Sukses

Lifestyle

Memahami HR-Positif, HER2-Negatif, Subtipe Kanker Payudara Metastatis Tertinggi di Dunia

Fimela.com, Jakarta Saat mendengar kata kanker payudara biasanya kita akan langsung merasa takut atau was-was. Penyakit ini bagai momok tersendiri bagi sebagian perempuan. Hanya saja bila kita bisa membekali diri dengan info dan pengetahuan yang tepat terkait penyakit ini, maka kita bisa menurunkn risiko cemas setiap kali mendengarnya.

Tanggal 30 Agustus 2020 pukul 10.00-12.00, Pfizer Indonesia melakukan sosialisasi untuk mengenal kanker payudara metastatis subtipe tertinggi di Indonesia, Hormone Receptor-positive (HR+), Human Epidermal growth factor Receptor 2-negative (HER2-), yang merupakan 73% dari semua kasus kanker payudara metastatis di seluruh dunia. 

Webinar yang dipandu oleh moderator Pratiwi HB Astar ini dihadiri narasumber dr. Handoko Santoso, (Medical Director Pfizer Indonesia), DR. dr. Ronald Hukom, SpPD-KHOM (Hematologi Onkologi Medik RS Kanker Dharmais), Rien Saptarina (pasien kanker payudara metastatik dari LovePink), dan Dr. Dyana Suwandy (Medical Affairs Manager Pfizer Indonesia). Ada banyak informasi penting yang dihadirkan dalam webinar ini terkait kanker payudara HR+/HER2-.

Kanker Payudara Menempati Peringkat Kanker Tertinggi di Indonesia

Menurut studi Globocan 2018, kanker payudara menempati peringkat kanker tertinggi di Indonesia dengan 58.256 kasus baru pada tahun 2018 dan menempati posisi kedua penyebab kematian karena kanker, setelah kanker paru-paru. Kanker payudara adalah kanker invasif yang paling umum terjadi pada wanita secara global dengan lebih dari 2 juta wanita terkena setiap tahunnya. Meskipun jarang, pria juga dapat didiagnosis menderita kanker payudara. Untuk pria, risiko kanker payudara seumur hidup adalah sekitar 1 banding 833.

Menurut para ahli kesehatan, diperkirakan terjadi peningkatan sekitar 43% dalam kematian terkait kanker payudara secara global dari 2015 hingga 20307, yang sebagian besar merupakan akibat dari penyakit metastasis atau sel kanker yang menyebar ke organ lain di dalam tubuh.

Sekitar 70% dari waktu penyebarannya, subtipe kanker payudara HR+/HER2- menyebar ke tulang, jaringan lunak seperti kelenjar getah bening, dan kadang-kadang terlihat di organ-organ seperti paru-paru atau hati, maupun di kulit.

dr. Handoko Santoso, Medical Director Pfizer Indonesia mengatakan, “Dengan jumlah penderita kanker payudara yang terus meningkat secara global, Pfizer berfokus pada ilmu pengetahuan tentang kanker payudara selama lebih dari dua dekade terakhir melalui aktivitas riset dan pengembangan yang inovatif berbasis uji klinis terhadap lebih dari 25.000 pasien kanker sejak 1995, untuk mencapai kemajuan dalam pengobatan kanker payudara secara signifikan pada setiap tahapan stadium maupun subtipe, serta memberikan informasi yang komprehensif dan kredibel, khususnya bagi pasien kanker payudara metastatis subtipe  HR+ / HER 2-.”

Terdapat lebih dari 20 subtipe kanker payudara yang berbeda dalam presentasi, respon terhadap pengobatan, termasuk hasilnya. “Perlu bagi pasien untuk mencari dan mendapatkan pengobatan inovatif yang tepat sesuai dengan subtipe-nya,” lanjut Dr. Handoko.

Cara Mengetahui Subtipe Kanker Payudara Metastatis

DR. dr. Ronald Hukom, SpPD-KHOM, Hematologi Onkologi Medik RS Kanker Dharmais, menjelaskan bahwa untuk mengetahui subtipe kanker payudara metastatis, semua hasil biopsi, misalnya core-biopsy, atau hasil operasi pengangkatan tumor dengan laporan patologi kanker payudara, perlu diperiksa dengan beberapa tes tambahan untuk mengetahui subtipenya, termasuk dengan tes HR (ER/PR) dan HER2.

