Sukses

Lifestyle

Tidak Ada Kata Terlambat untuk Mengubah Rasa Malas

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh:  Fitrika Deliyana

Tahun 2020 sudah memasuki pertengahan, namun pandemi Covid-19 belum ada tanda-tanda segera berakhir. Berjuta rencana dan asa harus tertunda. Meskipun begitu, haruskah kita berdiam diri dan melewatkannya begitu saja?

Di saat pandemi ini, memang banyak kegiatan yang dibatasi dan hal ini membuat saya untuk mengubah rencana serta resolusi-resolusi yang telah ditetapkan. Awalnya, saya larut dalam kebimbangan dan bingung untuk melakukan apa. Aktivitas-aktivitas non produktif seperti rebahan, menonton televisi  atau tidur tampaknya menjadi kebiasaaan baru selama menunggu pandemi ini berakhir.

Berbulan-bulan tanpa kejelasan, membuat  saya merasakan kejenuhan yang sangat tinggi. Saya bingung dan bertanya kepada diri saya sendiri, “Apakah saya harus terus begini saja ataukah saya harus keluar dari zona nyaman dan memulai sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya?“

Akhirnya saya berpikir dan merenung, waktu terus berjalan dan kesempatan banyak yang terlewatkan. Saya harus memilih dan mulai untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi. Selama di rumah saja, saya memutuskan untuk terus belajar. Belajar apa saja, mulai belajar memasak, menulis, berkebun, membuat desain dan lain-lain.  Namun, terkadang  tantangan di depan tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Hampir semuanya saya jalani meskipun  tantangan terberatnya adalah melawan rasa malas. Ya, penyakit mental yang satu ini tidak ada obatnya kecuali kemauan dan tekad yang kuat dari dalam diri sendiri.

Saya mencari informasi untuk mengubah kebiasaan buruk ini. Banyak cara untuk melawannya dan semuanya memang diawali dari niat di dalam diri kita sendiri. Pelan-pelan saya membuat daftar to do list harian. Saya tulis semua aktivitas dan pencapaian yang bisa saya lakukan selama 24 jam ke depan.  Tak lupa saya selalu menambahkan reward kecil jika saya berhasil melaluinya. Jangan lupa untuk memvariasikan kegiatan agar tidak monoton dan itu-itu saja. Saya lakukan hal ini selama 21 hari, menurut para ahli psikologi, jika aktivitas yang dilakukan secara rutin selama 21 hari maka akan menjadi kebiasaan baru. Di sinilah butuh komitmen dan konsistensi yang tinggi.

Perubahan-Perubahan untuk Lebih Baik

Walaupun baru beberapa minggu hal ini saya lakukan, namun saya banyak mendapatkan perubahan. Hingga keluarga terdekat saya merasa heran karena jarang sekali saya melakukan hal-hal tersebut sebelumnya. Walaupun bukan karena siapa pun saya melakukan perubahan ini, namun satu yang pasti, tekad dalam diri untuk lebih baik yang memompa saya untuk berjuang mengatasi rasa malas. Setiap rasa malas itu muncul, saya selalu ingat akan akibat jika saya malas (menjadi orang yang tak berguna) dan saya paksakan diri sekuat tenaga untuk menghalaunya. Saya tak ingin menyesal di masa tua nanti, batin saya.

Dulu saya malas membaca, kini apa pun informasi baik berita, jurnal, cerpen, novel, dan lainnya kubaca demi menambah wawasan. There is no friend as loyal as a book.

Dulu saya malas memasak, kini aku membuka buku resep-resep atau googling dan mulai mencobanya, walau masih gagal. It’s not a big deal for starter.

Dulu saya  malas berolahraga, kini setiap pagi atau sore saya paksakan diri untuk berjalan kaki atau jogging  keliling rumah. Finally, my weight loss is 5 kgs in a month. Hore.

Dulu saya malas menulis, kini setiap kejadian atau ide apa pun, saya luangkan waktu untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan. Join the writer’s club now and also Fimela’s challenge.

Sebenarnya, masih banyak hal-hal yang harus saya ubah, namun dari semua itu, tak dipungkiri bahwa selama  ini saya malas melakukan itu semua karena banyak alasan (too many excuses). Padahal, banyak hal-hal  baik yang terlewatkan karena satu hal, malas! Kebiasaan malas dan menunda-nunda  ini lama kelamaan menggerogoti mental saya dan berdampak buruk bagi  masa depan.  Mengikuti ajang Share Your Stories dari Fimela juga merupakan salah satu kebiasaan baru saya untuk melatih ketajaman pikiran dan berbagi cerita saling menguatkan bersama wanita-wanita hebat Indonesia. Terima kasih, Fimela.

Pandemi ini mengajarkan saya untuk lebih produktif. Sedikit apa pun perubahan yang kita lakukan sangat baik untuk masa depan. Karena saya percaya, apa yang kita dapatkan saat ini adalah hasil dari kebiasaan yang kita lakukan 5-10 tahun ke sebelumnya. Oleh karena itu, jangan sampai kita menyesal belakangan. Let’s change!

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Kemendikbud Sebut Aturan Usia dalam PPDB Sudah Diatur Sejak 2017
Artikel Selanjutnya
4 Ciri yang Hanya Dimiliki Teman Sejati, Yakin Sudah Menemukannya?