang pelik. Pasalnya, nggak semua orang menyadari pentingnya hubungan yang sehat itu dalam hidupnya. Mereka terus saja permisif pada keburukan yang diciptakan pasangannya.

Sekali terjerat dalam hubungan yang nggak sehat bakalan susah banget untuk keluar dari situasi itu, karena hubungan yang nggak sehat bekerja dengan cara memanipulasi pikiran. Orang lain mungkin menyadari, tapi nggak bisa berbuat banyak.

Menarik keluar orang yang sedang berada dalam hubungan yang nggak sehat itu sulit. Mau dinasehati seperti apapun nggak akan masuk ke pikirannya karena di sana sudah terlalu banyak kepalsuan yang didapat dari hubungan tersebut.

Kamu pernah punya teman yang kasus percintaannya seperti itu? Atau kamu sendiri pernah? Atau sedang mengalaminya? Huh! Semoga nggak ya, girls.

Beneran, deh, hubungan semacam itu racun banget. Kamu bakalan kesiksa meski nggak kamu sadari. Nanti saat kamu berhasil keluar, kamu baru sadar kalau kamu tersakiti melihat banyak "bekas luka" yang menempel di dirimu.

Kamu bakalan banyak banget berkorban

Ilustrasi relatonship. (Foto: unsplash.com/Naomi August)

Pengorbanan memang wajar dan pasti terjadi dalam hubungan. Namun, semua pengorbanan yang diberikan nggak akan terasa seperti berkorban kalau di sisi lain pasangan pun melakukan hal yang sama untuk kita. Sayangnya, dalam hubungan yang nggak sehat cuma ada kamu yang siap berkorban; dia cuma menerima enaknya saja.

Kamu kehilangan diri sendiri, tapi nggak mampu berbuat apa-apa

Ilustrasi relatonship. (Foto: unsplash.com/Nick Karvouni)

Terlalu banyak berkorban, terlalu banyak menuruti kemauannya. Kamu nggak didengarkan sama sekali. Kamu mendengarkan dan menelan mentah-mentah semua omongannya. Pada akhirnya, kamu seperti kehilangan jati diri. Kamu akan semakin terjebak dalam pikiran bahwa kamu cuma bisa hidup kalau bersama dia. Padahal nggak sama sekali, keadaan itu memanipulasimu.

Terlalu naif bilang bahwa sebenarnya dia cinta

Ilustrasi relatonship. (Foto: unsplash.com/Imani Clovis)

Kalau cinta, dia nggak akan berbuat seperti itu, melakukan hal-hal nggak menyenangkan pada kamu. Bahkan sampai menyakitimu. Jadi kalau kamu bertahan dalam hubungan yang nggak sehat dan tetap berpikir kalau terlepas dari itu semua sebenarnya dia mencintaimu, kamu yang salah. Terlalu naif.

Buang-buang waktu

Ilustrasi relatonship. (Foto: unsplash.com/Christopher Windus)

Kamu berusaha sekuat tenaga bertahan dalam hubungan itu, mengupayakan segala yang kamu bisa hanya demi berada di sisinya padahal dia juga nggak terlalu mengharapkannya. Kamu berharap suatu saat dia akan berubah, dan saat itu segera tiba. Buang-buang waktu.

Melewatkan kesempatan untuk berbahagia

Ilustrasi relatonship. (Foto: unsplash.com/George Gvasalia)

Kamu bertahan sama dia, berharap sesuatu yang mustahil agar lekas terjadi. Kasarannya, kamu terpaku pada satu pintu yang tertutup untukmu. Saking fokusnya menatap pintu yang tertutup itu, kamu jadi nggak tahu ada pintu lain yang terbuka untukmu.

Bertahan dalam hubungan yang nggak sehat memang benar-benar merusak psikis. Selama belum muncul kesadaran, kamu akan dibuatnya merasa bahwa kamu nggak layak untuk dia. Kamu akan terus menerus menyalahkan diri sendiri. Sampai kamu merasa nggak bisa dicintai oleh orang selain dia. Seburuk itu dampak dari hubungan yang nggak sehat. Kamu seperti dibunuh perlahan-lahan!

;
Loading