Sukses

Lifestyle

Kuraih Mimpi Saat Berada di Titik Terendah

Fimela.com, Jakarta Apapun mimpi dan harapanmu tidak seharusnya ada yang menghalanginya karena setiap perempuan itu istimewa. Kita pun pasti punya impian atau target-target yang ingin dicapai di tahun yang baru ini. Seperti kisah Sahabat Fimela ini yang kisahnya ditulis untuk mengikuti Lomba My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru.

***

Oleh: Ana Andromeda - Bandung

Hai sahabat Fimela, aku bersyukur karena pada kesempatan kali ini aku diberi kesempatan untuk berbagi cerita tentang perjalananku menggapai mimpi. Karena jalan yang aku tempuh tidak mudah, namun aku selalu yakin bahwa aku mampu menggapai mimpi itu. Aku yakin, sahabat juga mempunyai cerita tersendiri yang nggak kalah menginspirasi. Tapi di kesempatan kali ini, izinkan aku untuk berbagi pengalamanku.

Aku sama seperti perempuan lain seumuranku, perempuan di akhir 20-an yang memiliki antusias yang tinggi untuk menggapai mimpi. Bedanya, aku ini seorang single mom dengan dua anak. Aku memang menikah di usia muda, dan bisa dibilang, 2018 adalah titik terendah buatku, sekaligus menjadi titik balik untukku menggapai mimpi-mimpi yang sempat menghiasi masa remajaku dulu.

Derai tangis sepanjang tahun ini serasa terbayar sudah dengan pencapaian-pencapaian yang kuraih. Mungkin ini yang dimaksud firman Allah dalam Alquran, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Bahkan Tuhan sampai menegaskan dua kali dalam ayat itu, “Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan.”

 

Awal 2018 aku bercerai dari suamiku. Aku tidak membawa apapun dari suamiku untuk modal mencari nafkah. Sementara mantan suamiku tidak memberikan nafkah sepeser pun kepada kami. Tidak berhenti disitu, dia memfitnah aku di depan keluargaku, sehingga keluargaku sendiri membenciku, memperlakukan aku dan anak-anakku seperti orang yang tidak punya harga diri.

Berkali-kali mereka mengusirku, menganggap aku sebagai parasit di keluarga ini. Siapa pun yang mengetahui ceritaku, mereka akan berpikir, bagaimana aku bisa keluar dari masalah ini? Tapi ini adalah aku. Yang masih memiliki mimpi besar dan keinginan yang kuat utuk meraihnya. Aku yang masih percaya harapan itu masih ada, bahkan di saat yang lain sudah putus asa.

Di saat-saat tergelap dalam hidupku, aku mulai menulis. Menuangkan kembali hobi masa remajaku. Ajaib, beberapa tulisan sederhanaku bisa aku sumbangkan untuk mengisi beberapa situs berita online. Aku bangga sekali ketika itu. Karena sebelumnya, aku selalu ditolak setiap kali mengirim cerpen ke majalah.

Namun pencapaianku itu baru sebatas prestige yang hanya kubanggakan sendiri. Belum bisa membanggakan ibu, karena belum memberikan hasil dalam bentuk uang. Memang kesuksesan tidak selalu diukur dari uang, tapi saat itu aku benar-benar butuh uang, untuk memberi makan anak-anakku. Dan karena aku sibuk menulis kesana-sini namun tidak dapat uang itulah ibuku jadi marah-marah kepadaku. Menurut ibu, menulis adalah pekerjaan membuang-buang waktu, tidak menghasilkan apa-apa.

Saat itu aku akan menerbitkan buku pertamaku. Karena masih penulis pemula yang belum dilirik oleh editor penerbit mayor, aku menerbitkan bukuku secara indie. Untuk mencetak buku itu, aku membutuhkan modal. Melihat aku yang tidak henti-hentinya “membuang uang” untuk menulis, ibuku marah. Marah sekali. Beliau sampai menyuruhku berhenti menulis. Beliau mengancam akan menjual laptopku. Tapi dasarnya aku memang suka menulis, jadi aku masih suka diam-diam menulis. Tak ada laptop, mengetik di handphone pun jadi. Bahkan sampai menerbitkan dua buku antologi bersama teman-temanku. Semua itu kulakukan secara diam-diam.