Subtipe kanker sesuai laporan patologi sangat menentukan pilihan obat yang disarankan dokter, sehingga laboratorium patologi dengan kemampuan lengkap harus tersedia pada semua provinsi dan rumah sakit yang menangani kanker. “Dengan memahami subtipe kanker payudara, diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesembuhan dan kualitas hidup penderita kanker payudara metastatis,” lanjut Dr. Ronald Hukom.

Terapi yang tersedia untuk kanker payudara metastatik di Indonesia sudah cukup lengkap. Tergantung hasil patologi, perawatan bisa dilakukan dengan kemoterapi, terapi hormon, terapi target, imunoterapi, termasuk sekarang juga sudah tersedia CDK 4/6 inhibitor untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

“Sebelum memulai pengobatan pada kanker payudara metastatik, pasien harus yakin sudah mendapat informasi yang cukup, bila perlu dengan minta opini kedua pada dokter ahli lainnya, dan terapi harus dilakukan oleh dokter yang tepat, khususnya Onkologi Medik yang berpengalaman,” ujar Dr. Ronald Hukom. 

Dengan kemajuan teknologi, perkembangan terapi kanker payudara metastatik tumbuh sangat pesat. Semua terapi yang baru memungkinkan hasil yang lebih baik, khususnya yang sudah memiliki bukti yang kuat.

 

 

Pentingnya Memeriksakan Diri Sedini Mungkin

dr. Ronald memaparkan bahwa faktor hormonal berpengaruh besar pada kemungkinan seorang perempuan terkena kanker payudara. Misalnya, perempuan yang mendapatkan haid pertama pada usia sangat muda (di bawah usia 10 tahun), perempuan yang masa reproduksinya panjang sekali (sampai menopause lebih dari usia 50 tahun), perempuan yang selama hidup tidak memiliki anak (keseimbangan hormon estrogen progesteron yang bermasalah), dan perempuan yang tidak menyusui, wanita yang memang memiliki riwayat keluarga pernah mengidap kanker payudara (faktor genetik).

Faktor obesitas, penggunaan obat-obat hormonal, paparan radiasi (seperti berulang-ulang mendapatkan pemeriksaan radiologi di daerah dada) juga bisa memicu seseorang terkena kanker payudara. 

Penting sekali memeriksakan diri sedini mungkin. Ketika muncul benjolan di payudara meski tidak terasa sakit dan ukurannya masih kecil, ada baiknya untuk segera ke dokter. Sebab semua jenis kanker, kalau diperiksakan lebih awal (masih stadium 1) maka harapan sembuhnya tinggi. Tapi kalau sudah stadium 3 atau 4 itu biasanya pengobatannya lebih sulit dan harapan sembuh lebih kecil.

Penting bagi perempuan yang sudah mendapatkan haid untuk senantiasa melakukan deteksi dini. Periksa payudara sendiri setidaknya sekali sebulan seperti pada awal waktu haid. Bagi perempuan berusia 40 atau 45 tahun ke atas sangat disarankan untuk setidaknya melakukan mamografi setahun sekali atau dua tahun sekali.

Jangan Mudah Percaya Info Hoax

Guna menghindari informasi yang menyesatkan, Dr. Ronald Hukom mengingatkan pasien untuk waspada terhadap hoax pada terapi kanker, karena hal tersebut sangat berbahaya, “Pasien kanker payudara stadium 2 yang harapan sembuhnya tinggi, karena mengikuti himbauan hoax menjadi tidak dapat disembuhkan. Atau pasien stadium 4 metastatik yang masih bisa memiliki harapan median survival lebih dari 5 tahun, namun menggunakan obat yang tidak tepat, dapat mengurangi periode survival.” Selain itu, sebaiknya kita tidak mudah percaya informasi dari situs yang tidak jelas asal-usulnya. 

Bila kita ragu-ragu dengan diagnosa satu dokter, perlu juga mencari second opinion untuk mendapatkan perawatan yang paling tepat. Saat sudah dinyatakan terkena kanker stadium 4 pun, jangan merasa putus harapan terlebih dahulu. Yang tak kalah penting adalah kenali subtipenya, sebab nanti pengobatan atau penentuannya berbeda.

