Sukses

Lifestyle

Setelah Terpuruk, Hati pun Terketuk untuk Berhenti Merokok

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh:  Komang Ayu Astrini

Kebiasaan tidak akan bisa diubah oleh orang lain. Kitalah "mesin" untuk mengubah yang tidak baik. Terlebih tanpa kesadaran penuh serta tujuan yang jelas untuk apa itu semua dilakukan.

Aku adalah seorang perokok, terlebih aku memiliki asma. Kebiasaan bertahun-tahun ini tak bisa kuubah begitu saja walau telah banyak wejangan yang kuterima. Tepat di hari jadi dengan pasangan, aku terbangun dari tidur, merasa nyeri pada dada lalu berubah menjadi sesak berat.

Aku masih bisa diselamatkan saat dibawa ke rumah sakit. Nahasnya, aku diwajibkan opname selama satu bulan dan melalui berbagai "siksaan" di rumah sakit. Wajahku biru, tubuh kejang-kejang, busa di mulut tak berhenti meluap dari mulutku, begitulah orangtuaku menceritakannya padaku saat dokter mengizinkanku rawat jalan di rumah.

Betapa mengerikannya itu disaksikan oleh semua orang yang kusayangi karena saat itu aku hanya bisa merasakan sakit yang tak tertahankan. Buyar semua ingatanku seperti amnesia. Bagiku, keluarga sebagai para pejuang hidupku merasakan berat dari segi finansial, waktu dan tenaga saat mengurusku.

Januari 2019 aku menghirup udara bebas, berat bagiku terlepas dari candu tembakau, kumpul-kumpul dengan teman-teman, pulang dan tidur larut malam seusai membuat tugas akhir semester yang menumpuk. Aku yang mengasingkan diri mulai merasa sangat terkekang dengan sakit ini, dan berpikir kebebasan itu direnggut. Menangis sejadi-jadinya hingga aku lelah untuk mengeluhi keadaanku.

Berhenti Merokok

Aku merasa akulah yang bersalah. Kubulatkan tekadku memulai minggu pertama untuk meditasi sambil merasakan hangatnya mentari pagi. Air putih yang cukup sesuai anjuran dokter, dan mengonsumsi makanan sehat. Tak pernah kusentuh semua yang berbau rokok atau asap saat masa pemulihan. Namun tetap saja sesak pada dadaku sesekali kambuh.

Pada minggu kedua, aku mulai menata kamar dengan suasana baru, dan aku menemukan rokok yang kukoleksi lalu kubuang tanpa sisa. Kutabung semua uang yang kumiliki untuk membeli kebutuhan vitamin juga modal untuk mengoleksi tanaman obat keluarga di rumah. Mulai rutin berolahraga ringan di rumah selama sepekan hingga selanjutnya aktivitas bersepeda menjadi hobiku.

Bagai mimpi rasanya, diminggu selanjutnya berangsur pulih kekuatanku, begitupula mental dan mindset yang makin membaik, betapa mahalnya kesehatanku juga betapa nikmatnya semua yang kumiliki saat ini. Ada begitu banyak orang yang menderita, menangis pun menjerit melihat kondisiku saat memperjuangkan nyawaku.

Jika tak pernah terpuruk, maka tak pernah hatiku terketuk. Semua yang kuanggap wajar-wajar saja, kebebasan tak selamanya berbuah nikmat. Apa yang kau tanam itulah yang kau tuai. Aku mencintai perubahanku. Perubahan penuh kesadaran dan ketulusan. Semuanya belum terlambat jika kemauan untuk berubah mau dijalani lapang dada. Hidupku damai. Hidup orang-orang yang kucintai pun bahagia. 

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Mengintip Keindahan Wot Batu, Lokasi Pernikahan Tara Basaro dan Daniel Adnan
Artikel Selanjutnya
5 Kreasi Resep Menu Sarapan Bebas Lemak yang Enak, Sehat, dan Praktis