Kemarahan ibu memang bukan tanpa sebab. Dulu aku selalu men-support suamiku berbisnis ini itu, dengan memberinya modal. Modal itu kudapat dari ibu tentunya. Namun suamiku ternyata bukan orang yang amanah. Sampai suatu hari dia ketahuan punya hubungan spesial dengan perempuan lain. Tapi dia tidak ingin disalahkan, sehingga dia memfitnahku di hadapan ibu dan kakak-kakakku. Dikatakanlah bahwa pekerjaanku hanya membuang-buang uang. Untuk menulis lah, untuk berjualan buku lah, padahal hasilnya nihil. Dari situlah ibuku melihat apa yang dikatakan mantan suamiku seolah benar. Sehingga dia akan sangat marah jika melihatku menulis. Dia juga selalu sinis jika aku berjualan buku di bazar-bazar. Menurutnya, aku mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Tapi aku tetap ingin membuktikan kepada ibu, bahwa menulis adalah pekerjaan yang mulia, bukan pekerjaan sia-sia.

Suatu hari, aku sedang merasa sangat putus asa. Aku jenuh selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh ibu. Aku jenuh menjadi manusia yang seperti tidak punya harga diri di mata keluargaku sendiri. Aku sampai curhat kepada sahabat dekatku, “Kalau aku makan uang riba dulu, Allah marah nggak ya? Cuma sekali ini aja deh, abis itu aku lunasin, udah, nggak akan lagi-lagi aku berhubungan dengan lintah darat. Cuma buat modal usaha aja,” kataku.

Di kampungku memang banyak sekali lintah darat, dan ibuku suka berutang ke mereka. Kalau aku meminjam modal untuk usaha ke lintah darat, sepertinya ibuku akan bangga kepadaku. Namun temanku menertawakanku. “Nggak ada ceritanya riba bikin sejahtera!” katanya. “Yang ada, riba itu menyengsarakan!” lanjutnya.

Aku pun menertawakan diriku sendiri. Kenapa aku bisa berpkir seperti itu? Anak SD aja tahu kalau riba itu haram, dan dilarang oleh agamaku. Akhirnya aku pun urung dan tidak ingin lagi berpikir ke arah situ. Mending yang halal-halal aja deh, lebih berkah.

Nggak apa-apa nulis hasilnya recehan, yang penting tidak ada harta haram yang mengalir ke dalam darahku dan anak-anakku. Aku taubat, aku meminta maaf kepada Allah karena telah berpikir akan mendekati sesuatu yang Dia larang.

Hingga di suatu malam, saat itu aku akan mengikuti lomba menulis yang diadakan oleh salah suatu penerbit besar. Aku sangat antusias ingin berpartisipasi mengkuti lomba itu. Aku memang tidak berharap terlalu besar untuk menang, karena di luaran sana pasti banyak penulis yang jauh lebih hebat dariku. Namun entah kenapa, aku sangat menyukai hasil tulisanku itu.

Aku sampai membayangkan gimana kalau tulisan ini kujadikan film? Atau sekadar FTV yang tayang di TV nasioal. Sehingga malam itu, di penghujung malam menjelang subuh, aku membuat sebuah proposal yang kutujukan kepada Tuhan. Isi proposal itu di antaranya target pencapaianku terhadap naskah itu. Aku menuliskan dalam proposal itu, kapan aku membuatnya menjadi skenario, ke PH mana saja akan kukirim, bahkan sampai pemain-pemainnya pun aku sebutkan dalam proposal itu. Padahal aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara menulis skenario.

Bersamaan dengan proposal itu, aku pun menuliskan proposal pernikahanku, yang juga kutujukan kepada Tuhan. Dalam proposal itu aku memohon kepada Tuhan agar diberikan jodoh yang baik, yang saleh, yang mampu memberikan sakinah dalam keluarga, tidak terus menerus menyakiti hatiku. Juga mempunyai visi untuk membawa keluarga ini ke surga-Nya. Namun aku pun mengajukan sebuah permohonan kepadaNya, agar Dia mempertemukanku dengan jodohku setelah aku mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam diriku terlebih dahulu.