Pentingnya Semangat bagi Pasien Kanker Payudara

Bagi sebagian besar pasien, diagnosis kanker metastasis sangat menegangkan dan terkadang  sulit jika ditanggung sendiri. Pasien dengan kanker stadium lanjut seperti kanker payudara metastasis, memiliki pilihan pengobatan yang dapat mempertahankan kualitas hidup yang baik, termasuk melalui perhatian dan dukungan psikososial kepada pasien kanker, guna membantu mengatasi tekanan psikologis pasien.

Rien Saptarina, pasien kanker payudara metastatik dari LovePink - Yayasan Daya Dara Indonesia yang merupakan organisasi para penyintas kanker payudara, mengatakan, “Sejak awal saya terdiagnosa kanker payudara HR+/HER2-, saya berkonsultasi aktif dengan dokter tentang pilihan terapi inovatif kanker payudara yang terbaru dan tersedia, serta jenis pengobatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup, termasuk dukungan keluarga dan teman-teman.”

 

 

Semangat untuk Sembuh

Pada tahun 2012 Rien menemukan benjolan pada payudaranya tapi saat itu ia mengabaikan. Barulah ketika pada 2014 saat mengalami pendarahan pada payudaranya ia memeriksakan diri ke dokter. Dia masih "beruntung" karena punya teman yang langsung menyuruhnya untuk memeriksakan diri ke dokter. Walau mengaku sempat merasa stres tapi Rien mengikuti semua proses pengobatan dengan baik. Baginya, jalur medis adalah jalur yang paling tepat untuk bisa sembuh. 

Kanker bukanlah akhir dari segalanya, dengan partisipasi dan semangat sebagai penyintas kanker, justru menjadi berguna untuk sesama penyintas dan pasien kanker payudara, dengan berbagi informasi dan pendampingan. Dan yang terpenting adalah untuk selalu menjaga kesehatan payudara, jangan percaya hoax. Dan selalu berkonsultasilah dengan dokter untuk mengetahui pilihan pengobatan inovatif yang terbaru dan tersedia di Indonesia.

Program ASA DARA          

Dalam hal kerjasama dengan komunitas kanker, Pfizer memberikan dukungan bagi penyintas maupun pasien kanker agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik. Dr. Dyana Suwandy, Medical Affairs Manager Pfizer Indonesia mengatakan, “Tahun ini Pfizer menginisiasi program ASA DARA sebagai terobosan inovatif yang membantu pasien kanker payudara metastatis HR+ / HER2- di Indonesia melalui platform ekosistem kesehatan digital. Sebagai program yang pengembangannya bersifat multi stakeholder dengan dukungan mitra platform digital dan berbagai organisasi pasien, program ini diharapkan dapat memberikan harapan baru dalam membangun solusi yang komprehensif dari peningkatan pengetahuan, asistensi bagi pasien dan penguatan peran psikososial caregivers di masyarakat."

 

 

Asah, Asih, dan Asuh

Program ASA DARA terbagi atas tiga pilar utama yaitu Asah, Asih, Asuh. “Asah” merupakan program edukasi mengenai kanker payudara HR+/HER2-; “Asih” sebagai program bantuan pasien untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dengan memberikan kenyamanan serta keringanan dalam memperoleh terapi dari Pfizer setelah pasien berkonsultasi dengan dokter ahli kanker atau spesialis; sementara “Asuh” merupakan program bagi pemerhati dan pendukung kanker payudara metastatis melalui dukungan psikososial yang dibutuhkan pasien kanker payudara metastatis.

Untuk memberikan dukungan psikososial, Rien Saptarina mengajak penyintas kanker payudara secara aktif berbagi informasi dan pendampingan bagi pasien kanker payudara.  “Dukungan dan informasi langsung dari penyintas kanker sangat membesarkan hati dan terbukti membantu dalam perjalanan pengobatan saya melawan kanker payudara metastatis. Andapun juga bisa melakukannya.”

Ada banyak info penting terkait kanker payudara HR+/HER2- yang perlu kita pahami dengan baik. Jika merasa ada yang "tidak beres" dengan payudara kita, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ya Sahabat Fimela. Selalu konsultasikan diri ke dokter dan jangan mudah percaya info hoax. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan di dunia. Pfizer mendorong pasien untuk mencari dan mendapatkan layanan yang tepat sesuai dengan subtipe-nya.

#ChangeMaker

Loading