Sukses

Lifestyle

Kehadiran Buah Hati adalah Anugerah Terindah dari Tuhan

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Elisabet Sianturi

Setelah menikah, saya dan suami merencanakan untuk langsung punya anak. Mengingat umur suami sudah kepala tiga, saya pun setuju. Namun, Tuhan berkata lain. Saya pun harus menunggu beberapa bulan. Karena takut ada apa-apa, saya dan suami kontrol ke dokter kandungan dan hasilnya baik-baik saja.

Saat memasuki usia 7 bulan pernikahan kami, akhirnya Tuhan mendengar semua doa kami. Saya dan suami bahagia sekali melihat testpack sudah garis dua. Awalnya saya tidak merasakan apa-apa, masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa saat belum hamil. Namun seiring berjalannya waktu, satu per satu muncul keluhan yang sebelumnya belum pernah saya rasakan.

Mulai dari lemas, seluruh badan rasanya remuk, mual, muntah setiap makan minum. Dan beberapa kali juga harus diinfus dan harus istirahat total. Saat sudah memasuki usia kehamilan 4 bulan, semua keluhan itu mendadak hilang dan selera makan saya pun meningkat drastis. Akhirnya BB naik juga, untungnya tidak terlalu berpengaruh dengan BB si kecil di dalam perut yang artinya BB si kecil masih dalam batas normal dan sehat.

Selain badan mulai bengkak, stretchmark juga di mana-mana, kulit dekil, dan jerawatan. Tapi itu semua proses yang dipercayakan Tuhan untuk saya dan saya pun sangat menikmatinya. Biar dibilang orang, "Kamu kok item, kamu kok gendut banget," saya tidak pernah merasa minder. Ini semua adalah proses.

Tiba saat si Kecil keluar dari perut, sama sekali tidak ada keluhan apa-apa tapi air ketuban sudah merembes terus. Saat ke rumah sakit, saya diberi dua pilihan mau coba di induksi dengan hasil 50:50 atau langsung sectio. Aku memutuskan untuk diinduksi dengan segala risiko. Waktu obatnya sudah bereaksi, betul-betul sakit sekali. Untungnya ada suami yang selalu siaga, selalu mendoakan saya dan memberi dukungan.

Perubahan setelah Kelahiran si Kecil

Saat itu awal April 2020, saat pandemi Covid-19 jadi hanya suami saja yang boleh ke rumah sakit. Sedih sekali rasanya, tiba saat yang saya tunggu-tunggu melahirkan ditemani ibu saya tapi apa boleh buat peraturan harus dijalankan. Saat sudah masuk di bukaan lengkap, tapi si dedek bayi belum turun ke panggul. Oh My God benar-benar perjuangan yang luar biasa antara hidup dan mati.

Pertama sekali saya melihat suami saya menangis sambil mendoakan saya, dia tidak kuat melihat saya kesakitan. Dia bilang kalau sudah tidak tahan langsung sectio saja, tapi saya mau tetap mencoba karna saya yakin saya bisa. Dan puji Tuhan berkat doa,dukungan, semangat dari suami akhirnya anak pertama kami lahir dengan selamat, dan sehat.

Sakit yang saya rasakan saat diinduksi tiba-tiba hilang begitu saja setelah mendengar suara tangisannya. Saya menangis bahagia, ternyata saya bisa melewati setiap proses ini. Ternyata apa yang dirasakan ibu saya dulu sama persis dengan apa yang saya rasakan. Sekarang si kecil sudah 3 bulan, saya dan suami sangat menikmati proses tumbuh kembang si kecil. Semua dilakukan bersama-sama. Walaupun kami berdua bekerja, tapi kami tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk si kecil. Termasuk dukungan suami untuk memberikan ASI Ekslusif. Dan saya pun komitmen untuk wajib pumping, memastikan stok ASIP selalu ada untuk si kecil.

Jadi, biar pun kami tergolong orang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, saya dan suami sepakat untuk no gadget saat sudah di rumah. Tujuannya supaya waktu kami untuk si kecil lebih banyak. Di sini juga kami tidak dibantu baby sitter untuk mengurus si kecil, semuanya kami lakukan bersama-sama. Kenapa tidak pakai jasa baby sitter? Karena kami takut menerima orang baru dirumah di zaman pandemi Covid-19 ini. Selain itu, saya dan suami kerja shift jadi kami ganti-gantian mengurus si kecil.

Walaupun sudah capek dari kerjaan, begitu tiba di rumah melihat si kecil tersenyum semua rasa lelah terbayarkan. Inilah sepenggal cerita saya dan suami saat menyambut kehadiran si kecil sampai saat ini. Hal yang betul-betul saya nikmati, bersyukur untuk setiap proses tumbuh kembang si kecil. Anugerah Tuhan yang paling indah yang harus saya jaga dan saya rawat semampu saya. Semoga anak saya kelak menjadi anak kebanggaan orangtua.

Terima kasih, Nak sudah hadir di tengah-tengah keluarga kami. We love you.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Cara Menyimpan Daging Ayam agar Tidak Mudah Basi
Artikel Selanjutnya
Sebagai Anak Pertama, Menjadi Penengah untuk Orangtua Ternyata Rumit Juga