Aku ingin menyelesaikan masalahku dengan ibu, dan keluarga besarku sebelum aku memutuskan untuk menikah lagi. Karena aku tidak mau kelak aku menjalani pernikahan dengan hati yang tidak tenang. Aku juga ingin saat menikah nanti, aku sudah memiliki tujuan yang jelas untuk menggapai mimpiku. Agar kelak suamiku mensupport apa yang menjadi mimpiku.

 

Pada saat pengumuman pemenang, naskahku memang tidak menang, tapi Allah memberikan kejutan lain. Aku mendapat berita kalau komunitas literasi yang kuikuti akan mengadakan workshop penulisan skenario. Aku sangat tertarik dan antusias sekali ingin mengikuti workshop itu. Aku sampai berkali-kali menanyai temanku yang menjadi panitia tentang acara itu, berharap aku bisa mengikutinya.

Sebenarnya biayanya memang cukup besar, hingga jutaan rupiah. Namun aku memiliki keyakinan yang sangat kuat bahwa aku akan bisa mengikuti pelatihan itu. Hingga suatu hari, aku ditawari kerjasama untuk menulis novel oleh temanku. Dia membayarku secara profesional. Hasil honor menulisku itu aku investasikan untuk belajar menulis skenario yang diadakan oleh komunitas literasi yang aku ikuti.

Entah ini adalah keberuntunganku, atau Allah sedang memberiku hadiah atas apa yang telah kulalui selama ini. Setelah selesai mengikuti workshop, aku diberi kesempatan untuk menuliskan skenario untuk sebuah acara TV. Kebetulan pemateri workshop itu, kak Aditya Gumay, sedang memiliki program di salah satu stasiun TV nasional, dan membutuhkan banyak sekali skenario.

Ini tak kalah ajaibnya dengan pencapaianku selama setahun terakhir ini dalam dunia tulis menulis. Aku sangat semangat menulis dan tak sabar melihat karyaku muncul di TV, dan diperankan dengan apik oleh artis-artis berbakat bimbingan kak Aditya Gumay. Dengan bermodal laptop rongsok yang kubeli di situs belanja online, aku mulai menuliskan skenario.

Saking semangatnya, yang biasanya aku menulis novel rata-rata menghasilkan 50 halaman A4 dalam seminggu, ketika membuat skenario, aku mampu menyelesaikan satu naskah sebanyak kurang lebih 50 halaman A4 dalam waktu 2-3 hari. Aku pun mengirimkan beberapa naskah skenario kepada Kak Adit (sapaan Aditya Gumay). Namun naskah-naskahku tak ada yang beliau lirik.

Aku melihat teman-temanku di group What's App peserta workshop, beberapa di antara mereka banyak yang naskahnya diterima dan difilmkan. Sementara naskahku, tidak satu pun yang dilirik oleh Kak Adit. Perasaan iri semakin menggebu ketika aku menonton TV, melihat program yang sedang digarap kak Adit itu. Ada nama teman-temanku tersemat di sana sebagai penulis skenarionya. Ah Tuhan, kenapa mudah sekali bagi mereka, tapi begitu sulit buatku? Apa yang salah dari naskahku? Apakah naskahku kurang bagus?

Aku sampai berpikir, mungkin aku hanya kege-eran menganggap kesempatan ini sebagai jalan yang diberikan Tuhan untukku. Mungkin rezekiku bukan di sini, mungkin aku masih harus mengumpulkan recehan dari situs berita online dan semacamnya. Apalagi setelah laptop rongsokku ini tiba-tiba rusak. Aku semakin yakin jika Allah tidak menginginkan lagi aku menulis. Mungkin ini saatnya aku bangun dari mimpi, dan mulai berpikir untuk melamar pekerjaan. Jadi kasir minimarket kek, SPG makeup kek, apa pun lah, yang penting menghasilkan uang, dan setidaknya membuat ibu jadi bangga kepadaku.

