Sukses

Lifestyle

Menangisi Seseorang yang Tak Lagi Peduli Itu Sebuah Kebodohan

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: R

Diriku hari ini adalah pribadi yang sangat berbeda dengan aku beberapa bulan lalu. Ya, Februari lalu aku masih seorang yang berhati hancur, tak memiliki semangat hidup, benar-benar terpuruk. Luka  yang kurasakan tahun lalu bukanlah sekedar patah hati anak remaja karena cinta tak berbalas.

Aku sudah cukup dewasa di umur 26 tahun, saat aku merasa dicampakkan oleh seseorang yang kupikir adalah jawaban doa setiap malamku. Berbulan-bulan aku berjuang move on, meminta saran dari orang-orang terdekat, menghabiskan waktu dengan teman-teman, traveling, membeli barang-barang yang kusuka, tapi semuanya itu tak bisa membebaskanku dari kepahitan yang masih berakar dalam hati. Aku membenci diriku, menyalahkan keadaan, dan jujur saat itu aku marah pada Tuhan. Sampai aku mulai malas berdoa.

Januari lalu masih kuingat jelas, bagaimana aku harus bekerja sambil menyelesaikan tugas akhirku. Kurang tidur, pola makan tidak teratur, dan tidak peduli dengan penampilanku. Boro-boro skincare-an, cuci muka dengan benar saja udah syukur. Yang paling menyedihkan adalah, siklus menstruasiku yang menjadi tidak lancar.

Tak jarang aku menangis ketika terjaga di tengah malam atau dini hari. Begitulah, setiap pagi seperti  tidak ada sinar mentari untukku. Kujalani begitu saja, walaupun aku akhirnya bisa menyelesaikan tugas akhirku dan lulus di akhir Januari. Aku sungguh tidak bangga, tidak menganggap itu suatu hal yang hebat, aku menganggap diriku sendiri tidak berarti apa-apa. Lagi-lagi aku melihat diriku begitu buruk, begitu tidak pantas untuk dicintai.

Tidak berapa lama kemudian, negara kita dilanda pandemi Covid 19 yang mengharuskan social distancing saat itu. Berlanjut dengan PSBB  di mana tempat-tempat umum pun ditutup. Semua berubah hingga di Maret akhir, perusahaan tempatku bekerja pun menerapkan Work from Home. Aku sempat khawatir akan semakin sulit untuk move on, karena aku akan benar-benar sendiri sampai waktu yang belum diketahui. Aku membayangkan bagaimana aku akan melewati hari-hari yang kelam.

Perubahan ke Arah yang Lebih Baik

Namun ternyata itulah awal perubahan hidupku. Seperti ada yang melawan dari dalam diriku, aku tersadar betapa bodohnya aku menangisi seseorang yang tak lagi mempedulikanku. Kucoba memulai sesuatu yang baru, membuat rutinitas baru yang tadinya kulakukan dengan malas-malasan. Bangun di pagi hari aku sediakan waktu untuk berdoa dengan rileks dan tenang tanpa takut terlambat ke kantor. Menyiapkan sarapan sehat, seperti salad buah dan sayur yang dulu tidak pernah sempat kusiapkan. Berjemur dan berolahraga, awalnya seluruh badanku sakit karena tidak pernah berolahraga. Namun aku malah semakin tertantang untuk konsisten dengan rutinitas baru ini.  

Aku mencoba mempelajari lagi dunia perawatan kulit yang cocok untukku. Membuat DIY masker wajah alami, dan  perawatan diri dari ujung rambut sampai ujung kaki. Di hari Sabtu dan Minggu ketika sedang tidak ada tugas kantor maka kuhabiskan waktuku  untuk belajar make-up, dan masak memasak. Sesekali kukirimkan hasil masakanku ke beberapa temanku, tak lupa kuberikan kutipan positif yang kuharap dapat menambah semangat mereka menjalani masa sulit ini.

Tidak terasa, sudah tiga bulan aku melakukannya. Tubuhku kini jauh lebih fit. Siklus menstruasi kembali teratur. Aku pun tidak lagi membuang-buang uang untuk belanja barang-barang hanya karena lapar mata. Aku tersadar akan banyaknya orang-orang di luar sana yang kesulitan ekonominya karena terdampak pandemi ini.

Jika melihat ke belakang, aku benar-benar bersyukur kepada Tuhan yang tidak membiarkanku jatuh saat itu namun menopangku di saat yang tepat. Andai dulu kuikuti amarahku, entah apa jadinya aku sekarang. Sebaliknya, semua hal yang kulakukan tiga bulan ini bukan hanya mengubah pola hidupku, namun juga membuatku perlahan lupa akan kepahitan masa laluku. Kini aku menjadi peduli dengan diriku. Peduli juga akan kondisi orang lain.  Satu hal yang paling penting, aku merasa lebih dekat dengan-Nya.

Memang lukaku belum sepenuhnya sembuh, namun hidup ini terlalu berharga untuk kusia-siakan. Dan habit baruku ini adalah sebuah cara untuk menghargai waktu dan kesehatan yang Tuhan beri.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Menu Hari Ini: Tumis Sawi Hijau, Sambal Tongkol dan Ceker Pedas
Artikel Selanjutnya
Mengejar Gaji Tambahan di Tengah Pandemi, Ada Pulsa Hingga Logam Mulia Menanti