Sukses

Lifestyle

Alasan Ilmiah Mengapa Korban Pelecehan Seksual Lebih Memilih Diam

Fimela.com, Jakarta Pernah bertanya, mengapa korban pelecehan seksual seringkali memilih diam? Dan seringkali terlihat 'pasrah' saat dilecehkan? Mungkin kita berkomentar mengapa korban tidak segera melapor saat mengalami pelecehan seksual. Diam seakan mengaminkan bahwa pelecehan terjadi karena suka sama suka. Seakan diam membenarkan bahwa korban 'menikmati' pelecehan tersebut.

Korban pelecehan seksual sering mengaku jika saat terjadi pelecehan seksual, mereka merasa tidak dapat bergerak. Bukan mereka tidak menyadari kejadian pelecehan seksual tersebut, mereka sadar namun tidak dapat bergerak. dr. Jiemi Ardian dalam utas twitter (6/11) menyebutkan jika Ketika seseorang mengalami ketakutan secara ekstrim, maka tubuh punya mekanisme pertahanan diri; tonic immobility, yaitu ketidakmampuan tubuh bergerak sampai ancaman bahaya berlalu. Dan ini adalah reaksi biologis tubuh, kita tidak bisa memilih untuk tidak demikian.

Dalam utas tersebut dr. Jiemi Ardian juga menjelaskan jika ketika rasa takut itu begitu memuncak, amygdala (salah satu bagian otak) membajak otak kita yang lain sehingga kita tidak bisa bergerak, namun tetap sadar penuh.

Benarkah korban perkosaan merasakan orgasme?

Masih dalam utas dr. Jiemi Ardian melalui akun twitternya @jiemiadian menjelaskan jika orgasme bisa terjadi pada saat pemerkosaan, walau korban tidak menikmatinya.Yang perlu diperjelas Orgasme itu reaksi fisiologi tubuh, bukan psikologis saja.

Korban pelecehan seksual diam bukan karena suka. Kesalahan respon diam ini sering kali justru menjadi alasan untuk menyalahkan korban. Reaksi ini seakan membenarkan anggapan jika reaksi diam ini, karena memang korban menikmatinya.

Sahabat Fimela, pelecehan seksual bisa terjadi di mana saja. Bisa terjadi kepada siapa saja. Mulai dengan tidak menyalahkan korban. Dukung korban saat ia menyuarakan kisahnya. If you see something, say something: Recognize and Report. Selamat hari ini.

;
Loading