 

Namun kemudian aku ingat satu hal, salah satu temanku di komunitas literasi, yang juga mengikti workshop penulisan skenario itu, dia tidak memiliki laptop. Aku tahu karena dulu saat bersama-sama mengerjakan proyek antologi, dia meminjam laptopku. Aku jadi berpikir, bagaimana dia mengerjakan skenario itu? Sedangkan naskah dia sudah tayang dua kali di TV.

Aku pun kembali mengingat perjuanganku dulu yang pernah mengetik tulisan di HP. Mungkin aku hanya perlu banyak belajar lagi dan memperbaiki naskahku. Ah, aku memang lebih banyak ngantuknya ketimbang belajar ketika workshop kemarin. Belum lagi gangguan dari anak-anak yang kadang rewel saat aku sedang belajar. Aku perlu berlari sprint jika ingin mengejar teman-temanku yang sudah duluan diterima skenarionya.

Aku mulai belajar lagi, bertanya kesana sini, memperhatikan naskah teman-teman yang sudah diterima, dan mengganggu kesibukan Kak Adit dengan bertanya ini itu kepada beliau. Kuperbaiki naskah-naskah yang pernah kukirim, dengan mengetik menggunakan handphone. Kemudian masha Allah, satu per satu naskahku mulai diprosuksi. Aku sangat bangga ketika namaku nongol di TV sebagai penulis skenario saat program yang digarap Kak Adit itu tayang.

Tak lupa kuajak ibu dan kakakku ikut menonton acara itu. Aku melihat wajah-wajah mereka, entah kenapa aku ingin menitikkan air mata. Mereka tampak bangga kepadaku. Akhirnya aku bisa memberikan mereka kebanggaan. Akhirnya aku bisa membuktikan bahwa menulis itu pekerjaan bergengsi, pekerjaan yang mulia. Bukan pekerjaan yang sia-sia.

Memang cerpen yang kutulis dalam proposalku itu belum benar-benar tayang di TV. Tapi ini adalah langkah awal menuju ke sana. Setidaknya menulis naskah untuk program yang sedang digarap Kak Adit adalah sebagai inkubasiku belajar menulis skenario. Juga sebagai sarana aku mengumpulkan portofolio. Semoga suatu saat aku akan menuliskan skenario dari cerpen itu, dan bisa tayang juga di TV.

Sekarang, meski pencapaianku ini belum begitu memberikan hasil yang terlalu besar dari segi materi, namun setidaknya ibu dan kakak-kakakku sudah tidak bersikap seperti dulu lagi. Mereka sudah memberikan aku kasih sayang selayaknya seorang anak, dan seorang adik. Tidak seperti dulu, aku dianggap seperti parasit.

Aku jadi berpikir, apakah ini adalah tanda-tanda proposal keduaku (tentang pernikahan) sudah di ACC oleh Allah? Ah sejujurnya aku masih belum bisa menghapus luka ini. Jadi aku hanya bisa membuat diriku fokus dengan pencapaianku, dan mengikuti alur yang sedang Dia rencanakan untukku.

Begitulah ceritaku menaklukkan capaian-capaian di tahun 2018, saat aku berada di masa-masa sulit dalam hidupku. Semoga 2019 akan menjadi lebih baik. Dan semoga, jika 2018 kemarin diawali dengan air mata, dan mengalami kesedihan sepanjang tahun, semoga di tahun 2019 ini aku bukan hanya bahagia sepanjang tahun dan selamanya, tapi juga bisa mengukirkan senyum untuk keluarga, dan banyak orang. Mudah-mudahan ceritaku bisa menginspirasi Sahabat Fimela semua agar tidak berhenti menggapai mimpi.

Doakan juga ya semoga proposal keduaku bisa cepat di ACC sama Allah! Hihihi... .

Salam,Ana

Artikel Selanjutnya
Memulai Tahun Baru dengan Resolusi yang Lebih Sederhana
Artikel Selanjutnya
My Goal Matters: Ceritakan Mimpi dan Harapanmu di Tahun yang Baru