Sukses

Lifestyle

Berat Badan Turun 31 Kg, tapi Kadang Masih Tak Puas dengan Tubuh Sendiri

Fimela.com, Jakarta Emily Abbate, seorang penulis lepas bidang kesehatan dan kebugaran membagikan cerita dan pengalamannya terkait tubuh dan berat badannya. Beberapa tahun lalu, ia berada dalam titik terendah hidupnya. Saat itu berat badannya 92 kg dengan tinggi badan 164 cm. Ada perasaan tidak bahagia. Muncul rasa kesepian. Serta mengalami obesitas.

Tiga tahun kemudian, seperti yang dimuat dalam laman health.com, dengan kerja keras dan dedikasi, situasi berubah drastis. Melalui upayanya mengontrol porsi makanan dan hobi lari, Emily mendapatkan hasil positif. Berat badannya turun 31 kg. Hidupnya pun membaik. Setelah lulus kuliah, dia bisa bekerja sebagai jurnalis di New York City.

Saat ini, Emily sibuk menulis dan mengedit konten kesehatan dan kebugaran sebagai jurnalis lepas dan mengerjakan podcats Hurdle. Dia sudah menemukan keseimbangan yang sempurna antara minatnya di bidang kesehatan, jaringan yang baik, dan karier yang bagus. Dia merasa bahagia tapi ternyata kadang masih saja hadir perasaan tidak nyaman dengan tubuh sendiri.

Ada Hari-Hari Merasa Frustrasi saat Bercermin

 

"Tetap saja ada hari-hari aku bercermin dan merasa frustrasi. Andai saja celana jinsku bisa lebih pas lagi. Andai pahaku tidak sebesar ini, aku akan lebih nyaman mengenakan celana pendek saat berlari," ungkapnya.

Emily merasa bersalah mengakui hal itu. Sebab beberapa tahun lalu, Emily yang lama akan rela mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan tubuh Emily yang baru ini.

"Tiga puluh satu kilogram lalu, aku merasa terkucilkan, seakan-akan hanya aku satu-satunya yang menatap cermin dan melihat seseorang dalam ukuran itu balik menatapku," tuturnya. Saat masih obesitas, Emily kesulitan mendapatkan baju olahraga yang pas untuknya. Pengalaman masa lalu itu jelas takkan bisa terlupakan begitu saja.

Saat ini sudah ada banyak kampanye body positivity yang memberi pengaruh baik dalam meningkatkan rasa percaya diri masing-masing perempuan. "Terlepas dari ukuran tubuh, kita semua harus belajar bahwa mencintai diri sendiri berasal dari dalam. Hanya karena aku menurunkan berat badanku saat kuliah, bukan berarti aku mencintai tubuhku tanpa syarat. Butuh banyak upaya dan termasuk waktu untuk memindahkan rasa benci dan tak nyaman ke rasa mencintai. Meski aku tampak berbeda sekarang, bukan berarti aku berhenti berupaya," jelasnya.

Mengingat kembali yang terjadi pada tahun 2007, alasan Emily mengalami kegemukan adalah karena dia merasa tak ada yang memahaminya. Kedua orangtuanya bercerai dan dia melampiaskan emosinya melalui makanan. Alih-alih membicarakan masalahnya atau mencari bantuan, dia memilih untuk menghabiskan banyak camilan di ruang belajarnya selama berhari-hari.

Proses mencintai diri sendiri memang tidak selalu mudah. Ada saatnya kita akan merasa kembali tertekan atau frustrasi. Tak apa untuk merasa sedih kembali, tapi sedih secukupnya saja. Proses penerimaan diri akan selalu dihadapkan pada sejumlah tantangan. Penting untuk lebih jujur dan terbuka serta tetap mengupayakan yang terbaik memperbaiki diri dari waktu ke waktu.

"Aku di sini ingin bilang bahwa tak apa merasa kesulitan karena yang lain juga merasakannya juga (termasuk aku). Sementara semua orang memuji body positivity, aku di sini membahas soal pentingnya menerima tubuh apa adanya. Mungkin itu yang semestinya kita semua perjuangkan," ujar Emily.

#ChangeMaker

;
Loading